Pewarta: Tim Liputan Khusus
(Koran SINAR PAGI)-, Mesir, secara resmi Republik Arab Mesir, adalah negara transbenua yang terletak di sudut timur laut Afrika dan Semenanjung Sinai di Asia Barat Daya, dengan Kairo sebagai ibu kotanya. Terkenal dengan peradaban kuno, Sungai Nil, dan Piramida Giza, negara ini adalah salah satu negara tertua dan berpenduduk terbanyak di Afrika, memegang peran penting dalam geopolitik Timur Tengah.
Secara Geografi, negaranya terletak di perbatasan Afrika dan Asia, berbatasan dengan Laut Tengah di utara dan Laut Merah di Timur, serta memiliki Terusan Suez yang menghubungkan Laut Mediterania dengan Samudera Hindia.

Ning Maramita Elfani, Lc., M.A., Ketua Pimsus JPPPM Mesir, Kandidat Doktor Universitas Al Azhar Kairo, Mesir, jurusan Tafsir & Ilmu-ilmu Al Qur’an, berasal dari PP. Mifathusholihin, Brayut, Sigaluh, Banjarnegara, Jawa Tengah. Pada momen 40 menit bersama Jurnalis media cetak dan online, Dwi Arifin, Kepala Pusat Pengembangan Relasi Media Massa Orgprof (Organisasi Profesi) Jurnalis Independen Bersatu untuk “Dialog Lintas Negara”, dirinya membahas tentang Kiprah Jam’iyyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Muballighoh / JPPPM di Mesir.
“JPPPM di Mesir berdiri sejak tahun 2022, setelah resmi dilantik oleh Ketua Umum Pengurus Jam’iyyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Muballighah (JPPPM) Nusantara, Nyai Hj. Hanik Maftukhah Afif dengan masa bakti 2022-2027. Saat ini Jumlah anggotanya mencapai sekitar 40 orang, terdiri dari mahasiswa S1-S2-S3” jelasnya saat interaktif melalui sambungan telephone pribadinya kepada media cetak dan online Koran SINAR PAGI (16/3/2026)

Untuk eksistensi organisasinya, rutin atau berkala dilaksanakan berbagai kegiatan silahturahmi sesesama anggota, menyelenggarakan kegiatan yang isidentil, reguler atau momentum. Seperti Maulid Nabi, Tarhib Ramadan, seminar atau memperingati hari besar yang menjadi agenda prioritas organisasi. Dilaksanakan dengan berkolaborasi bersama Pimsus dari negara terdekat (Arab Saudi) atau negara lainnya. Dalam rangka mensukseskan acara Harlah 1 Dasawarsa JPPPM di tahun 2025 yang dihadiri sekitar 250 peserta. Semua kegiatan diikuti atau disesuaikan dengan kebutuhan sebagai pelajar yang sedang berada di negara lain.

Pada tahun sebelumnya, dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional 2024, JPPPM Cabang Mesir mengadakan acara Bincang Santai dengan tema “Apakah Pondok Pesantren Masih Relevan untuk Menjadi Institusi Pendidikan Karakter Masa Kini?”.
Serta JPPPM sempat menghadiri undangan Talk Show dari organisasi lain, bersama narasumber Prof. Eva Fahrun Nisa, Professor of Anthropology, Australian National University.

Ning Maramita Elfani, Lc., M.A., menceritakan selama di Mesir, menurutnya kesadaran masyarakatnya tentang proses pendidikan mendekatkan generasi kepada quran, telah dijalankan sejak dini. Sehingga dalam capaian pendidikannya, setiap siswa pertahunnya minimal 1 juz hafal quran, misalnya tahun pertama dari kelas 1 ke 2 dan target rata-ratanya sebelum memasuki kuliah mereka sudah hafal 30 juz. Maka ketika masuk ke perkuliahan ada penyesuaian muqorror silabus untuk yang sudah hafal 3o juz dan yang belum, khususnya yang dari warga negara asing.
“Kondisi masyarakat di Mesir cenderung hafal quran. Hal itu terlihat dari pemandangan yang istimewa di perkotaan, seperti supir Taksi yang senantiasa murojaah hafalannya atau di lingkungan sekitar, pedagang Sayur yang senantiasa menghafal quran di waktu luangnya saat berjualan” ungkapnya

Kemajuan dalam bidang pendidikan keagamaan yang ada di Mesir serta menjadi daya tarik warga asing, jika komparasikan dan dipadukan dengan metode pendidikan berbasis pesantren di Indonesia. Hal itu diprediksi akan semakin optimal untuk membentuk generasi Qurani atau Robbani yang dapat membawa ke arah terbaik bangsanya. Berbasis otoritas keislaman yang diwariskan oleh para ulama atau kearifal lokal yang patut dipelajari untuk menguatkan konsep dan amalan Ahlussunnah Wal Jamā’ah.
Ning Maramita Elfani, Lc., M.A., menyatakan ketika berada di negara lain atau menjadi warga negara asing. Dirinya bersama mahasiswa lainnya, berupaya mematuhi arahan dari KJRI Mesir / Konsulat Jenderal Republik Indonesia yang bertugas di wilayah Mesir atau Kedutaan Besar Republik Indonesia / KBRI Kairo.
“Kami berupaya menjaga misi perdamaian yang dipegang selama ini, dengan berupaya menjaga sopan santun atau adab terbaik sebagai tamu di Negara lain. Serta tidak intervensi atau ikut campur dalam urusan kondisi politik di Mesir, sikap itu untuk menjaga hubungan baik antara warga negara Mesir dan warga negara asing / Warga Negara Indonesia. Selain itu ikut berkiprah dalam isu-isu global yang mendukung perdamaian, sesuai dengan kapasitas atau batasan-batasannya sebagai mahasiswa. Dengan tetap fokus pada tujuan utamanya di Mesir yaitu untuk belajar atau menjemput ilmu” katanya.

Ning Maramita Elfani, Lc., M.A., menyimpulkan bahwa proses perjuangannya menempuh pendidikan tinggi di negara Mesir, sebagai upaya mewujudkan harapan besar untuk kemajuan daerah atau bangsanya.
“Harapannya setelah lulus dan kembali ke Indonesia, semoga ilmu yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk berkontribusi lebih kepada JPPPM sebagai representasi organisasi perjuangan khusus perempuan pesantren. Serta menjadi pribadi yang mampu bermanfaat untuk agama, negara dan bangsa” ucapnya








Komentar