Pewarta : Anis
Koran SINAR PAGI, DEPOK,- Sehari tanpa layar. Sehari penuh tawa, lari, dan congklak. Inilah semangat yang dibawa mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bina Sarana Informatika UBSI melalui kegiatan Mainology di Pesona Square, Sabtu (27/6/2026).
Gerakan “Sehari Tanpa Gadget” ini mengajak anak-anak SD kembali ke lapangan. Bermain permainan tradisional bersama teman sebaya, bukan dengan layar ponsel. Inisiatif ini mendapat apresiasi langsung dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana DP3AP2KB Kota Depok.
Kepala DP3AP2KB Kota Depok, Citra Indah Yulianty, menilai kegiatan ini langkah segar di tengah derasnya arus digital.
“Ini sebuah inovasi yang baru dan luar biasa. Harus ada yang memprakarsai. Ketika gerakan seperti ini datang dari kampus, mahasiswa, dan dosen yang peduli, tentu menjadi langkah yang sangat baik untuk mengajak anak-anak kembali bermain tanpa gadget, meskipun hanya sehari,” ujar Citra.
Baginya, kepedulian mahasiswa dan akademisi adalah bukti nyata bahwa isu tumbuh kembang anak bukan hanya urusan orang tua dan pemerintah.
Citra menjelaskan, Pemkot Depok memang sudah punya sejumlah program untuk anak. Mulai dari Ruang Bersama Indonesia RBI, Forum Anak, Forum GenRe, hingga Mobil Simora.
Semua program itu punya tujuan sama: mengenalkan kembali permainan yang menumbuhkan kreativitas dan sosialisasi. Seperti congklak, monopoli, bola bekel, lompat karet, dan permainan edukatif lainnya.
Tujuannya sederhana: agar anak tidak terjebak dalam satu dunia saja, yaitu dunia digital.
Selain memuji mahasiswa, Citra juga mengingatkan peran paling penting: orang tua di rumah.
“Kami menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi penggunaan gadget oleh anak. Pembatasan bisa dilakukan lewat kesepakatan bersama antara orang tua dan anak, serta pengawasan akun dan aktivitas digital, terutama untuk belajar,” jelasnya.
Artinya, teknologi boleh dipakai. Tapi harus ada batas, ada aturan, dan ada waktu untuk dunia nyata.
Citra berharap Mainology UBSI ini bukan yang terakhir. Ia ingin kampus-kampus lain di Depok ikut terinspirasi membuat gerakan serupa.
“Kami berharap ada kampus-kampus lain yang terinspirasi menghadirkan inovasi baru. Ini menunjukkan bukan hanya bidang pendidikan saja yang peduli, tetapi juga mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu,” ungkapnya.
Menurutnya, persoalan gadget berlebihan tidak bisa diselesaikan pemerintah sendiri. Dibutuhkan kolaborasi keluarga, kampus, sekolah, dan masyarakat.
“Kolaborasi seperti ini yang dibutuhkan untuk mewujudkan Depok sebagai Kota Layak Anak dan mendukung terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045.
Mungkin hanya sehari. Tapi sehari tanpa gadget bisa jadi pengingat: bahwa kebahagiaan anak tidak selalu ada di layar.
Kadang, ia ada di tawa saat kalah main congklak. Di keringat saat lompat karet. Di pelukan teman setelah menang bola bekel.
Karena Generasi Emas 2045, harus lahir dari anak-anak yang sehat, bersosial, dan punya masa kecil yang utuh, tutup Citra .








Komentar