Dirangkum oleh: Dwi Arifin (Ketua Lajnah Ta’lif wan Nasyr Majalis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama/LTN MWC NU Kecamatan Katapang Kabupaten Bandung)
Di tengah banjir informasi digital, Majalah Risalah NU punya posisi yang tidak bisa digantikan oleh portal berita manapun. Ia adalah satu-satunya majalah resmi milik Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang eksis sampai hari ini.
Jika NU Online adalah yang cepat, maka Risalah NU adalah yang beredar lambat tapi lebih tepat. Risalah NU bukan tiba-tiba lahir. Ia adalah mata rantai dari tradisi literasi NU sejak awal berdiri. Jauh sebelum PBNU punya gedung di Kramat Raya, KH. Wahab Hasbullah sudah membangun media bernama Soeara Nahdlatoel Oelama (SNO) pada akhir 1926 sebagai alat dakwah dan pencerdasan umat.
Perjalanan singkatnya:
– 1975: PWNU Jawa Timur menghidupkan Buletin NU (Buwilnu) yang kemudian berubah nama menjadi Risalah pada Agustus 1975
– 1976-1978: Sempat berhenti produksi karena pergantian pengurus, lalu bangkit kembali akhir November 1978.
– 2007 – sekarang: Lahir kembali dalam format nasional sebagai Majalah Risalah NU yang dikelola oleh Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) / Lembaga Infokom dan Publikasi PBNU.
Pimpinan Redaksi Musthafa Helmi menyebut, Risalah NU sudah hampir 20 tahun mengawal perjalanan NU, untuk mengkomunikasikan kebijakan dan aktivitas PBNU kepada nahdliyyin se-Nusantara. Doa KH Wahab di edisi pertama SNO tahun 1927 masih relevan: Allahumma la taj’al majallatana aakhiral ‘ahdi ‘indaka – Ya Allah jangan jadikan majalah ini yang terakhir.
Apa Isi Majalah Risalah NU?
Berbeda dengan majalah umum, Risalah NU bukan majalah berita populer. Ia adalah dokumen resmi organisasi. Rubrik yang konsisten ada:
– Tausiyah Rais Aam: Menjadi rujukan sikap keagamaan resmi PBNU
– Laporan Utama & Harokah: Membahas kebijakan PBNU, Muktamar, isu kebangsaan, dan sejarah kader NU yang menjadi menteri
– Tarikh, Tafsir, Mutholaah, Taqorrub: Kajian keaswajaan yang dalam, ditulis oleh kiai dan akademisi pesantren
– Dokumentasi Muktamar: Seperti saat Muktamar ke-35 di Tambakberas Jombang, Risalah NU hadir tidak hanya memberitakan tapi juga membuka stan pameran.

Sinergitas Majalah Risalah NU dengan Perpustakaan yang memiliki 3 peran krusial, di antaranya:
1.Sebagai Arsip Sejarah Resmi NU
Perpustakaan Pesantren, Perpustakaan Masjid, Perpustakaan Umum Daerah, dan Perpustakaan Perguruan Tinggi NU wajib menjadikan Risalah NU sebagai koleksi deposit. Karena majalah ini adalah sumber primer sejarah NU. 50 tahun lagi, peneliti yang ingin tahu bagaimana PBNU bersikap saat Pilpres 2019 atau Muktamar 2026 akan mencarinya di perpustakaan, bukan di Instagram.
2.Sebagai Pusat Literasi Aswaja
Majalah Risalah NU diterbitkan oleh LTN PBNU di Gedung PBNU Lt. 6 Jl. Kramat Raya 164 Jakarta. Harganya terjangkau, tapi distribusinya terbatas. Perpustakaan bisa menjadi titik akses gratis. Dengan berlangganan 1 eksemplar, ratusan santri dan mahasiswa bisa membaca bergiliran. Versi digital edisi lama juga sudah tersedia di http://risalahnu.com yang bisa diakses lewat komputer perpustakaan.
3.Sebagai Jembatan Generasi
Santri hari ini akrab dengan HP. Pustakawan bisa membuat program: Bedah Edisi Risalah NU, Kliping Tematik (misal: kumpulan tulisan Rais Aam tentang moderasi), hingga digitalisasi dan pembuatan indeks artikel agar mudah dicari.

Sinergi Ideal: LTN, Majalah Risalah dan Perpustakaan
Yang perlu didorong ke depan:
- Gerakan Perpustakaan Berlangganan Majalah Risalah NU: PBNU bisa memberikan skema subsidi langganan untuk perpustakaan pesantren, sekolah hingga Perpus desa.
- Digitalisasi Lengkap: LTN PBNU dan Perpustakaan Nasional bekerja sama memindai semua edisi Risalah dari 2007 sampai sekarang, masuk ke iPusnas.
- Pojok Risalah NU di Perpustakaan: Setiap perpustakaan NU membuat rak khusus berisi koleksi lengkap Risalah NU, Aula, dan Duta Masyarakat sebagai trilogi media NU.
- Kaderisasi Penulis: Pustakawan dan pengelola perpustakaan pesantren didorong menulis untuk Risalah NU, sehingga ada timbal balik.
Majalah Risalah NU adalah bukti bahwa NU sejak 1926 percaya pada kekuatan tulisan atau karya jurnalistik. Sedangkan adanya Perpustakaan adalah bukti bahwa tulisan itu ingin dijaga agar tidak hilang.










Komentar