Penulis: Dwi Arifin (Ketua Lajnah Ta’lif wan Nasyr, Majalis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama / LTN MWC NU Katapang Kabupaten Bandung)
Ungkapan terkenal yang sering dinisbatkan kepada Imam Al-Ghazali dalam bahasa Arab:
لَوْ لَمْ تَكُنِ ابْنَ مَلِكٍ وَلَا ابْنَ عَالِمٍ، فَاكْتُبْ
(Law lam takun ibna malikin wa la ibna ‘aalimin, fa-uktub)
“Jika kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka menulislah.”
Nasihat dari ulama terdahulu yang sampai kepada umatnya atau para santri di pesantren wilayah Indonesia, menjadi fakta baru yang muncul dari setiap generasi yang mengamalkan nasihat tersebut.
Seperti yang dialami Ning Khilma Anis penulis novel best seller berjudul “Hati Suhita”. Selama 13 tahun lamanya, dirinya mencoba memahami dan mengamalkan nasihat itu.
Selama 7 bulan Ning Khilma Anis berhasil menulis novel Hati Suhita terdiri dari 33 bab atau lebih dari 405 halaman pada tahun 2019.
Setelah novel tersebut dicetak mencapai lebih dari 200 ribu buku dan ditayangan dalam bentuk film di layar lebar. Serta dirinya dianggap tokoh yang dipercaya untuk menyampaikan nasihat-nasihat dari tokoh asli Jawa terdahulu yang selama ini ditelusuri jejaknya dan dipahami hingga diamalkan maknanya.
Mulailah ingatan dirinya mengerucut kepada nasihat dari Imam Al Ghazali “Jika kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka menulislah.”
Anak raja yang dikelilingi harta dan ulama yang dimuliakan oleh ilmunya. Kedua hal itu dirasa bermunculan dari keberkahan menulisnya.
Sejak 2019 hingga saat ini 2026 atau selama 7 tahun, karya tulisnya menjadi pengantar kepada berbagai kesuksesan lainnya.








Komentar