oleh

‎Gelaran Festival Budaya Hiasi Milangkala Desa Sukatali Situraja ke 250

Pewarta : Jeky Epsa

‎Koran Sinar Pagi, Sumedang – Berpusat di Lapangan Sepak Bola Desa Sukatali Milangkala  Desa Sukatali, Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat  ke 250 digelar dengan menampilkan berbagai hasil pangan dan hewan yang ada di tiap – tiap lingkungan  RT dan RW serta juga hiburan bercorak Sunda jaipongan, Kamis ( 20/11/2025).

‎Dari tampilan di stand terlihat ada singkong, talas , kacang tanah, pisang , buah mangga dan juga hewan ternak seperti domba dan juga ayam jago.


‎” Ini merupakan Festival Budaya dalam rangka Milangkala Desa Sukatali yang ke 250 tahun,  dimana dalam milad ini ditampilkan berbagai potensi seni budaya dan hasil bumi yang ada di Desa Sukatali”,  ujar Kepala Desa Sukatali,  Edi Sujana , kepada Koran  Sinar Pagi, di lokasi kegiatan.

‎Selanjutnya ia pun  berharap dengan kegiatan  milangkala ini segala potensi yang ada di Desa Sukatali bisa ter ekspose juga desanya bisa lebih maju lagi, harap kepala desa penghasil Buah Sawo itu.

‎Dari sejarah, Desa Sukatali dulu pernah bergabung dengan Desa Ambit berrnama Desa Suka Ambit,  namun kembali berubah bernama Sukatali karena Wilayah Ambit jadi pemekaran desa dengan nama Desa Ambit.

‎” Dulu sejak tahun 1.777 nama Desamya bernama  Sukatali,  kemudian berubah  jadi Suka Ambit sejak  tahun 1920  saat Kepala Desanya Eyang Marhawi. Dan terakhir menjadi Sukatali lagi karena  pisah dengan  wilayah Ambit dan kembali bernama Desa Sukatali sejak  tahun 1985-an  saat  Kepala Desa nya Eyang Iding yang merupakan cucunya dari Eyang Marhawi”, ujar Ketua  BPD Sukatali, Ii Syamsuri.

‎Sementara itu menurut Ketua Panitia milangkala desa, Haris Hermanto, mengatakan acara milangkala desa ini berharap bukan hanya sekedar milangkala, tapi benar – benar merpakan kegiatan mapag karahayuan, kebahagiaan, kedamaian, keadilan, harmonisasi, hidup berdampingan dengan rukun sesama warga,

‎” Berharap tidak ada lagi perbedaan suku, atau asal usul keturunan, agama, stratifikasi sosial, bahasa, adat istiadat, ketika sudah tinggal di Desa Sukatali karena ada pemeo dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung”, ucap Haris.***











Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *