Penulis: Briliani Daiyah (Pembaca Media Cetak Koran SINAR PAGI dan Majalah Risalah )
Menjaga nama baik / reputasi sejatinya bukan perkara mudah, tetapi setiap orang dapat berusaha melakukannya sedikit demi sedikit secara konsisten. Nama baik tidak dibangun dalam semalam, melainkan dari sikap, perkataan, dan tingkah laku yang dilakukan setiap hari. Manusia tentu tidak selalunya benar. Ada kalanya khilaf, baik disengaja maupun tidak disengaja, disadari ataupun tanpa disadari. Karena itu merupakan proses perjalanan panjang seseorang menjadi pribadi yang lebih baik yang dipengaruhi salah satunya faktor usia, pengalaman hidup, lingkungan, dan kematangan emosi seseorang. Semakin dewasa, seseorang biasanya semakin belajar memahami mana yang patut dijaga dan mana yang harus diperbaiki.
Dalam kehidupan bermasyarakat, reputasi ibarat cermin diri. Orang mungkin lupa pada harta, jabatan, atau penampilan seseorang, tetapi mereka akan mengingat bagaimana sikap dan perlakuan orang tersebut kepada sesama. Karena itu, menjaga reputasi menjadi hal yang penting. Reputasi bukan berarti harus terlihat sempurna di hadapan manusia, melainkan berusaha selaras antara ucapan dan tindakan. Seseorang yang menjaga reputasi akan tetap menjaga sikap baik meskipun tidak ada yang melihat atau memuji.
Pengalaman hidup sering kali menjadi pengingat untuk lebih berhati-hati dalam bersikap. Apalagi ketika memiliki amanah jabatan, maka menjadi penguat untuk semakin perlu menjaga reputasi diri. Amanah tersebut bukan hanya tentang penghargaan atau jabatan, tetapi juga tanggung jawab moral. Ketika seseorang dipercaya membawa nama instansi, organisasi, daerah dan sebagainya, maka setiap perilakunya akan lebih diperhatikan orang lain. Hal ini membuat seseorang belajar untuk lebih menjaga ucapan, tindakan, dan keputusan.
Sejak kecil, banyak orang tua dan sesepuh Jawa mengajarkan pentingnya menjaga perilaku. Salah satu nasihat yang begitu melekat adalah ungkapan, “Anak polah bapak kepradah.” Artinya, segala perilaku seorang anak dapat berdampak pada orang tua dan keluarganya. Ketika seorang anak berbuat baik, keluarganya ikut dihormati. Sebaliknya, ketika seorang anak bertindak buruk, keluarganya pun dapat terkena malu. Nasihat sederhana ini mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendiri. Apa yang dilakukan seseorang sering kali membawa nama keluarga, organisasi, instansi, guru, teman, pasangan, bahkan lingkungan tempat ia berasal.
Dalam Islam pun, setiap manusia diajarkan tentang tanggung jawab atas dirinya. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis yang mengingatkan bahwa setiap orang adalah pemimpin, minimal pemimpin bagi dirinya sendiri. Menjaga diri dari perilaku buruk, menjaga lisan, dan menjaga sikap termasuk bentuk tanggung jawab kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kepada sesama manusia.
Al-Qur’an juga mengajarkan pentingnya menjaga perkataan dan perilaku. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka.” (QS. Al Isra: 53).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa ucapan memiliki pengaruh besar dalam kehidupan. Banyak pertengkaran, permusuhan, bahkan hancurnya hubungan terjadi karena lisan yang tidak dijaga. Sebaliknya, tutur kata yang baik dapat menenangkan hati dan menjaga hubungan antar manusia.
Ada pula istilah yang sering didengar dalam kehidupan masyarakat, yaitu “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama” Artinya, perbuatan seseorang, baik maupun buruk, akan tetap dikenang abadi jejak perilakunya selama hidup oleh orang lain setelah ia meninggal dunia.
Orang yang semasa hidup suka membantu, santun, dan menjaga amanah akan dikenang dengan baik. Sebaliknya, perilaku buruk pun bisa terus diingat oleh orang lain. Karena itu, menjaga nama baik bukan sekadar demi penilaian manusia, tetapi demi meninggalkan jejak kebaikan.
Namun menjaga reputasi bukan berarti hidup dalam gengsi atau kesombongan. Menjaga reputasi tidak sama dengan merasa paling baik. Justru orang yang benar-benar menjaga diri biasanya tetap berupaya bersikap sederhana, mau belajar, dan andhap asor. Ia tetap berbaur di masyarakat, menghormati orang lain tanpa memandang status, dan tidak merasa lebih tinggi dari siapa pun. Sebab ukuran kemuliaan seseorang bukan terletak pada pencitraan, melainkan pada akhlak dan ketulusan.
Dalam kehidupan modern, menjaga reputasi juga dapat dilakukan melalui hal-hal sederhana. Misalnya tidak membuat status media sosial yang menyinggung orang lain, tidak mudah menyebarkan berita hoaks, menjaga emosi saat marah, serta membiasakan bertutur kata yang sopan. Selain itu, bersikap ramah, menghargai perbedaan, dan tidak ikut campur urusan orang lain juga termasuk bentuk menjaga nama baik. Di era digital, jejak perkataan dan perilaku lebih mudah tersebar, sehingga seseorang perlu lebih bijak sebelum berbicara atau menulis sesuatu.
Selain itu, Allah SWT juga memerintahkan orang-orang beriman untuk berkata jujur dan baik “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Al-Ahzab:70-71)
Sehingga dalam penjelasan lain, lisan atau perkataan dapat menjadi indikator atau cermin dari isi hati seseorang, bahkan kepribadiannya.
Menjaga nama baik adalah bentuk ikhtiar untuk menjadi manusia yang lebih bertanggung jawab. Tidak ada manusia yang sempurna, tetapi setiap orang bisa belajar memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Integritas dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus: menjaga lisan, menghormati sesama, jujur, rendah hati, dan bertanggung jawab atas tindakan sendiri. Ketika seseorang mampu menjaga sikap dan akhlaknya, maka bukan hanya dirinya yang dihormati, tetapi juga keluarga, organisasi, dan lingkungan tempat ia berasal turut mendapatkan kebaikan darinya.








Komentar