Penulis: Nur Fadilah (Ketua IPPNU Tahun 2020 Desa Sambirata)
Tiga belas tahun bukan sekadar hitungan usia organisasi. Bagi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Ranting Desa Sambirata, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, wilayah yang terletak di lereng Gunung Slamet. Perjalanan sejak diaktifkan kembali pada 29 Juni 2013 kini telah memasuki usia ke-13 pada 29 Juni 2026. Rentang waktu tersebut menjadi jejak panjang pembelajaran, pengabdian, dan tumbuh bersama dalam naungan Nahdlatul Ulama. Di balik pergantian kepengurusan dan generasi, organisasi ini terus menjadi ruang lahirnya kader-kader muda yang belajar mengabdi kepada agama, bangsa, dan masyarakat.
Selama lebih dari satu dekade, IPNU-IPPNU Ranting Sambirata menjadi tempat bertemunya pelajar dengan latar belakang, karakter, dan cara pandang yang beragam. Perbedaan tersebut tidak dipandang sebagai alasan untuk berjarak, melainkan menjadi kekuatan dalam membangun kebersamaan. Dari proses itulah tumbuh nilai musyawarah, saling menghargai, dan ukhuwah sebagai bagian dari kehidupan organisasi.
Berbagai kegiatan kaderisasi, keagamaan, sosial, maupun kepelajaran menjadi media belajar bagi para anggota. Organisasi tidak hanya mengajarkan bagaimana menyusun program kerja atau memimpin rapat, tetapi juga melatih tanggung jawab, kerja sama, kemampuan berkomunikasi, kepedulian sosial, serta semangat melayani. Nilai-nilai inilah yang menjadi bekal penting ketika para kader melanjutkan perjalanan hidup di tengah masyarakat.
Masa remaja sendiri merupakan fase yang penuh dinamika. Dalam teori perkembangan psikososial Erik Erikson, remaja berada pada tahap “identity versus role confusion”, yaitu masa ketika seseorang sedang membentuk jati diri dan mencari arah kehidupannya. Pada fase ini, perbedaan pendapat, kesalahpahaman, maupun konflik kecil merupakan hal yang dapat terjadi. Yang terpenting bukan ada atau tidaknya perbedaan, melainkan bagaimana setiap anggota belajar mengelola emosi, bermusyawarah, dan menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin serta hati yang lapang. Karena itu, organisasi menjadi ruang yang penting bagi remaja untuk belajar mengenal diri sekaligus membangun kedewasaan sosial.
Seiring bertambahnya usia, pengalaman menjadi guru yang berharga. Banyak hal yang dahulu terasa besar perlahan dipahami dari sudut pandang yang lebih dewasa. Organisasi mengajarkan bahwa menjaga hubungan baik sering kali lebih bernilai daripada mempertahankan ego. Kedewasaan bukan berarti tidak pernah berselisih, melainkan mampu menyikapi setiap persoalan dengan bijaksana dan menjadikannya sebagai pelajaran untuk bertumbuh.
Nilai tersebut sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya persaudaraan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 10, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” Ayat ini menjadi pengingat bahwa menjaga kerukunan, mempererat silaturahmi, dan mengedepankan perdamaian merupakan bagian dari nilai-nilai yang harus terus dirawat dalam kehidupan berorganisasi maupun bermasyarakat.
Memasuki usia ke-13, banyak kader IPNU-IPPNU Ranting Sambirata yang kini telah melanjutkan perjalanan hidup. Ada yang masih menempuh pendidikan, bekerja di berbagai bidang, aktif mengabdi di masyarakat, hingga telah membangun keluarga. Meski demikian, ikatan sebagai keluarga besar IPNU IPPNU diharapkan tetap terjalin melalui komunikasi, silaturahmi, dan saling mendukung dalam berbagai kebaikan.
Menjadi alumni bukan berarti selesai mengabdi. Justru pengalaman yang diperoleh selama berorganisasi menjadi bekal untuk terus memberikan manfaat sesuai kapasitas masing-masing. Mendampingi adik-adik kader, berbagi pengalaman, memberikan motivasi, maupun ikut mendukung kegiatan organisasi merupakan bentuk estafet perjuangan yang akan menjaga keberlangsungan kaderisasi di masa mendatang.
Sebagai badan otonom Nahdlatul Ulama yang menjadi wadah kaderisasi pelajar, IPNU IPPNU memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi penerus NU. Kaderisasi yang berkelanjutan menjadi ikhtiar menjaga nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. Dari proses kaderisasi di tingkat ranting inilah akan lahir kader-kader yang kelak mengabdi di berbagai bidang kehidupan. Karena itu, menjaga kekompakan, semangat belajar, budaya saling menghargai, dan semangat berkhidmah merupakan investasi berharga bagi masa depan organisasi dan masyarakat.
Memperingati Hari Lahir ke-13 IPNU-IPPNU Ranting Sambirata bukan sekadar mengenang tanggal berdiri, tetapi juga menjadi momentum memperkuat persaudaraan dan memperbarui semangat pengabdian. Wajah pengurus boleh berganti dari masa ke masa, namun nilai-nilai yang diwariskan hendaknya tetap hidup: menjaga kerukunan, terus belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa, serta menghadirkan manfaat bagi sesama. Sebab organisasi yang besar bukan semata-mata karena panjang usianya, melainkan karena mampu melahirkan generasi yang berakhlak, berilmu, dan istiqamah mengabdi.
Semoga Harlah ke-13 ini menjadi momentum untuk terus meneguhkan ukhuwah, menguatkan kaderisasi, dan melahirkan generasi muda Nahdlatul Ulama yang berakhlak, berilmu, serta istiqamah mengabdi bagi agama, bangsa, dan masyarakat.








Komentar