(Koran SINAR PAGI)-, Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kecamatan Katapang bekerjasama dengan Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama / MWC NU Kecamatan Katapang menjalankan program rutin ngaji berbagai kitab.
Kitab yang rutin dikaji yaitu Nashoihul Ibad, Uqudul Lujen, Tafsir Yasin, Fathul Qorib dan Mabadi Awaliyah bersama pemateri Ketua LBM MWC NU Katapang, Ustadz Purkon S.Hi.,
Kajian berlangsung setiap hari rabu / malam kamis bada isya di masjid Annur Hidayah Kp Wates, Desa Banyusari dan terbuka untuk jamaah serta jam’iyah Nahdlatul Ulama atau santri lainnya yang ingin mempelajari kitabnya.
Pada malam rabu yang lalu, Ustadz Purkon S.Hi., ketika membahas kitab Nashoihul Ibad, karya Syekh Nawawi Al Bantani membahas tentang perjalanan hidup dan pengalaman rohani yang sangat luar biasa dari tokoh sufi.
Seperti yang dialami Syekh Abu Bakr As-Syibli. Wali yang memiliki nama lengkap Dulaf bin Jahdar ini lahir dan hidup di Kota Baghdad selama 87 tahun. Bukan hanya selama hidupnya, beliau pun meninggal dan dikuburkan di kota yang sama pada tahun 334 H.

Kisah ini mengingatkan kita tentang pentingnya dan keberkahan dari istiqomah dalam mengamalkan ibadah.
Dalam kitab Nashaihul ‘Ibad, Syekh Nawawi Al Bantani mengungkapkan kisah menarik tentang wali yang akrab disapa As-Syibli. Suatu ketika As-Syibli datang menemui Ibnu Mujahid. Melihat ada seorang ulama besar yang datang Ibnu Mujahid segera bangun dan menyambut hangat kedatangan As-Syibli. Ia rangkul dan peluk sang tamu sembari mencium kening di antara kedua matanya.
Melihat perlakuan yang dilakukan Ibnu Mujahid kepada As-Syibli ini seseorang bertanya, “Mengapa engkau lakukan ini pada As-Syibli wahai Ibnu Mujahid?”. Atas pertanyaan ini Ibnu Mujahid menjawab, “Kulakukan itu karena aku melihat di dalam mimpi Rasulullah melakukan hal serupa kepada As-Syibli,”.
Setelah itu, Ibnu Mujahid bercerita bahwa ia pernah bermimpi melihat As-Syibli datang menemui Rasulullah. Melihat kedatangan As-Syibli, Rasulullah segera menyambut dengan memeluknya seraya mencium kening di antara kedua matanya.
Melihat pemandangan itu Ibnu Mujahid di dalam mimpinya bertanya kepada Rasul, “Mengapa engkau lakukan ini kepada As-Syibli wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Ya, aku lakukan itu kepada As-Syibli, karena ia tidak melakukan shalat fardhu kecuali setelahnya ia selalu membaca ayat laqad jâakum Rasûlun min anfusikum….(dua ayat terakhir dari surat At-Taubah).
Kemudian setelahnya As-Syibli bershalawat dengan mengatakan shallallâhu ‘alaika yâ Muhammad.”
Setelah mimpi itu Ibnu Mujahid bertemu dengan As-Syibli dan menanyakan bacaan apa yang selalu dibaca ketika selesai melakukan shalat fardhu. Dan ternyata As-Syibli menjawab bahwa ia selalu membaca ayat dan shalawat tersebut di atas setiap kali selesai shalat fardhu.
Ayat tersebut yaitu bagian dari surat at-Taubah ayat 128-129 :
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ فَإِن تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
“Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman. Maka jika mereka berpaling (dari keimanan), katakanlah (Muhammad), “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy (singgasana) yang agung.








Komentar