Penulis: Dwi Arifin (Staf Khusus Bidang Promosi dan Kerja Sama Majalah Risalah NU, Lajnah Ta’lif wan Nasyr, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama)
Peringatan Bulan Bahasa dan Sastra 2026 tidak hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan setiap Oktober. Di tengah gempuran media sosial, eksistensi media massa koran, majalah, radio, dan portal berita lokal, justru menemukan relevansi baru sebagai tambahan media pembelajaran yang hidup bagi pelajar, mahasiswa atau masyarakat.
Jika dulu siswa belajar bahasa atau berbagai ilmu dari buku paket dan kamus. Kini mereka tetap dapat belajar dari headline koran, tajuk rencana, hingga feature majalah di daerahnya. Fenomena itu menguat seiring dengan gerakan literasi yang didorong sekolah-sekolah di daerah, sebagai program jangka panjang melalui kebijakan Catur Pusat Pendidikan atau Trigatra Bangun Bahasa.

“Ketika anak-anak kita membaca koran, mereka tidak hanya belajar ejaan, tapi belajar logika, etika, dan cara berpikir runtut atau terstruktur. Sebab media massa mampu menjadi laboratorium bahasa atau ilmu yang mudah dipahami oleh berbagai pihak. Di sana siswa menemukan ragam ilmu, bahasa jurnalistik, bahasa sastra dalam kolom cerpen dan puisi, hingga bahasa persuasif dalam iklan. Anak-anak yang diminta menganalisis struktur teks berita, menemukan fakta dan opini, lalu menulis tanggapan. Dengan proses itu, mereka akan memiliki pengalaman baru daripada sekadar mengerjakan soal”

Kalau dirangkum, ada sedikitnya 5 peran nyata media massa dalam pembelajaran saat ini:
1. Sumber Kosakata Kontekstual
Berita daerah mengenalkan istilah-istilah lokal, nama geografis, hingga istilah pemerintahan desa hingga bahasa birokrasi yang jarang ada di buku pelajaran. Pelajar menjadi kaya kosakata bukan karena menghafal, tapi karena memahami konteks.
2. Mengasah Keterampilan Menulis
Rubrik opini pelajar, surat pembaca, dan esai di media massa menjadi panggung pertama bagi siswa untuk berani menulis. Dari sekadar pembaca, mereka naik kelas menjadi penulis.
3. Penjaga Sastra Lokal
Di saat algoritma media sosial lebih suka konten viral. Media massa lokal khsusunya yang berbahasa daerah tetap setia menyediakan ruang untuk puisi Sunda, carpon, dan sastra pesantren. Melalui publikasi tersebut sebagai upaya melestarikan kearifan lokal.
4. Media Pembelajaran Trigatra Bangun Bahasa
Media massa yang menyajikan karya jurnalistiknya dengan berbahasa Daerah, bahasa Inggris atau bahasa Indonesia akan melatih kemahiran dalam bahasa tersebut bagi para pembacanya.
5. Menjadi Referensi Tambahan Keilmuan yang Dipelajari
Media massa dengan produktifitas hariannya dalam hal publikasi berbagai ilmu pengetahuan dapat menjadi referensi tambahan keilmuan bagi para pelajar terhadap ilmu yang sedang dipelajarinya.

Bulan Bahasa & Sastra 2026 akhirnya memberi pesan penting, bahasa sebagai pintu sumber ilmu tidak hidup di dalam kelas saja. Namun hidup di warung kopi tempat koran dibaca, di gawai pelajar saat mereka membagikan berita baik dari desa, sekolah atau pesantrennya. Serta di setiap ruang tamu yang tersedia bahan bacaan koran, majalah atau tabloid sebagai teman di ruang tunggu.
“Ketika media massa dilibatkan sebagai mitra lembaga pendidikan. Maka sekolah tidak hanya mencetak pelajar yang pintar ujian. Tetapi juga warga yang terbiasa menerima informasi terbaru, pandai berkomunikasi dengan publik melalui tulisan atau mengenal cara berpikir atau karya nyata dari para narasumber yang ada di media massa”








Komentar