Dr. DNK, Adiksi Menulis

Pewarta: Dwi Arifin

(Koran SINAR PAGI)-, Setelah beberapa kali mendapatkan penghargaan sebagai penulis dari organisasi dan media massa, tokoh yang satu ini mengatakan bahwa menulis adalah candu. Ia mengatakan “Bila orang lain candu pada kopi dan merokok, maka saya adiksi pada kebiasaan menulis”. Baginya menulis itu kebutuhan untuk mengeluarkan isis pikiran, imajinasi dan kenakalan perspektifnya.

Bagi Dr. DNK (panggilan akrab Dr. Dudung Nurullah Koswara) Ketua Umum DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) periode 2025–2029, menulis itu sangat positif untuk membelajarkan diri sendiri. Puluhan buku yang Ia buat adalah bentuk hasil dari “autodikjar”, mendidik dan mengajar diri sendiri. Buku buku yang Ia susun adalah produk dari belajar dan mengasah pikir dan rasa, yang menurutnya sangat penting. Pisau yang berasal dari besi atau baja yang tidak diasah akan tumpul.

Bagi Dr. DNK menulis baginya adalah mengasah pemikiran dan rasa. Ia pun mengatakan pemikiran kita pun harus dikendalikan oleh kesadaran. Bila kita pintar, pikirannya luar biasa, tetapi tak sadar, tak berkesadaran bahaya. Mengapa bahaya? Bisa jadi kita akan menjadi pemikir yang “terkilir”. Belajar, belajar, belajar, menulis, menulis dan menulis adalah diantara cara agar kefakiran kita tidak menggendap dan jumud.

Prof. Dr. KH Buya Syakur dan sejumlah cendikiawan mengatakan keprihatinan pada mayoritas masyarakat dan bangsa kita yang sangat lemah dalam literasi, namun sangat kuat dalam dogmasi dan narasi narasi deshistory. Bangsa kita kuat di teriak, kuat dihapalan, kuat didoma dogma, namun lemah di karya dan sains. Profesor Jiang mengatakan bahwa masa depan sebuah bangsa lebih ditentukan oleh kekuatan literasi, daya kritis dan kreativitas.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *