Pewarta: Jeky Epsa
Koran Sinar Pagi, Sumedang,– Keraton Sumedang Larang kembali menegaskan perannya sebagai pusat pelestarian sejarah dan budaya. Di hadapan para pengunjung, Radya Anom Keraton Sumedang Larang mengulas secara mendalam makna dan nilai filosofis tujuh pusaka inti peninggalan para Raja Sumedang Larang yang sarat pesan kepemimpinan dan kearifan leluhur.
Dengan penuh khidmat, Radya Anom Raden Luky Djohari Soemawilaga, menyampaikan bahwa pusaka-pusaka tersebut bukan sekadar benda bersejarah, melainkan simbol jati diri dan ruh Keraton Sumedang Larang yang diwariskan lintas generasi, di Keraton Sumedang Larang, Sabtu, (10/01/2026).
Tujuh pusaka inti yang dijelaskan meliputi Mahkota Binokasih, Pedang Ki Mastak, Keris Ki Dukun, Keris Panunggul Naga, Keris Naga Sasra I, Keris Naga Sasra II, serta Badik Curuk Aul.
“Tujuh pusaka inti ini merupakan peninggalan berharga para raja Sumedang Larang. Setiap pusaka mengandung nilai kepemimpinan, keberanian, serta tanggung jawab moral seorang pemimpin terhadap rakyatnya,” ujar Radya Anom.
Ia menjelaskan, Mahkota Binokasih menjadi pusaka utama yang melambangkan legitimasi dan kedaulatan raja. Sementara pusaka lainnya berupa keris, pedang, dan badik merepresentasikan ketegasan, perlindungan, serta kebijaksanaan dalam menjalankan roda pemerintahan.
Secara rinci, Radya Anom memaparkan makna masing-masing pusaka, di antaranya, Pedang Ki Mastak, peninggalan Prabu Tadjimalela sebagai simbol keberanian dan kepemimpinan; Keris Ki Dukun milik Prabu Gajah Agung yang sarat nilai spiritual; Keris Panunggul Naga warisan Prabu Geusan Ulun dengan ornamen naga sebagai lambang kekuatan; serta Keris Naga Sasra I dan II yang memiliki nilai sejarah tinggi, termasuk warisan Pangeran Kornel. Sementara Badik Curuk Aul I dan II, peninggalan Mbah Jaya Perkosa, melambangkan keteguhan dan kewaspadaan seorang pemimpin.
“Pusaka-pusaka ini bukan untuk disakralkan secara berlebihan, tetapi untuk dipahami nilai filosofinya. Di sanalah ajaran moral, etika, dan kebijaksanaan para leluhur diwariskan,” ungkap Radya Anom.
Lebih lanjut, Radya Anom menekankan pentingnya menjaga dan merawat pusaka sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya dan sejarah Sumedang.
“Merawat pusaka berarti merawat identitas. Keraton Sumedang Larang terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar sejarah dan mengenal jati diri Sumedang,” tegasnya.
Para pengunjung tampak antusias menyimak penjelasan tersebut. Kegiatan ini menjadi sarana edukasi budaya yang efektif, sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat khususnya generasi muda akan pentingnya menjaga dan menghargai warisan sejarah Keraton Sumedang Larang.***
Radya Anom Kupas Makna Tujuh Pusaka Inti Keraton Sumedang Larang, Warisan Nilai Kepemimpinan Para Raja ke Pengunjung










Komentar