oleh

Guru Takut Tegur Murid Merokok? Dilema HAM VS Disiplin Hancurkan Wibawa Pendidik

Oleh : Sri M Awaliyah (Guru.SD di Kab. Bandung)

Sebuah potret yang mengiris hati dari dunia pendidikan Indonesia kembali menjadi sorotan tajam. Foto seorang siswa SMA di Makassar berinisial AS, yang dengan santainya merokok dan mengangkat kaki di samping gurunya, Ambo menyebar cepat di jagat maya. Insiden ini bukan sekadar cerita tentang kenakalan remaja, melainkan sebuah dilema besar yang dihadapi para pendidik di era modern. Di satu sisi, ada guru yang ragu bertindak karena takut dicap melanggar HAM. Di sisi lain, ada pendidik yang memilih jalur kekerasan, seperti kasus kepala sekolah di Banten yang menampar muridnya karena ketahuan merokok. Dalam klarifikasinya kepada Dinas Pendidikan Makassar, Ambo sang guru dalam foto viral tersebut, memberikan penjelasan yang justru menyoroti betapa rumitnya posisi pendidik saat ini. Ia mengaku tidak menyadari muridnya memegang rokok karena fokusnya teralihkan pada permintaan AS untuk diajari membaca puisi. (Suara.com/news)

Guru menghadapi dilema saat ini karena dihadapkan pada kedisiplinan atau pembiaran, juga berisiko berhadapan dengan hukum. Bukan hanya guru Ambo dan Bu Dini, banyak guru yang berujung pada pelaporan hanya karena orangorangtua siswa tidak menerima anaknya ditegur atau didisiplinkan oleh pihak sekolah. Guru menjadi lebih was was dan waspada. Jika bersikap tegas khawatir kebablasan bertindak keras. Insiden siswa merokok di sekolah, hilangnya wibawa guru, dan krisis moral generasi sesungguhnya merupakan akibat dari berkiblatnya sistem kehidupan pada ideologi sekuler liberal. Output Pendidikan sekuler menghasilkan generasi niradab, baik kepada guru maupun orangtua. Pergantian kurikulum pun nyatanya tidak mampu membendung derasnya sekularisasi yang menjauhkan aturan Islam dari kehidupan. Penanaman Pendidikan karakter yang selalu digaungkan di institusi Pendidikan juga tidak memberikan dampak positif. Masalah didunia Pendidikan makin pelik dan generasi justru tumbuh sebagai pribadi problematik. Bukan hanya merokok sebagai ajang gagah-gagahan, kadang kala kepedulian dan empati turut hilang. Mereka menjadi generasi pembully, suka menghina dan berkata kasar.

Oleh karena itu, untuk menyelamatkan generasi dari krisis dan degradasi moral tentu membutuhkan peran berbagai pihak, yaitu keluarga sebagai pilar pertama Pendidikan, sekolah dan Masyarakat sebagai pilar kedua dalam membentuk kebiasaan serta mencegah kemaksiatan dan perilaku buruk dan negara sebagai pilar ketiga melindungi generasi dari berbagai bahaya, baik pemikiran, budaya maupun segala hal yang merusak tatanan kehidupan sosial dan pergaulan generasi. Proses Pendidikan dan membimbing generasi memang membutuhkan penanaman akidah, ketegasan, serta kedisiplinan agar kehidupan mereka terarah sesuai pedoman Allah Taala. Namun Pendidikan tersebut harus dilakukan dengan pemahaman yang baik tanpa bertindak keras dan berlebihan, seperti kekerasan fisik dan sejenisnya. Segala bentuk kekerasan tidak dibenarkan sehingga butuh Pendidikan yang menjadikan remaja paham siapa dirinya dan arah hidupnya. Itulah sistem Pendidikan berbasis akidah Islam.

Dalam perspektif Islam, guru merupakan agen perubahan yang mendorong lhahirya generasi unggul, berilmu dan beriman. Sejarah telah mencatat, pada masa kejayaan Islam para guru berhasil melahirkan murid-murid yang tidak hanya cemerlang secara intelektual, tetapi juga memiliki keteguhan iman yang tinggi. Para ulama dan ilmuwan muslim terdahulu mengabdikan ilmu mereka sepenuhnya untuk kemaslahatan umat. Mereka bukan generasi yang berorientasi materi, melainkan genarasi yang mampu menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat secara proporsional sesuai tuntunan syara. Dalam Islam tidak ada kebebasan mutlak, setiap individu muslim terikat dengan aturan syariat Islam. Sistem Pendidikan sekuler saat ini memberikan ruang kebebasan tanpa batas yang telah terbukti gagal mencetak peserta didik yang bertakwa dan berakhlak mulia. Syekh Taqiyuddin an Nabhani dalam kitab Nizham Al Islam menjelaskan bahwa akhlak merupakan hasil dari pelaksanaan perintah-perintah Allah SWT, yang dapat dibentuk dengan cara mengajak Masyarakat kepada akidah dan melaksanakan Islam secara sempurna. Oleh karena itu, untuk mewujudkan generasi bertakwa, berkepribadian Islam dan berakhlak mulia harus menjadikan Islam sebagai kurikulum dasar pada semjua jenjang pendidikan.

Wallahu a’lam bishowwab

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *