Penulis: Dwi Arifin (Duta Baca Koran SINAR PAGI)
Dahulu ketika orang tua membawa jajanan dari pasar. Jajanan tersebut dibungkus oleh seperempat halaman koran. Bagi yang memiliki hobi membaca, maka kertas koran itu dianggap sebagai bonus. Sebab selain merasakan perut yang akan terasa kenyang, akal pikiran juga akan terasa berisi.
Walapun hanya seperempat halaman, jika ketagihan maka akan ingin membeli koran secara utuh di kemudian hari. Jika sudah terbiasa membaca koran, untuk rutin membaca buku yang lebih tebal akan menjadi hal baru dalam mengisi hari-hari ke depan.
Masihkah Perlu Jajan Koran di Era Digital?
Di zaman semua ada di HP, jajan koran dan buku merupakan bagian dari keseimbangan menjalani keseharian.
- Detoks dari algoritma.
Koran dan buku tidak pakai algoritma yang memilihkan apa yang disuka. Tetapi sebagai pembaca dipaksa menyimak berita yang tidak dicari, opini yang cenderung tidak disetujui, genre yang tidak biasa dibaca. Di situlah wawasan melebar.
- Latihan fokus yang mahal.
Scroll itu gampang. Membaca satu artikel koran sampai habis tanpa buka Instagram itu latihan berpikir fokus. Membaca satu bab buku tanpa cek WA itu prestasi disiplin harian.
- Meninggalkan jejak.
Koran kemarin bisa jadi bungkus gorengan, tapi juga bisa jadi arsip penting. Buku yang telah dibeli, 10 tahun lagi mungkin masih ada di rak penyimpanannya untuk dibaca anak-anak sekarang yang nanti masuk usia remaja.
Cukup dari ketiga hal itu yang menjadi keistimewan dari membeli koran dan buku, serta dengan memulai kebiasaan itu menjadi rutinitas baru untuk menambah ilmu pengetahuan secara harian atau mingguan.










Komentar