Penulis: Dwi Arifin (Ketua Lajnah Ta’lif wan Nasyr Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Katapang)
Karya sastra Arab yang populer “Laula Murobbi Lamma ‘arofna robbi, wa laulal ulama lamma ‘arofnal anbiya”:
“Seandainya tidak ada pendidik (murobbi), niscaya kita tidak akan mengenal Tuhan kita. Dan seandainya tidak ada para ulama, niscaya kita tidak akan mengenal para nabi.“
Makna dari kalimat itu menekankan peran sentral guru (murobbi) dan ulama dalam membimbing manusia untuk memahami agama, mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan meneladani para nabi. Keduanya adalah perantara penting dalam penyampaian ilmu, petunjuk kebenaran serta jalan keselamatan Dunia dan Akhirat.
Dirangkum dari NU Online, dalam proses menjalankan fungsi pendidikan itu mencakup tiga hal; taklim, tarbiyah dan ta’dib.
Pertama, taklim yakni metode sekadar proses mentransfer ilmu dari seorang guru kepada murid-muridnya. Kedua, ta’dib merupakan istilah seorang guru yang memperhatikan akhlak para murid-muridnya, dan tidak menfokuskan kepada yang lainnya. Ketiga, tarbiyah yaitu metode yang menggabungkan keduanya.
“Tarbiyah merupakan metode yang menggabungkan taklim dan ta’dib, yakni guru bukan hanya sekadar mentransfer ilmu tetapi sekaligus mendidik fokus membentuk akhlak para murid,”
Singkatnya definisi, ta’dib mencakup unsur-unsur mengukur pengetahuan dengan perkembangan dari praktek (ilmu), sedangkan proses pengajaran agar ilmu sampai kepada murid disebut (ta’lim), dan pengasuhan atau pembimbingan dari kedua proses itu merupakan (tarbiyah).
Ilmu sering digambarkan sebagai cahaya yang menerangi kehidupan. Ilmu cenderung hanya menetap di hati yang bersih. Sehingga banyak mereka yang sebelum belajar ilmu menjalankan tirakat atau riyadhoh sebagai upaya latihan rohani dan spiritual untuk menyucikan jiwa, mengendalikan hawa nafsu, dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ada yang dengan berpuasa dahr atau puasa bertahun-tahun, menjaga wudhu, membaca dzikir khusus sebelum memulai belajar atau berkhidmah kepada guru.
Dalam proses menjemput ilmu, memiliki sahabat setia juga termasuk hal penting. Karena mereka dapat menjadi teman diskusi, teman saling mengingatkan atau menguatkan untuk bersama-sama menjemput ilmu atau saling tolong menolong untuk meringankan beban mencari ilmu.
Dalam proses berguru memiliki banyak guru sangat dianjurkan. Misalnya memiliki minimal 3 guru. Jika satu guru tutup usia, maka masih ada guru lainnya. Jika kita menerima ilmu dari satu guru, maka sudah semestinya mencari ilmu tentang itu dari guru lain, sebagai pembanding atau pelengkapnya. Tujuannya agar kita memiliki guru utama dari berbagai guru tersebut atau sebagai referensi utama untuk setiap langkah ke depan. Kisah memiliki banyak guru, sehingga menemukan guru utama sempat dijalani oleh Salman Alfarisi sahabat utama Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.










Komentar