oleh

Pupuk RI Diklaim Rebutan Banyak Negara, Berapa Stok Dalam Negeri?

-Ragam-73 Dilihat

Pewarta : Tim Liputan

Koran SINAR PAGI,Jakarta,- PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) memastikan stok pupuk dalam negeri hingga saat ini masih aman di tengah krisis pupuk global sebagai imbas dari eskalaksi konflik perang Timur Tengah.

Direktur Utama PIHC Rahmad Pribadi mengatakan Indonesia saat ini masih menjadi salah satu negara eksportir pupuk urea terbesar di dunia, dengan kapasitas produksi hampir mencapai 9 juta ton.

“Saya ingin yakinkan bahwa Indonesia, khususnya terkait dengan [stok] pupuk, semuanya aman. Kenapa? Karena yang terganggu adalah suplai urea. Sedangkan Indonesia adalah negara eksportir urea,” ujar Rahmad kepada wartawan di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Rahmad juga memastikan ketersediaan impor kalium dan fosfor (phospate) sebagai bahan baku utama pembuatan pupuk NPK masih tersedial lewat diversifikasi pasar. Perusahaan, kata dia, juga memiliki ketersediaan modal dari pemerintah untuk mengamankan pasokan lebih dulu guna memesan bahan baku lebih awal kepada mitra dagangnya.

“Sudah [diversifikasi pasar], karena kita punya uang muka dari pemerintah. Jadi kita bisa beli bahan-bahan bakunya di depan, yang impor. Kalau yang dalam negeri harganya tetap,” tutur dia.

Dilirik Australia Hingga India

Rahmad mengaku Indonesia belakangan menjadi negara yang dirilik oleh importir pupuk lain yang berniat membeli pupuk asal Tanah Air. Negara-negara itu meliputi Australia dan juga India.

Dia memastikan perseroan akan mengutamakan ketersediaan stok dalam negeri. Perusahaan, kata dia, tetap menunggu instruksi dari pemerintah jika ekspor memungkinan dapat dilakukan untuk memenuh permintaan pupuk urea.

“Australia dan India itu yang paling besar,” kata dia.

Rahmad sebelumnya memang mengakui konflik Timur Tengah memberikan tekanan signifikan terhadap distribusi pupuk di dunia.

Apalagi, sebanyak 30% jalur pupuk dalam perdagangan dunia diketahui melewati Selat Hormuz, yang belakangan juga ditutup oleh Iran. Jalur tersebut menjadi jalur utama pasokan distribusi pupuk urea dengan kapasitas mencapai sekitar 4 juta ton per bulan.

“Kalau dalam volume itu kalau setiap bulan 4 juta ton melalui Selat Hormuz, terdiri dari 1,5 juta ton urea, 1,5 juta sulfur dan sisanya jenis pupuk lainnya,” ujar Rahmad dalam rapat bersama antara pimpinan BUMN dan Komisi XI di DPR.

Dia juga mengatakan bahwa Indonesia justru saat ini bisa menjadi stabilisator atau bahkan penyelamat ekosistem pangan dunia.

“Sehingga meskipun terjadi gejolak harga urea yang meningkat sebelum perang, dari US$400 dan sekarang sudah mencapai US$800 atau dua kali lipat, tapi kami bisa meyakinkan Bapak-bapak pimpinan dan anggota Komisi XI untuk Indonesia aman.”

Berdasarkan laporan riset BMI, bagian dari Fitch Solutions, negara di kawasan Asia Tenggara sendiri diperkirakan mengalami pertumbuhan konsumsi pupuk. Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan yang signifikan (outperformer).

Produksi dari PT Pupuk Indonesia (Persero) adalah 14,65 juta ton/tahun. Sementara konsumsi mencapai sekitar 23 juta ton/tahun. Artinya, sekitar 36% kebutuhan pupuk masih harus didatangkan dari luar negeri alias impor.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, volume impor pupuk Indonesia pada 2025 adalah 8,36 juta ton. Naik 11,02% dibandingkan tahun sebelumnya. Negara importir paling banyak ada Rusia yang mencapai 1,4 juta ton, diikuti Kanada diposisi kedua sebanyak 1,26 juta ton. Sementara, Mesir diposisi ketiga sebanyak 1,16 juta ton.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *