oleh

Merutinkan Berpikir 3 Kali Sebelum Bersikap

Penulis: Dwi Arifin (Duta Baca Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Barat)

Masyhur terdengar oleh umat islam nasihat dari Sayyidina Umar radhiyallahu ‘anhu:

   حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، فَإِنَّهُ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ فِي الْحِسَابِ غَدًا أَنْ تُحَاسِبُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ،

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Sesungguhnya akan lebih ringan bagi kalian di hari perhitungan kelak, jika kalian menghisab diri kalian hari ini”

Berhubungan dengan nasihat tersebut, dapat dipraktekan dengan merutinkan berpikir 3 kali sebelum bersikap (berkata, berbuat atau memilih). Berpikir tentang sebelum, saat dan setelah berbuat sesuatu. Berpikir untuk kebaikan hari ini, kebaikan hari esok hingga kebaikan di Akhirat.

Hal paling penting lainnya ialah berpikir untuk kebaikan diri, kita dan orang lain atau mereka. Terkadang karena egoisme diri atau kelompok, sering kita hanya berpikir untuk kebaikan diri, atau orang terdekat, tanpa memikirkan mereka.

Sehingga hal itu dapat menumbuhkan konflik di kemudian hari, antara kita dengan mereka. Disebabkan, mereka oleh kita tidak dipedulikan atau tidak dipikirkan tentang kebaikan / bersikap adil untuk mereka. Konflik juga sering muncul ketika kita ngobrol bersama orang-orang atau lebih dari 3-5 orang, tetapi kita merendahkan 1 orang atau tidak mengajak ngobrol dia.

“Sesungguhnya akan lebih ringan bagi kalian di hari perhitungan kelak, jika kalian menghisab diri kalian hari ini”

Dilansir dari NU Online, dikisahkan bahwa suatu ketika Rasulullah Saw menghentikan khutbahnya secara tiba-tiba. Kemudian Rasulullah Saw bersabda:

“Dengarkan langkah seorang ahli penghuni surga akan datang.”

Kemudian para sahabat semuanya terdiam. Lalu muncullah seorang pemuda yang dimaksud oleh Rasulullah Saw tersebut.

Sayyidina Ali yang ada di majelis tersebut pun penasaran dengan siapa sosok pemuda tersebut, sehingga Rasulullah Saw menyebutnya sebagai ahli Surga dan bertanya.

“Wahai fulan siapakah engkau sebenarnya, sehingga Rasul menyebut Anda sebagai ahli Surga?” kata Sayyidana Ali bertanya kepada pemuda tersebut.

“Tapi saya lihat saudara beramal biasa-biasa saja, apa sih amal yang Anda lakukan, sehingga Rasul menyebut Anda ahli surga?” tanya Sayyidina Ali lebih lanjut.

Pemuda tersebut kemudian menjawab.  “Saya baca Qur’an tidak sebaik engkau, saya ibadah tidak se-khusuk engkau, saya beramal juga tida sebaik engkau, tapi saya punya satu amalan yang istiqamah saya lakukan, yaitu sebelum tidur saya suka memaafkan kesalahan orang lain yang menyakiti saya,” jawab pemuda tersebut.

Jika dihubungkan dengan nasihat Sayyidina Umar radhiyallahu ‘anhu, maka memaafkan atau bahkan mendoakan kebaikan untuk orang lain yang menyakiti kita bagian dari meringankan bahkan menghapus proses hisab antara kita dengannya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *