Oleh : Amanahtya
Sebagaimana kita ketahui, Dunia pendidikan kini kembali ternoda. Sekolah, pesantren, perguruan Tinggi seharusnya menjadi tempat yang aman nyaman untuk mengenyam pendidikan memberikan trauma yang mendalam bagi para pelajar dan juga dan juga orang tua.
Sungguh miris dan mengejutkan 24 Persen siswa diIndonesia ini mengalami bulying contoh nya seperti baru baru ini terjadi dipondok pesantren lombok Tengah, ada tiga santri yang di duga dibakar oleh seniornya akibat bulying.
Lebih mirisnya lagi,pihak ponses dinilai lepas tanggung jawab atas kejadian ini.Akibat insiden pembakaran tersebut, dua santri mengalami luka bakar disekujur tubuh, sementara satu santri lain nya dilaporkan meninggal dunia.
Dengan demikian sungguh miris bulying siswa Indonesia ini cerminan sistem pendidikan yang gagal.
Apalagi pendidikan Pesantren selama 24 jam bersama, kasus perundungan adalah tantangan berat. Karena para pelajar diluar pengawasan pihak sekolah yg semakin membuat para orang tua khawatir untuk memasukan anak ke pesantren.
Sejatinya Perundungan 24 Persen siswa diIndonesia mengalami bulying cermin sistem pendidikan yang gagal. Perundungan dengan jumlah yang tidak sedikit bisa terjadi karena saat ini kita berada di sistem kapitalisme.
Dan kapitalisme memiliki paham sekularisme yaitu memisahkan Islam dari kehidupan yang membuat generasi tumbuh menjadi pribadi yang bejat, suka menindas dan sadis. Jika pendidikan di Indonesia menggunakan sistem sekularisme maka pendidikan berorientasi pada pencapaian akademik dan dan materi, bukan pembentukan syakhshiyyah Islamiyah. Akibatnya, karakter generasi ruksak, Senioritas negatif, dan kekerasan pun tumbuh subur dilingkungan pendidikan.
Dalam kapitalisme dan sekulerisme, bisa di pastikan negara gagal sebagai raa’in yang melindungi generasi. Kasus bullying terus meningkat setiap tahun namun penanganan nya tetap reaktif dan parsial, tanpa menyentuh akar masalahnya. Akar masalahnya adalah karena sanksi bagi pelaku bullying tidak tegas dan tidak menjerakan, bahkan membebaskan pelaku kejahatan dengan alasan di bawah umur. Sehingga kasus terus berulang bahkan semakin parah bullying dari tahun ke tahun.
Berbeda dengan peradaban Islam, bullying merupakan tindakan berdosa karena menyakiti orang lain. Keimanan dan ketakwaan yang kokoh akan menjadi benteng dari dalam dari generasi ketika berpikir dan beramal.
Dan yang pasti, Negara hadir sebagai raa’in dan junnah bagi rakyat, ia memastikan setiap lembaga pendidikan berada dalam pengawasan penuh negara dan bebas dari segala bentuk senioritas negatif,diarahkan pada senioritas positif, seperti kakak kelas membimbing adik kelasnya dengan Islam. Dengan begitu tidak akan ada penindasan senior terhadap junior.
Dengan demikian, marilah kita perjuangkan syariah Islam diterapkan di dunia ini agar segala problematika memiliki solusi yang tepat. Karena itu Akar solusinya datang dari Allah swt baik itu permasalahan kaum muslim maupun non-muslim karena Islam adalah Rahmatan Lil Alamiin.
Wallahu ‘Alam Bissawab








Komentar