oleh

Pembangunan Jalan di Bandung Selatan Bukan Solusi Tepat untuk Rakyat

Oleh : Sri M Awaliyah (Guru SD di kab. Bandung)

Tingginya jumlah wisatawan ke Kabupaten Bandung memunculkan wacana pembangunan infrastruktur transportasi baru. Untuk mengatasi kemacetan parah, Bupati Bandung Dadang Supriatna berencana membangun jalan tol Soreang-Ciwidey-Pangalengan serta kereta gantung. Kedua proyek ini diharapkan tidak hanya mengurai kemacetan, tetapi juga menjadi daya tarik wisata dan pendorong ekonomi baru. Bupati Dadang Supriatna menjelaskan, jumlah wisatawan di Kabupaten Bandung melonjak hingga 300 persen dalam empat tahun terakhir. Jika pada 2020 ada sekitar 2 juta kunjungan, angka tersebut meroket menjadi 7 juta pada 2024. Peningkatan ini berdampak pada kemacetan yang kian parah, terutama di kawasan wisata Bandung Selatan. Untuk itu, Pemkab Bandung menilai diperlukan akses baru yang modern. Rencana pembangunan tol Soreang-Ciwidey-Pangalengan diharapkan dapat memperlancar arus kendaraan, sementara kereta gantung akan menjadi moda transportasi alternatif yang ramah lingkungan. Proyek ini juga diharapkan dapat mendorong investasi dan pariwisata, sehingga memacu perekonomian lokal. (jabar.tribunnews.com)

Jalan mempunyai peranan penting terutama yang menyangkut perwujudan perkembangan antar wilayah yang seimbang, pemerataan hasil pembangunan serta pemantapan pertahanan dan keamanan wilayah dalam rangka mewujudkan pembangunan negara. Salah satu kisah Kekhilafahan Umar bin Khattab yang merasa khawatir jika ada hewan atau keledai (hewan yang terkenal bodoh karena sering terperosok dilubang yang sama) terluka akibat jalanan yang rusak. Karena ketakutan Umar akan pertanyaan Allah Subhanahu wa taala, “Mengapa tidak engkau sediakan jalan yang rata” akan ditanyakan padanya, sebagai seorang khalifah. Bagaimana jika yang menjadi korban adalah manusia dimana berharga nyawa manusia dalam Islam. Tidak sedikit kecelakaan akibat jalan berlubang terjadi. Tentu saja ini kelalaian pemimpin. Rasa takut kepada Allah terhadap amanah yang diemban seorang pemimpin harus menjadi asas dalam meriayah umat. Pemimpin adalah pelayan umat yang menjaga keselamatan, kesehatan dan kenyamanan dalam keamanan dalam kepentingan umum.

Kebalikannya dalam sistem sekuler kapitalis saat ini , pemerintah akan membangun infrastruktur jalan jika ada keuntungan ekonomi dengan skema investasi. Jika ada investor (pemilik modal) yang berkepentingan untuk berinvestasi di suatu wilayah, negara akan membangun infrastruktur transportasi yang mulus. Ini tidak lepas dari simbiosis mutualisme antara penguasa dan pengusaha, yakni dalam setiap investasi oleh pemilik modal akan ada keuntungan pribadi bagi penguasa. Selain itu, infrastruktur yang dibangun tentu hanya yang menguntungkan. Sedangkan infrastruktur yang dianggap tidak menguntungkan, tidak akan dibangun, meski sebenarnya penting bagi rakyat. Negara gagal dalam mengurus rakyat, karena aturan yang diterapkan saat ini yaitu sekuler kapitalisme. Penguasa hanya menempatkan diri sebagai fasilitator dan regulator yang ditujukan hanya untuk kepentingan bagi para pemilik modal dalam berbisnis. Sehingga, pemenuhan yang seharusnya buat rakyat, harus memakai hitungan untung rugi.

Inilah perbedaan pembangunan jalan dalam sistem Islam dan sistem kapitalisme. Saatnya kita kembali kepada sistem Islam dan menghempaskan aturan buatan manusia yang sudah seharusnya di rubah. Hanya aturan Allah saja yang sempurna, karena Allah SWT, yang menciptakan manusia yang Maha Tahu akan kebutuhan ciptaan-Nya. Tidak lain aturan sempurna ini hanya Islam, yang mampu memberikan hak rakyat dari segi kualitas dan kuantitas memadai dengan tujuan mempermudah sarana dan prasarana, aturan dalam Islam, tidak bergantung pada pihak asing, dan tidak memperhitungkan keuntungan, karena pemimpin dalam Islam tahu betul bahwa amanah kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Wallahu a’lam bishowwab
Oleh : Sri M Awaliyah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *