Pewarta: Steven Gervan
Koran Sinar Pagi, Sumedang – Lahirnya Kujang Sakembaran menjadi simbol bersatunya tatanan Sunda yang mana momentum bersejarah ini menjadi kebanggaan besar bagi Keluarga besar Karaton Sumedang Larang, sebagai penerus sah peradaban Sunda Padjajaran dengan mahkota Binokasih Syangyang Pake nya.
Dalam kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut, Kyai Ashrofi Muhammad menjelaskan makna mendalam di balik “uga” atau ramalan Prabu Siliwangi.
“Tidak akan tegak sebuah peradaban Sunda, dan tidak akan berdiri sebuah kerajaan di Tatar Sunda apabila Sumedang Larang — sebagai penerus terakhir Kerajaan Sunda Pajajaran dengan simbol Mahkota Binokasih — belum ditata dengan benar. Kini kebangkitan peradaban budaya Sunda dan Sumedang Larang telah hadir, ditandai dengan berdirinya Kujang Kembar yang ditata oleh para sesepuh se-Nusantara,” jelasnya.
Kyai Ashrofi melanjutkan, bentuk Kujang Kembar tersebut disebut ‘Ku-ujang Kembar Trah Siliwangi’, yang diyakini berkaitan dengan sosok Yang Mulia (YM) Radya Anom R. Luky Djohari Soemawilaga dan YM R. Lily Djamhur Soemawilaga, dua tokoh kembar yang telah dinobatkan sebagai Radya Anom dan Mahapatih Karaton Sumedang Larang pada tahun 2017.
“Keduanya adalah kembar dan memiliki peran sebagaimana simbol dalam perjalanan sejarah Sri Baduga Maharaja Jagaraksa — sang adik menjadi Sri Baduga, sedangkan sang kakak menjadi Mahapatih. Itu semua telah menjadi bagian dari takdir Allah SWT,” tuturnya.
Lebih lanjut, Kyai Ashrofi menekankan pentingnya kembali kepada “swa” dan “persa”, yakni kesadaran untuk pulang ke asal, ke indung (ibu).
“Sumedang Larang adalah puser budaya Sunda. Semua raja-raja dan keturunan Sunda harus berkumpul kembali di sini. Karena dari sinilah keseimbangan dan ketentraman akan terwujud. Dalam Al-Qur’an pun tersirat, tidak akan ada kenikmatan bagi manusia sealam dunia jika tidak mampu bersatu. Namun, bila mampu berkumpul lahir dan batin, maka akan hadir kenikmatan, kedamaian, dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia,” tegasnya.
Sementara itu, Rd. Asep Sulaiman Fadil menegaskan bahwa YM Radya Anom Luky Djohari Soemawilaga dan YM Mahapatih Lily Djamhur Soemawilaga benar merupakan trah langsung dari Prabu Siliwangi, mengingat sistem keturunan Sunda yang bersifat patrilineal atau garis laki-laki.
“Prabu Langlangbumi memiliki putra Prabu Cakranegara, kemudian Prabu Ajiguna Linggawisesa (1333–1340 M), dilanjutkan Prabu Rangga Mulya Luhur Prabawa atau Aki Kolot (1340–1350 M), lalu Prabu Lingga Buana (1350–1357 M) yang memiliki putra Prabu Niskala Wastu Kencana (1371–1475 M). Dari sinilah Prabu Dewata Niskala Wastu Kencana yang berputra Prabu Jaya Dewata atau Pamanah Rasa, yang dikenal sebagai PRABU SRI BADUGA MAHARAJA alias PRABU SILIWANGI,” papar Asep.
Lebih jauh, Asep menjelaskan garis keturunan tersebut berlanjut hingga ke keluarga besar Sumedang Larang:
“Prabu Siliwangi menikah dengan Nyi Putri Inten Dewata, memiliki putra Sunan Rumenggong, lalu Prabu Mundingwangi (Sunan Cisorok atau Dalem Mangunrembung), kemudian Prabu Selalangu Layakusumah, Dalem Santowaan Nusakerta, Dalem Nayawangsa, Dalem Kudawarsa, Dalem Wangsadita, hingga Dalem Soerianagara I. Dalem Soerianagara I menikah dengan Dalem Istri Rajaningrat binti Pangeran Karuhun Sumedang (Pangeran Rangga Gempol IV) dan berputra Dalem Soerianagara II, yang kemudian menurunkan Pangeran Soerianagara III atau Pangeran Kornel,” ujarnya.
Masih di lokasi yang sama, Asep menerangkan, Pangeran Kornel memiliki keturunan Dalem Koesoemajoeda, yang kemudian berputra Pangeran Aria Soeria Koesoema Adinata (Pangeran Sugih). Dari pernikahan dengan Nyi Raden Ayu Ratnaningrat permaisuri Pangeran Sugih yang pertama lahirlah Rd. Soemawilaga, ayah dari Rd. Abdul Hamid Soemawilaga, yang menurunkan Rd. Lukman Hamid Soemawilaga. Dari pernikahan Rd. Lukman Hamid Soemawilaga dengan NR. Djoehaeni Djoewarsa lahirlah anak kembar Lily Djamhur Soemawilaga dan Luky Djohari Soemawilaga.
“Keduanya juga merupakan keturunan ahli waris dari Pangeran Soeria Atmadja (Pangeran Mekah) berdasarkan keputusan Raad Agama Sumedang No 40 juli 1921, Pangeran Mekah adalah pangeran terakhir Sumedang Larang yang mewakafkan barang-barang peninggalan leluhur sebagai kekuatan budaya sesuai amanat wakafnya,” jelas Asep.
Asep menutup penjelasannya dengan menegaskan bahwa Rd. Luky Djohari Soemawilaga berhasil menggali, mengkaji dan mengangkat kembali potensi luhur budaya Sumedang Larang melalui makna adiluhung yang terkandung di dalam Mahkota Binokasih Syangyang Pake yang juga menjadi landasan lahirnya kebijakan inovatif daerah Sumedang Puser Budaya Sunda (SPBS) serta program rekonstruksi dan revitalisasi Karaton Sumedang Larang sebagai Sentrum Budaya Sunda untuk menciptakan daya saing daerah berbasis budaya untuk kepentingan masyarakat dan daerah lebih luas.
“Kami Panata Karaton Sumedang Larang tepat pada tanggal 12 Oktober ini mengucapkan selamat ulang tahun kepada kujang sakembaran Rd. Lily dan Rd. Luky,” ucap serempak Panata Karaton Sumedang Larang.








Komentar