Pewarta : Tim Liputan
Koran SINAR PAGI,Bandung,- Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, pada masa kepemimpinannya yang sudah berjalan selama satu tahun, terdapat kenaikan dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bandung.
Untuk itu, lewat arahan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, Pemerintah Kota Bandung menaikkan anggaran pembangunan dan perbaikan jalan raya.
“PAD meningkat secara signifikan dan berkat bimbingan Pak Gubernur, belanja infrastruktur juga meningkat. Anggaran infrastruktur jalan naik dari Rp 130 miliar menjadi Rp 300 miliar,” kata Farhan di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana, Kota Bandung, Kamis (19/2/2026) kemarin.
Meski meningkat, Farhan memastikan anggaran perbaikan jalan di Kota Bandung perlu dikelola lebih cermat lagi agar bisa tepat sasaran.
“Tantangannya adalah ketika kita harus memastikan perencanaan matang agar anggaran Rp 300 miliar itu benar-benar terserap,” tuturnya.
Menurut Farhan, selama ini sering kali pengguna anggaran lebih memprioritaskan perbaikan jalan yang sifatnya perbaikan kecil-kecil saja.
“Jangan hanya besar di depan, tetapi tidak terpakai di belakang. Itu tidak boleh terjadi,” ucapnya.
Soal Sampah
Selain soal peningkatan anggaran perbaikan jalan, Farhan mengatakan di masa satu tahun kepemimpinannya, Pemkot Bandung masih berupaya menangani sampah yang kerap menggunung di beberapa lokasi Tempat Pembuangan Sementara.
“Sampah tentu menjadi topik favorit. Saya melihat apa yang dilakukan Menteri Lingkungan Hidup sejatinya bentuk dukungan, bukan punishment. Dengan begitu, kini kita memiliki parameter kuantitatif yang jelas dari Kementerian Lingkungan Hidup terkait pengelolaan sampah,” ucapnya.
Farhan mengatakan, perlu ada perubahan pola yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung dalam pengelolaan sampah agar tidak lagi sekadar mengandalkan buang sampah ke TPA Sarimukti.
“Ada beberapa skor penilaian seperti penganggaran, sumber daya manusia, lahan, dan kualitas pengolahan sampah. Selama ini kita berpikir yang penting sampah diolah. Ternyata tidak sesederhana itu. Sampah harus jelas menjadi apa, prosesnya ramah lingkungan atau tidak, dan apakah melibatkan partisipasi masyarakat,” tuturnya.
“Kami masih memiliki skor rendah dalam kapasitas SDM, partisipasi masyarakat, serta kualitas pengolahan sampah menjadi produk daur ulang yang bernilai. Itu yang akan kami perbaiki. Mudah-mudahan ini dapat mengurangi setoran sampah ke Sarimukti,” tuturnya.








Komentar