(Koran SINAR PAGI)-, Melalui Wakil Duta Besar (WaDubes) dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) resmi menerima kunjungan delegasi Kemendikdasmen RI dalam rangka 2026 China-ASEAN Education Cooperation Week The 2026 China-ASEAN (Indonesia) Training Course on Teachers’ IT Teaching Competence Improvement. Sebanyak 52 peserta (Guru, Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, Widyaiswara, dan PTP / Pengembang Teknologi Pembelajaran) dari Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan Jawa Barat, BGTK DKI Jakarta, dan BGTK Banten turut berpartisipasi dalam program ini.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd., sempat mengingatkan kepada para peserta bahwa “keberadaan teknologi AI adalah untuk membantu efisiensi administrasi pendidik serta optimalisasi pembelajaran dan peran vital seorang guru tidak akan pernah tergantikan”, ungkapnya.
Pada saat menyambut kunjungan tersebut, Dr. Irene M. Han., Wakil Duta Besar RI untuk Beijing didampingi Lestari Puspitaningsih, S.S., S.Sos., M.A., Ph.D., Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Beijing, Tiongkok menegaskan ”Hubungan Indonesia dan Tiongkok telah memasuki babak yang semakin erat, termasuk di bidang pendidikan.
“Kami meyakini bahwa kolaborasi pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang akan melahirkan sumber daya manusia unggul, memperkuat inovasi, dan membangun masa depan kawasan yang damai, inklusif, dan sejahtera,”ucapnya
Lina, S.Pd., M.T., Kepala SMAN 1 Padalarang, yang aktif di Departemen Pengembangan Profesi Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia, peserta program tersebut menyimpulkan bahwa pembelajaran tentang AI hari ini memberikan pengetahuan pada guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan pembelajaran dengan bantuan AI yang memudahkan khususnya dalam penyusunan bahan ajar dan teknis pengambilan foto atau media agar menarik tampilannya.

“Pembelajaran yang semakin menarik akan meningkatkan minat peserta didik. Aplikasi AI untuk pembelajaran yang dikembangkan di China bisa kembangkan di Indonesia juga. Baik untuk pembelajaran personal ataupun pembelajaran bisa digunakan di wilayah lain yang lebih luas. Sehingga guru dapat memberikan pembelajaran tidak terbatas waktu dan tempat,” ucapnya
Menurutnya kelebihan di China, dalam pemakaian handphone siswanya, ada yang khusus untuk belajar atau berbeda dengan HP orang dewasa. Serta kedisiplinan lainnya ialah saat melihat anak-anak yang saya temui di kota Guizhou, setiap mereka bertemu bersama orang tuanya, tidak bermain HP. Sehingga hanya fokus berinteraksi dengan keluarganya dan lingkungannya.

Peserta lainnya, Astri Ratna Dewi, M.Pd., Kepala SD Negeri Tugu Utara 22, Kota Administrasi Jakarta Utara melalui akun media sosial pribadinya mengungkapkan Alhamdulillah bisa menjadi bagian dari peserta Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru dan Tendik di tingkat internasional.
“Sebuah ikhtiar untuk terus meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan tata kelola pendidikan. Semoga perjalanan dan kegiatan ini membawa berkah,”ungkapnya.








Komentar