oleh

Jejak 17 Tahun Majalah ANCAS, dari Banyumas Sampai ke Perpustakaan Negara Belanda dan Menuju Versi Online

Pewarta: Dwi Arifin

(Koran SINAR PAGI)-, Majalah ANCAS, media berbahasa Jawa Banyumasan, telah eksis setidaknya sejak tahun 2010. Media massa berbasis cetak yang berfokus pada pelestarian bahasa dan budaya Banyumas menggunakan bahasa Jawa dialek Banyumasan. Tahun ini majalah ANCAS pada bulan April merayakan usianya ke 17 tahun.

Sekertaris Redaksi Majalah Ancas Banyumas, Siti Rofikoh yang telah 15 tahun bekerja di media massa tersebut menjelaskan di masa yang akan datang Majalah ANCAS akan berupaya produktif atau masif mempublikasikan karya jurnalistik atau karya tulis yang dikelola oleh redaksi melalui publikasi media online.

“Sudah ada kerjasama khusus dengan perguruan tinggi Unsoed untuk media digitalnya. Targetnya melalui kehadiran media online tersebut, dapat menarik minat baca atau generasi mudanya ikut serta berperan untuk melestarikan budaya dan bahasa Banyumasan” jelasnya saat wawancara khusus bersama media cetak dan online melalui sambungan telephonenya, setelah merayakan pencapaian 17 tahun eksistensi majalahnya (4/4/2026)

Menurutnya walaupun nanti jika sudah ada media online pada bulan Mei atau Juni tahun ini, untuk setiap edisi cetaknya akan terus diupayakan hadir menyapa para pelanggannya.

Untuk terus meningkatkan kualitas majalahnya, pihak redaksi membuka saran masukan dari para pembacanya, serta menerima kiriman karya tulis dari mereka.

Dari perjuangannya selama puluhan tahun berkiprah mewujudkan visi melestarikan budaya dan sastra asli Banyumasan. Pihak redaksi berharap ada kepedulian khusus dari Kementrian terkait untuk ikut serta berkontribusi melestarikan media cetak berbahasa daerah yang selama ini terbukti menjaga warisan budaya daerahnya

“Para penulis dan tim redaksi berfoto bersama dengan pendiri Majalah Ancas, Ahmad Tohari”

Informasi yang dihimpun Koran SINAR PAGI, Majalah ANCAS didirikan oleh Ahmad Tohari yang lahir pada 13 Juni 1948, namanya dikenal sebagai sastrawan dan budayawan terkemuka Indonesia yang berasal dari Banyumas, Jawa Tengah. Popularitas ketokohannya memuncak melalui novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Karyanya yang identik dengan realisme sosial, mengangkat kehidupan masyarakat pedesaan, budaya, dan wong cilik, ditulis dengan bahasa yang liris dan kuat.

Distribusi Majalah ANCAS hingga saat ini, jumlah cetakan majalahnya pernah mencapai sekitar 4000-4500 eksemplar dengan tampilan 34 halaman dan harga jual hanya 20.000. Jangkauannya sampai kepada warga Banyumas yang merantau atau berada di Pulau Sumatra, Kalimantan dan Papua. Serta ada pelanggan khusus dari perpustakaan Netherlands / negara Belanda yang secara rutin dikirim setiap edisinya atau diambil langsung oleh utusan dari perpustakan tersebut.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *