oleh

Jabar Istimewa Berbasis Catur Watak dan Panca Waluya

Pewarta: Dwi Arifin

(Koran SINAR PAGI)-, Lina, S.Pd., M.T., sebagai anggota struktur organisasi Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) yang bertugas di Departemen Pengembangan Profesi. Saat ini ditugaskan sebagai kepala sekolah di SMAN 1 Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Lina, S.Pd., M.T., menjelaskan bahwa “Model Kepemimpinan Kepala Sekolah Istimewa” yang diharapkan oleh pemerintah provinsi Jawa Barat ialah terbentuknya kepala sekolah yang mampu meningkatkan layanan pendidikannya, mengembangkan Sumber Daya Manusia berkarakter, transformatif dan adaptif, serta memiliki ciri khas Catur Watak, yaitu:

  • Silih Asih (Saling Menyayangi): Menekankan kasih sayang yang tulus antar sesama manusia tanpa membedakan ras, agama, atau golongan, sehingga menciptakan hubungan yang harmonis.
  • Silih Asah (Saling Mencerdaskan): Mendorong sikap saling mendidik, berbagi ilmu pengetahuan, dan memperluas wawasan agar bersama-sama menjadi lebih cerdas atau berilmu.
  • Silih Asuh (Saling Mengayomi): Berarti saling membimbing, menjaga, dan melindungi, terutama kepada mereka yang lemah atau membutuhkan bantuan, untuk menciptakan rasa aman.
  • Silih Wawangi (Saling Mengharumkan): Sering ditambahkan sebagai bagian dari watak kepemimpinan Siliwangi, yang berarti saling memberikan pengaruh positif, menghargai, dan menjaga martabat satu sama lain.

“Falsafah tersebut merupakan warisan atau kultur kecerdasan bermasyarakat yang harus dipertahankan oleh suku Sunda yang menjadi landasan kepemimpinan dan kehidupan bermasyarakat agar terwujud hubungan yang sinergis dan damai untuk membangun daerahnya” hal itu diungkapkan Lina, S.Pd., M.T., saat interaktif bersama wartawan setelah menghadiri Rakerda AKSI Jabar di Gedung BBGTK Jabar pada 13-14 Februari 2026.

Khusus di satuan pendidikan yang ada di Jawa Barat, Dinas Pendidikan Jabar telah memiliki program khusus untuk daerahnya, melalui pendidikan Gapura Panca Waluya. Sebagai program pendidikan karakter berbasis kearifan lokal Sunda yang digagas oleh pemerintah Jawa Barat untuk membentuk peserta didik yang unggul, sehat, dan berakhlak mulia.

Program yang menekankan lima pilar nilai utama Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer untuk mencetak generasi atau lulusan yang unggul secara akademik sekaligus kuat secara moral, sosial, dan spiritual.

Menurutnya makna rinci dari Panca Waluya itu,

  • Cageur (Sehat): Sehat jasmani dan rohani, serta mampu mengelola emosi.
  • Bageur (Baik): Berakhlak mulia, ramah, jujur, serta peduli terhadap sesama dan lingkungan.
  • Bener (Benar): Berpikir kritis, disiplin, jujur, dan bertanggung jawab.
  • Pinter (Pintar): Cerdas, komunikatif, kreatif, dan berwawasan kebangsaan.
  • Singer (Terampil/Cekatan): Mampu beradaptasi, inovatif, dan cekatan dalam bertindak.

Implementasi Panca Waluya mulai diterapkan melalui berbagai langkah atau program di Sekolah. Dengan dikolaborasikan bersama gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH) inisiatif Kemendikdasmen untuk membentuk karakter generasi emas 2045. Melalui pembiasaan rutin, Bangun Pagi, Beribadah, Berolahraga, Makan Sehat, Gemar Belajar, Bermasyarakat, dan Tidur Cepat. Kebiasaan itu berfokus membentuk kedisiplinan, spiritualitas, kesehatan fisik-mental, dan kepedulian sosial yang dapat diterapkan secara konsisten di sekolah dan rumah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *