oleh

Gen Z: Tenggelam Dalam Kecemasan atau Bangkit Memimpin Perubahan?

Oleh: Heni Ruslaeni( Aktivis Muslimah )

Generasi Z (Gen Z) adalah generasi yang lahir dan tumbuh bersama internet. Mereka hidup di era digital yang memungkinkan segala sesuatu diakses hanya melalui layar telepon genggam. Dunia berada dalam genggaman mereka. Namun, kemudahan itu ternyata tidak otomatis menghadirkan ketenangan.
Di balik unggahan yang terlihat bahagia di media sosial, banyak anak muda sesungguhnya sedang berjuang menghadapi tekanan yang tidak terlihat. Mereka dibebani tuntutan untuk sukses sejak usia muda, memiliki karier yang mapan, berpenghasilan tinggi, tampil sempurna, serta mampu mengikuti standar kehidupan yang terus berubah.

Akibatnya, tidak sedikit yang merasa gagal bahkan sebelum benar-benar memulai perjalanan hidupnya. Mengapa generasi yang hidup di era paling maju justru menjadi generasi yang paling cemas? Pertanyaan ini layak diajukan ketika berbagai laporan dan survei menunjukan meningkatnya gangguan kesehatan mental di kalangan generasi muda. Ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Berbagai negara di dunia menghadapi persoalan serupa. Karena itu, meningkatnya gangguan mental pada Gen Z tidak bisa dipandang sebagai persoalan individu semata. Jika jutaan anak muda mengalami kegelisahan yang sama, maka ada persoalan yang lebih besar daripada sekadar masalah pribadi. Ada sesuatu yang salah dalam sistem kehidupan yang sedang menaungi mereka.

Hari ini generasi muda hidup di tengah berbagai krisis yang datang secara bersamaan. Krisis ekonomi membuat biaya hidup semakin tinggi sementara lapangan pekerjaan semakin kompetitif. Krisis sosial melahirkan individualisme dan renggangnya hubungan antar manusia. Berbagai konflik global dan ketidakpastian masa depan semakin menambah beban psikologis generasi muda. Merekalah kelompok yang paling merasakan dampaknya. Mereka diajarkan bahwa kerja keras adalah kunci kesuksesan, tetapi menyaksikan kenyataan bahwa kerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan.

Di saat yang sama, media sosial terus menampilkan kehidupan yang tampak sempurna. Setiap hari mereka melihat pencapaian orang lain, kemewahan, popularitas, dan berbagai standar kesuksesan yang seolah wajib diraih. Tanpa disadari, lahirlah budaya membandingkan diri secara terus-menerus. Kehidupan nyata yang penuh keterbatasan dibandingkan dengan kehidupan digital yang telah melalui proses pencitraan. Namun, menyalahkan media sosial semata tentu terlalu sederhana. Media sosial hanyalah salah satu wajah dari persoalan yang lebih mendasar. Akar persoalan sesungguhnya terletak pada sistem kehidupan yang saat ini mendominasi dunia, yaitu sistem sekuler kapitalisme. Kesuksesan diukur dari jumlah kekayaan, jabatan, popularitas, serta pencapaian duniawi yang berhasil diraih. Sejak kecil manusia dididik untuk terus bersaing. Harus menjadi yang terbaik. Harus lebih unggul dari orang lain. Harus lebih kaya. Harus lebih terkenal.

Ketika berhasil, seseorang takut kehilangan apa yang dimilikinya. Ketika gagal, ia merasa tidak berharga. Tidak ada titik akhir yang menghadirkan ketenangan. Lebih jauh lagi, sekularisme telah memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya ditempatkan dalam ruang privat dan ritual ibadah, sementara aturan kehidupan diserahkan sepenuhnya kepada akal manusia yang terbatas. Sebabnya, manusia kehilangan jawaban atas pertanyaan paling mendasar dalam hidupnya: untuk apa ia hidup? Manusia mungkin memiliki banyak fasilitas, tetapi kehilangan makna. Memiliki banyak hiburan, tetapi kehilangan ketenangan. Memiliki ribuan teman di dunia maya, tetapi merasa kesepian dalam kehidupan nyata. Meski demikian, di balik meningkatnya kecemasan tersebut tersimpan sebuah harapan besar. Mereka mulai mempertanyakan mengapa kehidupan semakin sulit, mengapa ketimpangan ekonomi terus melebar, mengapa kerusakan moral semakin meluas, dan mengapa berbagai krisis seolah tidak pernah selesai.

Kesadaran ini merupakan bentuk resistensi. Resistensi adalah kesadaran bahwa ada kerusakan yang harus diperbaiki dan ada sistem yang perlu dikoreksi. Di sinilah sesungguhnya tersimpan potensi besar Gen Z. Mereka bukan generasi yang lemah Mereka adalah generasi yang sedang hidup di tengah berbagai kerusakan sistemik. Apa yang sering disebut sebagai kecemasan sesungguhnya dapat menjadi titik awal lahirnya kesadaran yang lebih besar. Dari kesadaran lahir kepedulian. Dari kepedulian lahir keberanian untuk mencari solusi. Dan dari keberanian itulah lahir perubahan. Di tengah kebingungan manusia mencari jalan keluar, Islam hadir memberikan jawaban yang menyeluruh. Islam tidak memandang manusia sekadar sebagai makhluk ekonomi yang tugasnya mengejar materi. Islam menjelaskan bahwa manusia adalah hamba Allah SWT yang diciptakan dengan tujuan yang jelas, yaitu beribadah kepada-Nya dan menjalani kehidupan sesuai aturan-Nya. Pemahaman inilah yang melahirkan ketenangan.

Ketika seorang pemuda memahami tujuan penciptaannya, ia tidak akan menggantungkan kebahagiaan pada jumlah pengikut di media sosial, besarnya penghasilan, atau pengakuan manusia. Ia memahami bahwa ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah ridha Allah SWT. Islam juga tidak hanya menawarkan solusi spiritual, tetapi solusi kehidupan secara menyeluruh. Islam membangun kepribadian yang kokoh melalui akidah yang kuat. Islam membentuk pola pikir yang benar dalam memandang kehidupan. Islam mendorong penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan umat.

Sejarah membuktikan bagaimana Islam mampu melahirkan generasi muda yang luar biasa. Imam Syafi’i telah menjadi ulama besar sejak usia muda. Mereka tumbuh dalam sistem pendidikan Islam yang membangun keimanan sekaligus kecemerlangan intelektual. Di sisi lain, Islam menempatkan negara sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (pelindung) rakyat. Negara bertanggung jawab menjaga generasi, menyediakan pendidikan yang berkualitas, menciptakan lingkungan sosial yang sehat, membuka akses terhadap kebutuhan pokok, serta melindungi masyarakat dari berbagai kerusakan pemikiran dan perilaku.Karena itu, solusi atas krisis yang dialami Gen Z hari ini tidak cukup hanya dengan seminar motivasi, kampanye kesehatan mental, atau ajakan berpikir positif.

Semua itu mungkin membantu meredakan gejala, tetapi tidak menyentuh akar persoalan. Yang dibutuhkan adalah perubahan mendasar yang mampu mengembalikan tujuan hidup manusia, membangun jati diri yang kokoh, serta menghadirkan sistem kehidupan yang sesuai dengan fitrah manusia. Gen Z bukan generasi yang hilang arah. Mereka adalah generasi yang sedang mencari arah. Mereka bukan generasi yang lemah. Mereka adalah generasi yang hidup di tengah tekanan luar biasa akibat krisis yang diciptakan sistem kehidupan saat ini. Kecemasan yang mereka rasakan tidak boleh berakhir menjadi depresi yang mematikan potensi. Kecemasan harus diubah menjadi kesadaran. Kesadaran harus melahirkan kepedulian. Dan kepedulian harus melahirkan gerakan perubahan. Gen Z hari ini memiliki potensi harus diarahkan untuk mengemban mabda Islam, peduli terhadap persoalan umat, serta turut memperjuangkan perubahan yang hakiki.

Dengan cara itulah mereka tidak hanya menjadi penonton sejarah, tetapi menjadi pelaku perubahan yang akan melahirkan peradaban yang lebih adil, menenteramkan, dan bermartabat. Sebab masa depan yang cerah tidak akan lahir dari generasi yang tenggelam dalam kecemasan. Masa depan yang cerah hanya akan lahir dari generasi yang menjadikan Islam sebagai pijakan hidup dan bergerak menghadirkan perubahan bagi umat manusia. Maka pertanyaannya bukan lagi mengapa Gen Z banyak mengalami kecemasan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: akankah kecemasan itu membuat mereka tenggelam dalam depresi, atau justru menjadi titik awal kebangkitan mereka sebagai generasi pengubah peradaban? Waallahhu’ alam bishawab.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *