Drs. H. Sukadi, M.I.L.,
(Guru SMA Negeri 1 Bandung, Jawa Barat)
Kepala sekolah seharusnya berperan sebagai pejabat profesional pendidikan yang bekerja berdasarkan regulasi, standar mutu, dan etika pelayanan publik. Namun, di banyak daerah—termasuk di Jawa Barat—kedudukan kepala sekolah tidak jarang terganggu oleh intervensi politik lokal, LSM yang tidak kredibel, dan kelompok kepentingan yang memanfaatkan jabatan kepala sekolah untuk tujuan non-pendidikan. Berikut diuraikan dampak buruk yang paling signifikan.
- Terganggunya Independensi Pengambilan Keputusan
Ketika kepala sekolah berada di bawah tekanan politik (misal dari oknum pejabat daerah, anggota legislatif lokal, tokoh parpol, atau jejaring kepentingan), keputusan strategis sekolah sering tidak lagi berbasis data dan kebutuhan pendidikan.
Dampaknya:
- Alokasi anggaran sekolah (BOS, BOPD, bantuan fisik) diarahkan pada proyek-proyek yang “dititipkan” pihak luar.
- Mutu pembelajaran tidak menjadi prioritas karena energi tersita untuk mengelola tekanan eksternal.
- Kepala sekolah ragu mengambil keputusan tegas, terutama dalam penataan guru, pembagian tugas, dan disiplin pegawai.
Di beberapa kabupaten/kota di Jawa Barat, fenomena “penitipan proyek” atau “lobi jabatan” dilaporkan sebagai penyebab ketidakstabilan kepemimpinan sekolah.
- Timbulnya Praktik Transaksional dalam Pengangkatan dan Rotasi Kepala Sekolah
Intervensi politik bisa masuk dalam proses mutasi, promosi, dan rotasi kepala sekolah. Ada situasi ketika kepala sekolah merasa harus “bermain aman” terhadap kekuatan tertentu karena posisi mereka terancam.
Dampaknya:
- Kepala sekolah tidak fokus pada peningkatan mutu, tetapi pada “menjaga hubungan” dengan aktor politik.
- Pemimpin yang sebenarnya kompeten tersingkir, diganti oleh orang yang lebih dekat dengan kekuasaan.
- Sekolah kehilangan kesinambungan program jangka panjang karena pergantian kepemimpinan tidak didasarkan pada kinerja.
Kondisi seperti ini tercatat di beberapa laporan pengawasan pendidikan di Jawa Barat, terutama tahun-tahun menjelang pemilihan kepala daerah.
- Tekanan terhadap Pengelolaan Anggaran Sekolah
Kepala sekolah sering menjadi sasaran empuk karena mengelola anggaran yang cukup besar (BOS, BOPD Jawa Barat, hibah fisik, bantuan DAK).
Intervensi bisa berupa:
- “Permintaan” dari oknum LSM berbalut isu investigasi yang ujungnya meminta kompensasi.
- Titipan vendor proyek pembangunan.
- Tekanan untuk menunjuk penyedia barang/jasa tertentu.
Dampaknya:
- Risiko kriminalisasi terhadap kepala sekolah meningkat.
- Penggunaan dana sekolah menjadi tidak optimal.
- Laporan keuangan terkontaminasi manipulasi, memicu audit bermasalah.
Beberapa kepala sekolah di Jawa Barat pernah mengalami intimidasi oleh LSM abal-abal yang mengancam akan mem-“viralkan” kasus, padahal tidak ada pelanggaran.
- Munculnya Iklim Kerja Tidak Sehat dan Tidak Aman
Intervensi eksternal menciptakan suasana kerja yang penuh ketakutan, terutama jika tekanan dilakukan melalui:
- ancaman laporan ke polisi,
- ancaman pemberitaan negatif,
- penyanderaan isu-isu tertentu,
- unjuk rasa yang digerakkan pihak berkepentingan.
Dampaknya:
- Guru menjadi terpecah: ada yang pro, kontra, atau ikut salah satu kelompok politik/LSM.
- Kepala sekolah sulit menjalankan fungsi pembinaan karena wibawa dan otoritas terkikis.
- Budaya sekolah tidak stabil: konflik internal meningkat.
Banyak pengawas dan kepala sekolah di Jawa Barat mengakui bahwa tekanan dari ormas/LSM tertentu memengaruhi kenyamanan bekerja.
- Fokus Kepemimpinan Bergeser dari Pendidikan ke “Manajemen Krisis Politik”
Alih-alih mengembangkan guru, menguatkan instruksi pembelajaran, dan memastikan capaian siswa meningkat—kepala sekolah malah disibukkan dengan:
- menghadapi surat-surat somasi,
- klarifikasi laporan ke dinas,
- mediasi dengan LSM,
- rapat bersama tokoh politik lokal.
Dampaknya:
- Pembinaan guru tidak berjalan.
- Supervisi kelas tidak dilakukan secara optimal.
- Program sekolah tertunda atau terhenti.
- Mutu layanan pada siswa menurun.
- Reputasi Sekolah Terancam dan Kepercayaan Masyarakat Menurun
Ketika konflik politik atau tarik-menarik kepentingan mencuat ke publik, nama sekolah ikut tercoreng.
Dampaknya:
- Orang tua kehilangan kepercayaan terhadap integritas sekolah.
- Sekolah dianggap sarang konflik atau permainan politik.
- Prestasi dan citra sekolah sulit berkembang meskipun guru-gurunya sebenarnya berkualitas.
- Kepala Sekolah Berpotensi Menghadapi Kriminalisasi atau Serangan Hukum
Tidak sedikit kasus ketika kepala sekolah dilaporkan atas isu yang sebenarnya administratif atau teknis, namun dipolitisasi.
Contoh klasik:
- Kesalahan teknis BOS dipelintir menjadi kasus “korupsi”
- Surat kuasa, MoU, atau dokumen pembelian dijadikan alat tekanan
- Laporan ke aparat dilakukan berulang kali oleh kelompok kepentingan untuk melemahkan kepala sekolah
Dampaknya:
- Kepala sekolah stres, mengalami kelelahan mental, dan enggan mengambil keputusan inovatif.
- Banyak kepala sekolah memilih “aman” dengan tidak berbuat apa-apa.
- Efektivitas kepemimpinan menurun drastis.
- Menghambat Reformasi Pendidikan di Tingkat Sekolah
Intervensi politik dari luar sekolah mematikan inovasi karena kepala sekolah takut keputusan mereka akan diganggu pihak luar.
Dampaknya:
- Program Kurikulum Merdeka sulit berjalan optimal.
- Penerapan budaya positif terganggu oleh tekanan pihak luar.
- Transformasi digital dan pendidikan karakter menjadi tidak fokus.
- Kemitraan sekolah dengan dunia usaha/dunia industri sering terhambat oleh kepentingan tertentu.
Pada akhirnya, siswa adalah pihak yang paling dirugikan.
Kesimpulan
Intervensi politik dan tekanan LSM yang tidak profesional menggerogoti otoritas, integritas, dan efektivitas kepala sekolah. Kondisi ini membuat kepala sekolah:
- kehilangan independensi,
- rentan terhadap kriminalisasi,
- bekerja dalam iklim penuh tekanan,
- tidak mampu menjalankan peran pedagogis dan manajerial secara optimal,
- dan pada tingkat paling serius, mengganggu mutu pendidikan dan perkembangan siswa.
Untuk Jawa Barat, fenomena ini telah berulang selama bertahun-tahun, terutama pada fase-fase menjelang siklus politik. Karena itu, perlindungan hukum, tata kelola seleksi, dan sistem pengaduan berbasis data harus diperkuat agar kepala sekolah dapat fokus pada tugas utamanya: meningkatkan mutu pendidikan.
(Tulisan ini dikembangkan oleh penulis dengan bantuan Chat GPT)










Komentar