Pewarta: Dwi Arifin
(Koran SINAR PAGI)-, Sebagai manusia memandang ke datangan Ramadhan terkadang menjadi beban, sebab tubuh yang biasa rutin menerima jadwal makan berat sehari 3 kali atau bahkan berkali-kali bebas menikmati makanan ringan di siang hari. Seolah-olah kondisi tubuh terasa saat berpuasa menjadi cenderung lemas.
Namun sebagai umat islam bulan Ramadhan cenderung dirindu kedatangannya oleh qolbu. Lalu bagaimana agar kerinduan itu menjadi modal untuk membangun momen terindah dan terbaik ketika menemui bulan Ramadhan.
Organisasi Jurnalis Independen Bersatu diwakili jurnalis Koran SINAR PAGI membuka interaktif bersama Ning Uswatun Hasanah, S.H.I., M.Pd., atau yang dikenal dengan nama pena Ning Uswah Syauqie penulis buku fiqih dan pengasuh pondok pesantren Al-Azhar Kota Mojokerto, Jawa Timur.
Hasil interaktif tersebut, diharapan menjadi referensi untuk membekali publik baca tentang berbagai upaya agar Ramadhan yang akan datang, dijalani dengan terbaik atau menjadi Ramadhan yang lebih baik dari sebelumnya.
Ning Uswatun Hasanah, S.H.I., M.Pd., menjelaskan bahwa Rajab, Syaban, dan Ramadhan adalah tiga bulan berurutan dalam kalender Hijriah yang menjadi rangkaian persiapan spiritual menyambut bulan puasa Ramadhan. Diibaratkan sebagai “menanam” (Rajab), “menyiram” (Syaban), dan “memanen” (Ramadhan) atau bulan berlipatan pahala, Ibarat itu mengarahkan umat islam agar mempersiapkan diri sebelum Ramadhan datang. Bukan ketika Ramadhan datang, baru memulai beramal, tanpa ada latihan atau persipan sebelumnya” jelasnya saat interaktif bersama media cetak dan online melalui sambungan telephone pribadinya (25/12/2025)
Rasulullah mengungkapkan “Seandainya umatku mengetahui apa (kebaikan/keutamaan) yang ada di bulan Ramadan, niscaya mereka akan berharap agar Ramadan berlangsung selamanya”
Rasa gembira dan semarak umat islam di Indonesia menyambut kedatangan bulan Ramadhan atau beberapa bulan sebelumnya, sebagai ungkapan rasa syukur ke datangannya.
“Maka untuk mengoptimalkan ibadah, kebersamaan di bulan Ramadhan harus dibangun. Misalnya kalau memasak tugas ibu, mencuci piring tugas anak-anak dan belanja tugas suami. Sebab sebagai perempuan atau ibu, kadang harus bangun paling pagi dan tidur paling akhir untuk memastikan apa yang diperlukan hari esok. Serta kadang perlu menjalankan rutinitas harian di luar rumah”, ucapnya penulis muda yang saat ini dianugrahi 5 anak laki-laki.

Hal utama lainnya dalam menjalankan puasa ialah bersabar ketika lapar dan bersyukur ketika berbuka. Karena banyak orang yang mampu atau berhasil bersabar ketika lapar di siang hari. Tetapi dalam bersyukur, ketika berbuka puasa saat waktu magrib jumlahnya sedikit. Kondisi seperti itu sering disebut-sebut dalam Al Qur’an.
إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ
Sesungguhnya Allah benar-benar melimpahkan karunia kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
Dan sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yang bersyukur.”
“Sebab jika lupa bersyukur. Justru prilaku serakah akan muncul dengan memakan berbagai macam apa yang ada dihadapannya melebihi batas yang diatur oleh islam atau contohnya pejabat yang sudah kaya, tetapi tetap korupsi” ungkapnya
Menurutnya kadang bersyukur ketika sedikit harta lebih mudah daripada bersyukur ketika harta melimpah. Misalnya ketika susah, hanya punya ayam 2, diminta satu kadang langsung diberikan. Tetapi ketika kaya, punya uang 100 juta, diminta 50 juta terasa lebih berat. Padahal kondisi keduanya sama-sama diminta setengahnya?… Maknanya, keserakahan manusia menjadi penghalang bersyukur.
Lebih lanjut Uswatun Hasanah, S.H.I., M.Pd., mengingatkan jika bulan Ramadhan telah datang atau saat latihan mempersiapkan diri menyambut Ramadhan. Pentingnya rutin menghisab diri sebelum dihisab, tentang amal sudah baik atau belum dan sudah masuk kriteria diterima atau tidak oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala.
Umar bin Khattab Radhiyallahu Ta’ala Anhu berkata :
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
“Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab”

Prakteknya dalam mengamalkan nasihat tersebut dapat dengan terbiasa mengevaluasi diri dari waktu sholat ke waktu sholat. Dari jam ke jam atau dari hari ke hari. Harus lebih fokus membentuk diri lebih baik dari kondisi sebelumnya, bukan membandingkan diri dengan orang lain.
Berpikir sebelum berbuat juga merupakan bagian dari menghisab amal. Perlakukan orang lain, sebagaimana engkau ingin diperlakukan. Jangan sampai menyakiti orang lain, kalau di negara maju ada human etika riset sebelum berkomunikasi dengan masyarakat. Walaupun kita harus tetap berpikir kritis.
Sedangkan prilaku buruk dalam masyarakat yang perlu dijauhi ialah mudah marah, mencaci, tidak suka orang lain bahagia atau bahkan menginginkan kebahagian orang lain hilang (hasud).
Uswatun Hasanah, S.H.I., M.Pd., juga membahas indikator lain amal Ramadhan diterima ialah hilangnya Nafsu Amarah dan Nafsu Lawamah dalam diri, kedua nafsu yang cenderung merusak diri atau merusak orang lain. Dan tumbuhnya Nafsu Mutmainnah yang mengarahkan kepada kebaikan dan ketentraman dalam diri, serta dapat memperbaiki lingkungannya.
“Ya ayyuhan nafsul muthmainnah, irji’i ila rabbiki radhiyatam mardhiyyah
Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridhai-Nya (surat Al-Fajr: 27-28).
Untuk mencapai proses itu, perlu dengan bersungguh-sungguh beramal sebagai modal pertemuan dengan Alloh.
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Surat Al-Kahf Ayat 110)










Komentar