oleh

Kesepian Ditengah Keramaian Potret Kelam Generasi Sekuler

Oleh : Amanah Tya

Sebagaimana kita pahami data Report Global Digital Insghts menyebutkan jumlah penggunan aktif media sosial di dunia per awal 2025 mencapai sekitar 5,31 miliar orang atau 64,7% dari total populasi global. Angka ini tumbuh signifikan dari tahun-tahun sebelumnya, mendorong lebih banyak beralih ke platform daring untuk berbagai aktivitas.

Keramaian dalam platform media sosial ternyata belom memudarkan rasa sepi.
Sekadar pelipur sementara sebatas menyediakan komunitas, interaksi virtual, memberikan rasa senang dan kepuasan sesaat, menghilangkan kepenatan hidup, belom memberi ruang sepi hilang dari hidup mereka.

Saat kapitalisme menciptakan sistem kehidupan berikut cara pandang tentangnya,masyarakat pun terseret dengan arus globalnya.pola konsumtif tercipta saat urbanisasi menyebabkan pertumbuhan ekonomi terkonsentrasi di kota-kota besar disertai berdirinya pusat-pusat perdagangan dan industri.
Pencapaian materi salah satunya diproduksi dalam konten media sosial. Rasa sepi seolah bisa hilang dengan memuaskan diri dalam lautan materi via media sosial yang menyediakan fasilitas live atau menjadi afliator dalam rangka hasilkan uang.keasyikan membuat konten yang mampu hasilkan uang seakan cukup meramaikan hidup.

Kapitalisme telah membuat kesehatan mental generasi diragukan kestabilan nya. Mereka sepi di tengah keramaian.pemikiran Islam. Mereka dipengaruhi berbagai pemikiran negatif saat mengakses pemikiran kufur yang menyesatkan.potensi yang harusnya dibangun untuk membangkitkan pemikiran umat,teralihkan dengan kepuasan digital yang diaruskan.

Dengan demikian penggunaan internet dan aktivitas di media sosial memang tidak bisa dihindari. Sebagai produk teknologi digital Islam tidak melarang memanfaatkannya selama untuk kebaikan.Tentunya Islam mengaturnya untuk aktifitas yang dapat membangkitkan pemikiran umat, bukan menenggelamkan pada aktifitas tidak berguna.

Dalam Islam, indentitas hidup seorang muslim harus tegas. Berislam kaffah harus jadi pilihan hidup. Butuh kesadaran penuh dalam memahami hubungan dengan Allah SWT. Sebagai pengatur kehidupan.Konsekuensi sebagai hamba, adalah pilihan asasi hakiki dalam memahami, menerima, dan mengikuti ajaran Allah SWT.

Sungguh Islam telah mengajarkan betapa pentingnya interaksi sosial sesuai syari’at,sesuai dengan batasan yang dibenarkan dalam Islam. Firman Allah Ta’ala,

“Dan sembahkah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuatlah baik kepada kedua orang tua, karub kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat,Ibnu Sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”(QS.Annisa:36)

Di dalam masyarakat Islami tidak ada tempat bagi pemikiran-pemikiran yang rusak dan merusak, juga tidak ada tempat bagi berbagai pengetahuan sesat dan menyesatkan. Masyarakat Islami akan membersihkan keburukan berbagai pemikiran atau pengetahuan,memurnikan dan menjelaskan kebaikannya, serta senantiasa memuji Allah, Tuhan semesta alam.

Demikianlah dalam memanfaatkan media digital dan memperdayakan generasi muda Islam tidak akan biarkan mereka terjerat pada perkara yang sia-sia. Islam akan mengarahkan generasi muda terisolasi dalam dekapan kesepian dari keutamaan sebagai mahlukNya. Sepi dalam keramaian bukan pilihan generasi. Islam akan menjaga generasi dalam aktivitasnya produktif yang bermanfaat untuk kebaikan umat pada masa depan sebagai generasi penjaga Islam kaffah yang terpercaya hingga terwujud kembali dalam syariah Islam.

Wallahu a’lam bisshawaab.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *