(Koran SINAR PAGI)-, SMK NU 2 Kedungpring Lamongan sebagai institusi pendidikan vokasi unggulan di Kabupaten Lamongan yang berkomitmen mencetak talenta digital berkarakter dan siap kerja melalui pendekatan pembelajaran berbasis proyek nyata.
SMK NU 2 Kedungpring Lamongan sukses menyelenggarakan puncak Uji Kompetensi Keahlian (UKK) Pemasaran Bisnis Digital. Kegiatan ini merupakan hasil nyata dari program Project Based Learning (PjBL) selama enam bulan, di mana para siswa kelas XII terjun langsung membantu UMKM di Kabupaten Lamongan untuk meningkatkan omzet melalui strategi distribusi konten digital.
Program ini lahir dari kolaborasi strategis antara pihak sekolah dengan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan Kabupaten Lamongan, yang didukung penuh oleh Asosiasi Komunitas Profesi Sales Indonesia (KOMISI). Selama satu semester, siswa berperan sebagai pendamping digital bagi pelaku usaha, mulai dari penguatan product knowledge hingga eksekusi pemasaran di berbagai platform media sosial.
Kepala SMK NU 2 Kedungpring, Anik Khoiriyah, S.Pd., menekankan bahwa model pembelajaran ini berfokus pada hasil nyata di masyarakat. “UKK ini bukan sekadar ujian akhir, melainkan pembuktian bahwa siswa kami mampu memberikan solusi konkret bagi UMKM. PjBL memastikan lulusan kami memiliki portofolio yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini,” ujarnya.
Dari sisi kurikulum, Nur Hidayati, S.Ab., selaku Kepala Program Jurusan Bisnis Digital (BD), menjelaskan bahwa konsistensi adalah kunci keberhasilan siswa. “Selama 6 bulan, siswa tidak hanya belajar teori. Mereka mempraktikkan cara membedah produk dan mendistribusikan konten secara masif. Hasilnya, dampak terhadap ekonomi pelaku usaha dampingan mereka mulai terlihat,” jelasnya.
Moh Syafiudin, S.Pd., Waka Humas SMK NU 2 Kedungpring, menambahkan bahwa sinergi lintas instansi ini sangat krusial. “Keterlibatan Dinas Koperasi dan KOMISI memastikan bahwa standar yang kita terapkan di sekolah sudah ‘link and match’ dengan ekosistem industri digital dan perdagangan di lapangan,” tambahnya.
Melalui kolaborasi antara sekolah dengan Asosiasi Komunitas Profesi Sales Indonesia (KOMISI) sebagai wadah profesional pemasaran terbesar di Indonesia yang aktif menjembatani dunia pendidikan (SMK) dengan standar kompetensi industri nasional.
Dalam ujian ini, Ahmad Madani, perwakilan dari KOMISI sekaligus Juri Nasional LKS Digital Marketing, bertindak sebagai penguji eksternal. “Saya sangat mengapresiasi kedalaman pemahaman siswa terhadap produk dan ketajaman strategi distribusi konten mereka. Kompetensi ini sangat dicari oleh industri saat ini. Mereka sudah bukan lagi sekadar pelajar, tapi praktisi junior yang kompeten,” tegas Madani.
Pengalaman lapangan ini memberikan dampak mendalam bagi para siswa. Nayla Raysa mengungkapkan kepuasannya saat melihat konten buatannya memicu interaksi pelanggan bagi UMKM. Sementara Dicky Maulidi dan Anggun Ferlita merasa jauh lebih siap menghadapi dunia kerja karena telah terbiasa memecahkan masalah pemasaran yang nyata di lapangan selama masa PjBL.
Kegiatan UKK ini diharapkan menjadi standar baru bagi pendidikan vokasi di Lamongan dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang berdampak langsung pada penguatan ekonomi kerakyatan melalui digitalisasi.








Komentar