oleh

“Ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ Menuju Kehidupan Islam”

Oleh : Yuni Irawati (Ibu Rumah Tangga)

Setiap tahun umat Islam memperingati Maulid Nabi ﷺ dengan berbagai kegiatan, seperti pembacaan shalawat, tabligh akbar, dan pawai. Kegiatan tersebut menjadi bentuk kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, namun hendaknya tidak berhenti hanya pada aspek ritual dan emosional.

Momentum Maulid seharusnya menjadi kesempatan untuk memahami kembali perjuangan dan risalah yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ.

Ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ juga tidak cukup hanya dengan meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih dari itu, umat Islam perlu memahami bagaimana Rasulullah ﷺ membawa perubahan dari kehidupan jahiliyah menuju kehidupan yang berlandaskan tauhid, yaitu penghambaan yang hanya ditujukan kepada Allah Swt.

Saat ini, kesadaran umat Islam untuk melakukan perubahan sebenarnya mulai tumbuh. Banyak yang menginginkan kehidupan yang lebih baik dan sesuai dengan nilai-nilai Islam. Namun, keinginan tersebut perlu diarahkan dengan pemahaman yang benar agar perubahan tidak sekadar bersifat spontan atau emosional, melainkan memiliki tujuan yang jelas.

Karena itu, momentum Maulid Nabi ﷺ seharusnya menjadi sarana untuk mempelajari kembali metode perjuangan Rasulullah ﷺ. Dengan memahami dakwah, pembinaan umat, dan perjuangan beliau secara menyeluruh, umat Islam dapat meneladani Rasulullah ﷺ bukan hanya dalam akhlak, tetapi juga dalam perjuangan menegakkan kehidupan yang berlandaskan ketaatan kepada Allah Swt.

Maulid jangan sampai hanya menjadi ekspresi kecintaan kepada Rasulullah ﷺ melalui shalawat, ceramah, dan berbagai kegiatan seremonial, tetapi tidak melahirkan perubahan dalam kehidupan. Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ seharusnya dibuktikan dengan mengikuti risalah yang beliau bawa, menaati ajarannya, serta berusaha menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan secara menyeluruh.

Namun, umat Islam saat ini sering kehilangan kesadaran bahwa bentuk penghambaan kepada selain Allah masih dapat muncul dalam kehidupan secara sistemik. Orientasi hidup yang menjadikan materi, dunia, kebebasan tanpa batas, dan hawa nafsu sebagai ukuran kebahagiaan menunjukkan kuatnya pengaruh pemikiran demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme yang bertentangan dengan prinsip ketundukan kepada Allah Swt.

Karena itu, momentum Maulid semestinya menjadi sarana untuk membangkitkan kembali kesadaran umat. Cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar perasaan di dalam hati, tetapi harus mendorong umat untuk memahami risalah Islam, menjadikannya sebagai pedoman hidup, serta berusaha mewujudkan perubahan menuju kehidupan yang sesuai dengan tuntunan Allah Swt.

Di sisi lain, sistem kapitalisme akan cenderung mempertahankan nilai dan struktur yang menopang keberlangsungannya.

Karena itu, berbagai suara yang menyerukan kebangkitan umat dan perubahan mendasar dapat menghadapi berbagai tantangan.

Maka, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ perlu diwujudkan dengan keteguhan dalam mempelajari Islam, menyampaikan kebenaran dengan cara yang bijak, dan membangun kesadaran umat agar kembali menjadikan Islam sebagai pedoman kehidupan.

Ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar memperbanyak ritual atau menunjukkan kecintaan secara emosional, tetapi merupakan bentuk ketaatan dengan mengikuti ajaran dan tuntunan yang beliau bawa.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 31: “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.”

Ayat ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah ﷺ harus diwujudkan dengan mengikuti syariat dan petunjuk beliau dalam kehidupan.

Di tengah dominasi sistem kapitalisme-sekuler, umat Islam perlu memahami kembali bahwa Islam bukan hanya mengatur ibadah pribadi, tetapi juga memiliki aturan yang mengatur kehidupan masyarakat. Karena itu, perjuangan untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah menjadi bagian penting dari upaya mewujudkan kehidupan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.

Dalam perspektif perjuangan Islam, hal ini dikaitkan dengan kepemimpinan Islam atau Khilafah, sebagaimana sejarah dakwah Rasulullah ﷺ menunjukkan upaya membangun masyarakat dan pemerintahan berdasarkan Islam.

Rasulullah ﷺ dalam dakwahnya menempuh tahapan yang bertahap dan terarah. Tahapan tersebut dikenal dengan marhalah tatsqif, yaitu pembinaan dan pembentukan kepribadian Islam; kemudian tafa’ul ma’al ummah, yaitu berinteraksi dengan umat untuk membangun kesadaran Islam; dan terakhir istilamul hukmi, yaitu penerimaan kekuasaan untuk menerapkan Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Bagi mereka yang menggunakan kerangka perjuangan ini, tahapan tersebut dipandang sebagai metode dakwah yang perlu dipelajari dan dijadikan pelajaran.

Dengan memahami makna ittiba’ secara lebih utuh, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tidak berhenti pada ucapan dan perayaan, tetapi mendorong umat untuk mempelajari, mengamalkan, dan menyebarkan ajaran Islam dengan cara yang benar. Tujuan akhirnya adalah menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Anbiya ayat 107: “Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” Wallohualam bishawab.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *