Ajakan Persaudaraan dari Penulis Rusdy Latuconsina untuk Mewujudkan Masa Depan Bersama
Pewarta : Anis
Koran SINAR PAGI, Ambon ,- Di tengah dinamika perubahan zaman yang semakin cepat, JURNAL MENUJU MATARUMA 2026 terbit sebagai refleksi. Melalui edisi *MATARUMA tertanggal 12 Juli 2026, jurnal ini mengajak seluruh komponen bangsa untuk menelusuri kembali akar sejarah, mempelajari warisan leluhur, dan bersama-sama membangun peradaban.
Tulisan tersebut digagas oleh Rusdy Latuconsina dengan mengusung semboyan: Belajar dari Warisan, Berkarya untuk Peradaban.
Semboyan ini bukan sekadar ungkapan retorika. Ia merupakan arah kebijakan berpikir dan komitmen moral dalam menjembatani masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Warisan sebagai Sumber Nilai Kehidupan.
Dalam tulisannya, Rusdy Latuconsina menekankan bahwa warisan tidak terbatas pada artefak fisik seperti rumah adat, naskah kuno, atau jalur rempah.
Warisan juga dapat berupa ilmu pengetahuan yang disampaikan guru dengan penuh kesabaran, doa seorang ibu, integritas yang ditanamkan seorang ayah, petuah bijak para tetua adat, serta semangat gotong royong yang telah mengakar dalam masyarakat selama berabad-abad.
Selain itu, bahasa daerah, seni tari, musik tradisional, dan kearifan lokal dalam pengelolaan lingkungan juga merupakan bagian dari kekayaan budaya yang tidak ternilai. Namun demikian, keberlangsungan warisan tersebut sangat bergantung pada kesediaan generasi penerus untuk mempelajarinya.
Dalam konteks ini, peran pendidikan menjadi sangat strategis. Dengan mengacu pada pemikiran Ki Hadjar Dewantara, Rusdy menegaskan bahwa pendidikan merupakan upaya menuntun seluruh potensi yang dimiliki anak agar dapat mencapai kebahagiaan dan keselamatan yang setinggi-tingginya. Oleh karena itu, pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai dan budaya masyarakat.
Bagian kedua dari semboyan tersebut adalah seruan untuk berkarya. Menurut Rusdy, pengetahuan yang tidak disebarluaskan akan berhenti pada tataran individu. Sebaliknya, pengetahuan yang dibagikan akan menjadi penerang bagi banyak orang.
Setiap tindakan produktif, sekecil apa pun, memiliki makna penting. Seorang pendidik yang mengajar dengan ketulusan, seorang petani yang memelihara kesuburan tanah, maupun seorang pemuda yang mengembangkan teknologi untuk kepentingan masyarakat, semuanya merupakan pelaku pembangunan peradaban.
Pandangan ini meluruskan persepsi bahwa pembangunan peradaban hanya menjadi tanggung jawab tokoh-tokoh besar. Pada hakikatnya, peradaban terbentuk dari kontribusi masyarakat biasa yang bekerja dengan penuh dedikasi setiap hari.
Rusdy juga meluruskan pandangan keliru bahwa pembahasan mengenai budaya identik dengan keterikatan pada masa lampau. Budaya sejatinya merupakan fondasi yang memberikan arah dalam melangkah ke masa depan.
Perkembangan teknologi, metode kerja, dan sistem pendidikan dapat berubah. Akan tetapi, nilai-nilai fundamental seperti kejujuran, etos kerja, semangat persaudaraan, kepedulian sosial, dan haus akan ilmu pengetahuan akan senantiasa relevan.
Sejalan dengan hal tersebut, MATARUMA memposisikan diri sebagai penghubung antara warisan dan masa depan. Belajar dari sejarah tanpa terjebak di dalamnya, menghargai tradisi sekaligus terbuka terhadap inovasi, serta menjaga jati diri sembari membangun kerja sama dengan dunia luar.
Inti pesan yang disampaikan dalam tulisan ini adalah pentingnya semangat kebersamaan. Rusdy Latuconsina menyatakan bahwa pembangunan peradaban tidak dapat dilakukan secara individual.
Upaya tersebut memerlukan keterlibatan pendidik, akademisi, peneliti, budayawan, pemuka adat, pelaku usaha, seniman, aparatur pemerintah, generasi muda, dan seluruh lapisan masyarakat. Setiap pihak memiliki kedudukan dan tanggung jawab masing-masing.
MATARUMA bercita-cita menjadi ruang temu bagi seluruh elemen tersebut. Sebuah ruang yang meyakini bahwa setiap individu memiliki kapasitas untuk belajar, untuk berkarya, dan untuk mewariskan nilai-nilai terbaik kepada generasi mendatang.
Sebagaimana ditegaskan dalam penutup tulisan:
Warisan memberikan kita akar. Karya memberikan kita arah. Peradaban terwujud ketika keduanya berjalan secara selaras.
Melalui karya ini, Rusdy Latuconsina tidak hanya menyampaikan gagasan. Ia juga mengajak masyarakat untuk duduk bersama, saling mendengarkan, dan saling menguatkan.
Sebab pada akhirnya, peradaban tidak diwariskan oleh waktu. Peradaban diwariskan oleh manusia yang memilih untuk belajar, berkarya, dan berbagi ,Tutup Rusdy .








Komentar