oleh

Di Tengah Lorong RSUI, Ustadz Maulana Ajak Pasien Temukan Ketenangan Lewat Sabar

Pewarta : Anis

Koran SINAR PAGI, DEPOK,- Lorong Gedung Entrance RSUI tak hanya dipenuhi suara langkah dan roda kursi roda, Selasa (9/6/2026). Di Lingkar Tengah, RSUI menyulap ruang publik jadi majelis ilmu lewat program “Bicara Sehat Spesial” bertema _“Sabar Saat Sakit, Penggugur Dosa, Penenang Jiwa”_.

Menghadirkan Ustadz Maulana, RSUI ingin menyampaikan pesan penting: penyembuhan tidak berhenti di obat dan tindakan medis. Ada ruang bagi ketenangan batin dan penguatan spiritual yang sama krusialnya bagi pasien dan keluarga.

Mengawali tausiyahnya, Ustadz Maulana mengingatkan bahwa sehat adalah nikmat yang sering luput disyukuri. Menjaga tubuh melalui pola makan seimbang, kebersihan, gerak aktif, dan istirahat cukup merupakan bagian dari ibadah.
“Sakit bukan sekadar cobaan. Ia juga bisa menjadi jalan Allah menggugurkan dosa-dosa kita. Maka bersabarlah, karena sabar itu sendiri adalah ikhtiar menuju sembuh,” tegas Ustadz Maulana.

Kalimat itu menggema. Pasien yang tengah menanti jadwal kontrol, keluarga yang menunggu, hingga petugas RSUI tampak khusyuk. Banyak yang mengusap dada, seolah beban berat sedikit terangkat.
Pesan khusus disampaikan Ustadz Maulana kepada keluarga dan tenaga kesehatan. Merawat orang sakit, katanya, adalah ladang pahala yang terbuka lebar.

“Jangan tunjukkan lelah dan keluh di hadapan pasien. Hadirkan senyum, sabar, dan ketenangan. Karena setiap upaya kita meringankan sakitnya, bernilai ibadah di sisi Allah,” pesannya.
Antusiasme terlihat saat sesi tanya jawab. Jamaah berebut bertanya: bagaimana tetap kuat mendampingi orang tua yang sakit kronis, bagaimana menenangkan anak yang takut dirawat, dan bagaimana menjaga hati agar tidak putus asa.

RSUI Tegaskan Pelayanan Berbasis Hati
Direktur RSUI melalui perwakilan menegaskan, kegiatan ini adalah wujud komitmen rumah sakit pendidikan untuk menghadirkan layanan holistik.
“Kesehatan pasien adalah gabungan fisik, psikis, dan spiritual. Melalui Bicara Sehat Spesial, kami ingin pasien dan keluarga pulang tidak hanya membawa obat, tapi juga membawa ketenangan dan harapan baru,” ujarnya.

Ustadz Maulana menutup tausiyah dengan pengingat yang menggetarkan: tubuh, jiwa, dan hidup kita adalah titipan. Menjaga dan mensyukurinya adalah bentuk pertanggungjawaban kepada Sang Pemilik.
Di RSUI hari itu, obat terbaik kadang bukan kapsul atau infus. Tapi sebaris kalimat sabar yang menenangkan jiwa.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *