oleh

Hari Pendidikan yang Menghidupkan Kenangan

Penulis: Nur Fadilah (Ketua Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Desa Sambirata, Cilongok Banyumas Tahun 2020)

Setiap tanggal 2 Mei, orang memperingati Hari Pendidikan Nasional dengan berbagai cara. Ada yang dengan upacara, tulisan, atau unggahan di media sosial. Begitupun bagiku, tanggal itu selalu membawa ingatan tersendiri. Ingatan tentang seorang sederhana yang menjadi guru pertamaku dalam memahami kehidupan. Ia dalah kakekku sendiri, Wangsanom bin Singawijaya.

Beliau telah menghadap Sang Ilahi pada tahun 2012 atau 14 tahun berlalu, namun hingga hari ini suaranya masih terasa dekat di telinga. Masa kecil dipenuhi langkah-langkah kecil mengikutinya ke manapun beliau pergi. Kadang ke hutan mencari kayu bakar, mencari rumput, atau sekadar berjalan menyusuri pematang sawah. Selalu membuntutinya seperti bayangan kecil yang tak ingin tertinggal. Dari perjalanan-perjalanan sederhana itulah menjadi belajar, bahwa pendidikan tidak selalu hadir di ruang kelas. Kadang ia tumbuh dari langkah kaki orang tua yang penuh keteladanan. Seperti kata Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia yaitu: “Jadikan setiap tempat sebagai sekolah, jadikan setiap orang sebagai guru”. Pendidikan tak berhenti di bangunan sekolah saja, tapi juga di rumah, di jalan, dan di mana-mana.

Kakek sering bercerita tentang masa penjajahan Belanda, Jepang, Darul Islam/Tentara Islam Indonesia atau DI/TII, hingga masa Partai Komunis Indonesia /  PKI. Ceritanya bukan sekadar sejarah, melainkan potongan hidup yang benar-benar ia alami sendiri. Dari wajahnya yang penuh keriput, aku sadar bahwa kemerdekaan bukan hadiah yang datang tiba-tiba. Ada lapar, ketakutan, kehilangan, dan perjuangan panjang yang pernah dilalui generasi mereka. Di saat anak-anak sekarang mengenal perang lewat layar gawai, generasi beliau pernah hidup di tengah ancaman nyata.

Beliau juga yang mengenalkanku pada aksara Jawa, tembang-tembang lama, istilah Jawa yang penuh filosofi, bahasa, unggah-ungguh, pranata mangsa, weton, dan tradisi yang perlahan mulai hilang ditelan zaman. Bahasa bukan hanya alat bicara, tetapi juga cara menjaga identitas dan menghormati leluhur. Setiap ucapan Jawa yang ia lontarkan selalu mengandung makna mendalam tentang hidup, kesabaran, tata krama, dan penghormatan kepada sesama manusia.

Namun pelajaran terbesar justru datang dari hal-hal yang tampak sederhana. Saat bertemu orang lain, beliau selalu mengucapkan salam, tersenyum, dan menjabat tangan dengan hangat. Pendidikan sejati bukan hanya tentang kepandaian berpikir, tetapi juga tentang cara memperlakukan manusia dengan baik.

Kedisiplinannya dalam beribadah menjadi pemandangan yang tak pernah bisa ku lupakan. Hampir setiap jam 2 atau 3 dini hari, beliau sudah berada di mushola dekat rumah. Dalam usia yang sangat tua, langkahnya tetap menuju tempat sujud. Beliau mengajarkan tata cara wudhu, shalat, menjaga kesucian seharian (menjaga wudhu), membaca hijaiyah, tadarus Al Qur’an, wirid, puji-pujian (shalawat/lagu islami berbahasa Jawa), hingga berbagai puasa sunah seperti puasa Daud dan mutih, juga shalat-shalat sunah. Pendidikan spiritual yang ia berikan tidak pernah terasa memaksa. Semua dilakukan lewat contoh nyata yang dilihat setiap hari.

Usianya kala itu sekitar 96 tahun, bahkan mungkin lebih dari seratus karena orang zaman dahulu sering tidak memiliki catatan kelahiran yang jelas. Giginya tinggal 6, tubuhnya sehat, tak pernah sakit, semangat hidupnya masih menyala. Saat teman-teman sebayanya telah lebih dahulu pergi, beliau masih sanggup berjalan ke hutan dan melakukan aktivitas sendiri. Meski begitu, hampir setiap hari beliau berkata pelan, “Aku wis ora kuat.” Kalimat sederhana yang kini kusadari bukan hanya tentang tubuh yang lelah, tetapi mungkin juga tentang kerinduan untuk pulang kepada Tuhan.

Aku masih ingat bagaimana beberapa hari sekali aku memancing ikan di kolam, lalu menggorengnya untuk beliau. Rasanya sederhana, tetapi kini menjadi kenangan yang sangat mahal. Kadang kita baru menyadari bahwa kebahagiaan terbesar ternyata lahir dari perhatian-perhatian kecil yang dulu terasa biasa saja. Duduk bersama orang tua, mendengarkan cerita mereka atau menemani makan, kelak bisa menjadi hal yang paling dirindukan ketika mereka telah tiada.

Menjelang akhir hayatnya, beliau sakit selama lima hari. Namun shalat tidak pernah ditinggalkan. Saat sudah tak mampu bangun, beliau tetap bertayamum dan berusaha menunaikan ibadahnya. Masih terngiang perkataan beliau saat itu, “Aku dadi ngrepoti Yoh?”. Waktu aku, adikku, mama, dan nenek bergantian membantunya membersihkan kotorannya saat ia benar-benar tak bisa bangun. Beliau hidupnya benar-benar tak mau membebani orang lain di sekitarnya.

Malam sebelum wafatnya, aku justru sibuk belajar karena akan menghadapi ujian. Aku tidak banyak menemaninya malam itu. Bahkan ketika beliau bertanya, “Kok Dila ga kelihatan?” aku hanya berpikir beliau akan segera sembuh karena wajahnya tampak lebih segar. Pagi harinya, beliau terbaring dengan mata terpejam dan napas yang terengah-engah sambil menyebut asma Allah. Aku duduk di sampingnya, menuntun kalimat “Laa ilaaha illallah” dan membacakan surah yasin hingga akhirnya beliau pergi menghadap Sang Ilahi.

Hari ini, di Hari Pendidikan Nasional 2026, aku kembali mengenang beliau dengan cara yang berbeda. Datang bersama putriku, “Sunflower” ke makam. Aku ingin ia tahu bahwa pendidikan bukan hanya tentang nilai, ijazah, atau sekolah tinggi. Pendidikan juga tentang adab, keteladanan, kasih sayang, spiritualitas, dan warisan nilai kehidupan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Sebab beberapa guru terbaik dalam hidup kadang tidak pernah berdiri di depan papan tulis. Mereka hadir di rumah-rumah sederhana, memakai sarung lusuh, dengan tangan renta yang diam-diam sedang membentuk masa depan cucunya.

“14 tahun berlalu, tetapi kenangan dan nilai-nilai yang engkau ajarkan takkan lekang oleh waktu. Semoga bahagialah di sana, kakeku. Doaku akan selalu ada”

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *