Pewarta : Euis Niki
Koransinarpagionline.com | SUMEDANG – Memasuki usia ke-44 tahun sebagai wilayah administratif, Pemerintah Desa (Pemdes) Palabuan, Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang, menegaskan komitmennya dalam mempercepat transisi menuju status Desa Mandiri. Komitmen ini ditandai dengan peresmian sejumlah infrastruktur strategis serta penguatan partisipasi masyarakat dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Desa Palabuan, Minggu (30/8/2026).
Kepala Desa Palabuan Nana Supriatna menyatakan bahwa capaian pembangunan tahun ini merupakan hasil kolaborasi sinergis antara aparatur desa dan masyarakat. Fokus utama tahun 2026 adalah penyediaan fasilitas publik yang inklusif dan berkelanjutan. Salah satu tonggak penting adalah beroperasinya tempat ibadah multifungsi yang dibangun di atas lahan wakaf seluas 100 tumbak (±1.400 m²).
“Infrastruktur ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan wujud kedaulatan sosial warga. Fasilitas ini dirancang untuk melayani kebutuhan spiritual sekaligus fungsi sosial kemasyarakatan, seperti pernikahan dan musyawarah warga, tanpa membebani anggaran desa secara berulang,” ujar Kepala Desa Palabuan saat menghadiri rangkaian HUT Desa.
Penegasan Batas Wilayah Melalui Aktivitas Fisik
Dalam upaya memperkuat tata kelola wilayah, Pemdes Palabuan mengintegrasikan sosialisasi batas desa ke dalam kegiatan olahraga Starbas (Trabas). Metode ini dipilih untuk memberikan pemahaman spasial yang konkret kepada masyarakat mengenai aset dan yurisdiksi desa.
“Kami tidak hanya mengandalkan peta administratif. Melalui Starbas, warga diajak menyusuri langsung batas utara dengan Desa Tomo dan Keboncau, hingga kawasan hutan di arah Karedok/Ujungjaya. Literasi batas wilayah ini krusial untuk mencegah sengketa tanah dan memastikan pengelolaan aset desa berjalan transparan,” jelasnya.
Ekonomi Kerakyatan dan Wisata Berbasis BUMDes
Transformasi menuju Desa Mandiri juga ditopang oleh penguatan ekonomi lokal. Kepala Desa Palabuan menyoroti peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam mengelola sirkuit balap sebagai destinasi wisata unggulan. Ke depan, pengembangan ekosistem wisata akan diperluas dengan pembangunan jogging track dan area mini chopper untuk meningkatkan retensi pengunjung dan multiplier effect bagi UMKM setempat.
“Pariwisata harus menjadi lokomotif ekonomi, bukan sekadar tontonan. Kami memastikan setiap pengembangan wisata bermuara pada peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADes) dan penyerapan tenaga kerja lokal,” tegasnya.
Jaring Pengaman Sosial dan Target Kemandirian
Di tengah akselerasi pembangunan fisik, Pemdes Palabuan tetap mempertahankan sensitivitas sosial. Rangkaian HUT Desa diisi dengan santunan bagi anak yatim dan lansia, serta tradisi “gogo ikan” sebagai simbol ketahanan pangan dan kebersamaan.
Menutup sambutannya, Kepala Desa Palabuan menekankan bahwa kemandirian desa adalah tentang kapasitas, bukan isolasi. “Desa Mandiri berarti memiliki ketahanan fiskal dan sosial yang kuat. Gotong royong adalah modal sosial terbesar kami, dan potensi lokal adalah engine pertumbuhan kami. Kami optimistis Palabuan dapat berdiri di atas kaki sendiri dalam lima tahun ke depan,” pungkasnya.








Komentar