Pewarta: Dwi Arifin
(Koran SINAR PAGI)-, Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd., Kepala SMAN 15 Kota Bandung, peraih penghargaan nasional sebagai Kepala Sekolah Pegiat Literasi Finansial. Penganugrahan predikat Pegiat Literasi Finansial berlangsung pada Malam Anugerah Penghargaan Pendidikan Kongres V Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI).
Sebagai Pegiat Literasi Finansial, dirinya memelopori program edukasi investasi pasar modal (nabung saham) sejak dini untuk siswa, guna membangun kemandirian finansial dan mencegah jeratan investasi bodong.
Edukasi investasi bagi Siswa sebagai upaya mendorong mereka untuk belajar menabung saham sejak dini agar memiliki kedisiplinan, kesabaran, dan visi jangka panjang. Khusus di sekolahnya, program tersebut diintegrasikan dengan kurikulum, melalui pembelajaran investasi pasar modal.
Selain itu, dirinya juga produktif menulis di www.logikatuhan.com tentang pembentukan mental mandiri siswa melalui literasi keuangan sejak remaja supaya menjadi karakter, ketika mereka lulus sekolah.
Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd., menjelaskan berdasarkan kisah tentang kondisi 7 tahun paceklik yang berasal dari tafsir mimpi Raja Mesir oleh Nabi Yusuf AS. Mimpi itu meramalkan 7 tahun masa panen melimpah diikuti 7 tahun kekeringan ekstrem. Berkat strategi manajemen pangan Nabi Yusuf, Mesir terhindar dari kelaparan dan menjadi lumbung pangan.
“Nabi Yusuf menyarankan agar selama 7 tahun masa subur, hasil panen disimpan bersama tangkainya kecuali sebagian kecil untuk dimakan. Hal ini dilakukan sebagai cadangan pangan untuk menghadapi 7 tahun masa paceklik berikutnya,” jelasnya saat interaktif bersama Koran SINAR PAGI di ruang kerjanya (19/5/2026)
Berkat sistem penyimpanan dan distribusi yang dipimpin oleh Nabi Yusuf, Mesir berhasil melewati masa krisis tersebut dan bahkan mampu membantu wilayah lain yang mengalami kelaparan.
Kesabaran dalam proses itu merupakan bagian dari menyelamatkan diri atau menyelamatkan harta dari sikap boros.
Ayat lain yang berhubungan dengan pentingnya memperhatikan kondisi diri dan harta di masa depan ialah:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
Serta isi surat An-Nisa ayat 9: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka”
Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam manajemen keuangan atau hartanya, memiliki 3 skala prioritas. Pertama untuk dimakan atau konsumsi harian, kedua infaq atau sedekah, ketiga investasi.
“Investasi merupakan upaya menanamkan modal dalam sistem usaha produktif dengan tujuan mendapatkan keuntungan di masa depan. Namun bahasan tentang pentingnya investasi jarang dijadikan materi dakwah, serta tidak menjadi kepribadian bagi masyarakat,” jelasnya.

Dalam kisah Nabi Ibrahim dan anaknya yang diabadikan di Al Quran, ada penjelasan kisah yang berhubungan dengan indikator kapan waktu seseorang sudah matang atau siap untuk menentukan masa depannya hingga mampu berkorban bagi orang lain.
Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd., menjelaskan dalam konteks pendidikan, kurban berkaitan dengan psikologi. Pelajarannya dapat kita gali dari kisah Nabi Ibrahim dengan anaknya. Kisah Nabi Ibrahim ketika mimpi untuk menyembelih anaknya dikisahkan di dalam Al Quran.
Kisah Al Quran ini seperti dongeng nenek moyang, tetapi karena kisah ini dikabarkan di dalam kitab suci Al Quran, maka kisah ini bukan sekedar dongen. Al Quran mengandung banyak hikmah dan pesan moral.
Dari sudut pandang pendidikan kisah-kisah Al Quran mengandung pesan psikologi pendidikan. Dalam teori psikologi pendidikan setiap anak diperlakukan untuk mencapai dengan “kematangan berpikir”.
Ukuran kematangan berpikir sebagai keberhasilan pendidikan idenya bisa digali dari Al Quran. Ukuran kematangan berpikir dapat digali dari kisah Nabi Ibrahim dengan Ismail anaknya.
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Ash-Shaffat ayat 102)
Nabi Ibrahim mengajak dialog meminta pendapat pada anaknya, untuk berpendapat tentang nasib dirinya. Hal yang ditanyakan bukan perkara sepele, tetapi perkara hidup dan mati dia. Nabi Ibrahim meminta akanya untuk berpikir dan kemukakan pendapat.
Prediksi Terkuat (Psiko-Kognitif) usia 13 Tahun masa awal remaja, mampu berdiskusi demokratis, berpikir abstrak, dan memiliki kemandirian ego. Pada usia ini, kematangan ditandai dengan kemampuan bersabar. Kemampuan bersabar adalah kemampuan menerima kondisi sulit sebagai kondisi yang harus dilalui dan dihadapi (resiliensi).
Ismail anaknya Nabi Ibrahim diprediksi pada awal remaja sekitar 13 tahun, diajak dialog oleh Nabi Ibrahim untuk menentukan nasibnya sendiri. Digambarkan Ismail pada usia awal remaja 13 tahun, sudah memiliki kemampuan berpikir dan mengambil keputusan secara mandiri dan punya keberanian untuk berkorban untuk orang lain.
Kurban secara psikologis membawa pesan, pada usia 13 tahun, idealnya anak-anak sudah punya kematangan berpikir, mengambil keputusan, berani berkorban, dan keyakinan kuat pada Tuhan. Berkurban bisa menjadi bagian pendidikan pada anak-anak usia 13 tahun.
Pendidikan berbasis pada Al Quran, melatih anak-anak mampu berpikir, mandiri, mengambil keputusan, berani berkorban, dan punya keimanan kepada Tuhan, sudah terjadi sejak usia 13 tahun.








Komentar