oleh

Zionis Perluas Batas, Saatnya Umat Islam Perluas Solidaritas

Oleh: Emy (Ibu Rumah Tangga)

Rencana Israel untuk memperluas cakupan wilayah kendalinya, hingga mencapai 70 persen di jalur Gaza memicu kekhawatiran besar bagi warga Palestina yang tinggal di sekitar kawasan pembatas yang disebut garis kuning. Mereka mengatakan bahwa, penyusutan ruang aman bagi warga sipil tersebut membuat wilayah yang tersisa kini menjadi semakin tidak layak huni. Garis kuning sendiri merupakan penanda batas yang memisahkan wilayah di bawah kendali militer Israel di Gaza timur dengan zona pergerakan bebas warga Palestina di sisi lebih barat. Pada Kamis pekan lalu, perdana Mentri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka mengakui bahwa militer Israel saat ini telah menguasai sekitar 60 persen wilayah Gaza dan mengungkap rencana untuk memperluas penguasaan tersebut hingga mencapai 70 persen. Seorang warga Palestina mengungkapkan kondisi warga kini sudah terjebak di area yang sangat sempit. “Tidak ada lagi tempat untuk pergi, orang-orang sudah terjebak di Area yang sangat kecil,” ujar Al-Astal, seperti yang di kutip Anadolu, pada Jumat, 5 Juni 2026.

Al-Astal yang bermukim dekat dengan garis pembatas menjelaskan bahwa, tank-tank Israel secara rutin mengawal untuk meruntuhkan rumah-rumah warga disekitar lokasi, sementara rentetan tembakan dari kendaraan militer dan pesawat tanpa awak drone hampir tidak pernah berhenti. Rangkaian kekhawatiran serupa juga membayangi para pengungsi Palestina yang takut juga perluasan garis pembatas ini membuat ratusan ribu warga sipil terkurung diarea lebih sempit dan padat. Para penduduk memperingatkan bahwa, kebijakan yang mengurangi ruang hidup warga sipil dipastikan akan memicu gelombang pengungsian baru, sekaligus memberikan tekanan yang lebih berat pada insfratruktur Gaza yang sudah lumpuh. Berdasarkan data statistik otoritas Palestina, agresi genosida yang dilancarkan Israel di Gaza sejak Oktober 2023, lalu telah menewaskan hampir 73.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 173.000 orang, dimana sebagian besar merupakan kelompok perempuan dan anak-anak. Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah resmi diberlakukan sejak 10 Oktober 2025, data kementerian kesehatan Gaza mencatat militer Israel tetap membunuh 947 warga Palestina dan melukai 2.935 orang lainnya dalam rangkaian serangan harian yang terus terjadi.

Perihal Penjajahan zionis Israel terhadap rakyat Palestina bukan lagi berita yang asing didengar, ataupun dilihat di media sosial. Penderitaan dan gempuran yang tiada henti terus menambah korban, jasad anak-anak yang berlumuran darah dipangku oleh ayahnya, seorang ibu memanggil nama anaknya yang tertimbun dalam puing-puing reruntuhan. Belum lagi, kelaparan yang melanda menambah miris situasi rakyat Palestina sekarang ini. Namun, negara yang selama ini menjunjung Demokrasi dan hak asasi justru tidak bisa berbuat apa-apa. Pada saat ini, yang dibutuhkan rakyat Palestina bukan hanya seruan dan memboikot produk Israel dan Amerika saja, tapi gerak dan bukti nyata dalam pembelaan rakyat Palestina.
Kata-kata tentang kemanusiaan dan keadilan kini hanya sebagai slogan saja, pada faktanya penduduk muslim di Palestina diperlukan jauh dari kata kemanusiaan dan keadilan. Mereka menjalani hidup dalam tekanan dan gempuran zionis Israel, pelanggaran HAM yang dilakukan Israel seakan dibiarkan dan tidak ditindak tegas oleh lembaga dunia, padahal bentuk kezaliman yang dilakukan zionis sudah diluar batas kemanusiaan.

Penderitaan rakyat Palestina akibat zionis Israel menggambarkan perdamaian dunia saat ini sudah tidak baik-baik saja, lembaga dunia yang mengatasnamakan PBB pun saat ini tidak bisa berbuat apa-apa, dan tidak mampu menciptakan kehidupan Yang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.
Yang lebih memprihatinkan, negeri-negeri muslim yang jumlahnya mayoritas banyak dibanding negara non muslim, tidak mampu melindungi rakyat Palestina. Mereka hanya mengeluarkan kecaman, dan hanya sibuk menjaga kepentingan politik dan ekonomi masing-masing negaranya. Padahal dalam Islam, satu muslim dengan muslim lainnya adalah satu tubuh oleh karena itu, kaum mukminin harus saling mencintai, menyayangi karena bagaikan satu tubuh, jika satu anggota tubuh sakit maka seluruh tubuh akan merasakannya. Tapi faktanya saat ini, ketika rakyat Palestina dibombardir dan di genosida negara Muslim hanya cukup mengecam saja tidak ada gerak atau bukti nyata dalam memperjuangkan rakyat Palestina. Padahal tanah Palestina adalah, tanah yang diberkahi Allah SWT disana terdapat mesjid Al-aqsa yang menjadi kiblat pertama seluruh kaum muslim dan merupakan salah satu tempat suci umat Islam. Ditempat itu, bukti sejarah bagai mana para nabi dan Rasul mendakwahkan dan memperjuangkan tegaknya agama Islam.

Saat ini dikabarkan, bahwa Israel akan memperluas wilayah penduduknya di jalur Gaza, hal ini sangat mengkhawatirkan bahwa perluasan kontrol wilayah di Gaza bisa memperburuk krisis kemanusiaan yang berdampak pada rakyat Palestina. Dalam hal ini, tentunya sebagai sesama muslim kita tidak hanya menjadi penonton dan mengamati segala penderitaan yang terjadi kepada rakyat Palestina. Dan sebagai sesama muslim wajib hukumnya melakukan jihad untuk membela sodara muslim kita. Semua ini akan terwujud jika seluruh umat muslim bersatu dalam naungan kepemimpinan Islamiyah yaitu daulah khilafah. Karena dalam kepemimpinan sistem Islam, negara akan melindungi seluruh umat di dunia. Negara akan menggerakkan pasukan militer untuk membebaskan rakyat Palestina. Negara dalam sistem Islam, akan melindungi dan mengembalikan kehidupan rakyat Palestina dalam suasana yang aman dan damai. Dalam pemerintahan Islam, negara akan mempersatukan umat dan akan memberikan solusi segala problematika umat. Oleh karena itu, sudah saatnya kita kembali kepada sistem syariat Islam yang akan melindungi kemuliaan agamanya, karena janji Allah Swt itu nyata, pertolongannya akan datang pada orang-orang yang beriman.

Wallahu alam Bis’showab

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *