oleh

Guru Dilecehkan Alarm Keras Kegagalan Pendidikan Saat Ini

Oleh: Heni Ruslaeni (Aktivis Dakwah)

Dunia pendidikan kembali diguncang peristiwa yang memprihatinkan. Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan sejumlah siswa menunjukkan perilaku tidak pantas terhadap seorang guru di dalam ruang kelas. Dalam rekaman tersebut, para siswa terlihat mengejek, menertawakan, bahkan melakukan gestur acungan jari tengah kepada guru, tindakan tersebut jelas merupakan bentuk pelecehan terhadap sosok yang seharusnya dihormati dan dimuliakan. Pihak sekolah memang telah memberikan sanksi berupa skorsing kepada para siswa yang terlibat. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar bukanlah sekadar apakah sanksi telah dijatuhkan, melainkan mengapa keberanian untuk melecehkan guru bisa muncul sejak awal. Sanksi mungkin memberikan efek jera sesaat, tetapi belum tentu menyentuh akar persoalan yang sebenarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, tindakan tidak sopan terhadap guru semakin sering terjadi di berbagai daerah. Guru yang dahulu dikenal sebagai figur teladan dan sangat dihormati, kini semakin sering diposisikan sebagai objek ejekan, bahkan dijadikan bahan hiburan di media sosial. Kondisi ini patut menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan dan masyarakat luas. Ketika guru sudah berani dilecehkan di ruang kelas, tempat yang seharusnya menjadi ruang pembelajaran dan pembentukan karakter, mirisnya persoalan mendasar yang sedang terjadi dalam sistem yang membentuk generasi hari ini. Perilaku siswa yang melecehkan guru bukanlah peristiwa yang lahir secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil dari proses panjang pembentukan pola pikir dan karakter yang berlangsung dalam lingkungan sosial, budaya, dan sistem pendidikan yang melingkupinya.

Generasi hari ini tumbuh dalam arus kebebasan yang sangat luas. Teknologi berkembang pesat, media sosial hadir tanpa batas, dan budaya populer sering kali menjadikan sensasi sebagai hiburan. Dalam kondisi seperti ini, nilai kesopanan dan penghormatan kepada guru sering kali dipandang tidak penting, sopan santun dianggap kuno, menghormati guru dianggap bukan lagi kewajiban, tetapi sekadar pilihan. Padahal dalam tradisi masyarakat yang beradab, guru selalu ditempatkan pada posisi mulia. Guru bukan sekadar penyampai ilmu, tetapi pembimbing kehidupan dan pembentuk karakter generasi.

Dalam sistem saat ini krisis penghormatan kepada guru yang terjadi hari ini tidak bisa dilepaskan dari sistem pendidikan yang berjalan saat ini. Sistem pendidikan modern banyak dibangun di atas asas sekularisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Akibatnya, nilai halal dan haram tidak lagi menjadi standar dalam menentukan benar dan salah, melainkan digantikan oleh standar manfaat dan kebebasan individu. Pendidikan tidak lagi diposisikan sebagai sarana membentuk manusia berkepribadian mulia, tetapi sebagi alat mencetak sumber daya manusia yang siap memasuki dunia kerja. Hal ini sejalan dengan konsep kapitalisme yang menjadikan materi sebagai tujuan utama kehidupan. Sekolah dipaksa mengikuti kebutuhan industri, kurikulum disusun berdasarkan tuntutan ekonomi, sementara pembentukan adab hanya menjadi pelengkap yang tidak dianggap mendesak. Dalam kondisi seperti ini, siswa tumbuh dengan orientasi prestasi akademik dan popularitas, bukan kemuliaan akhlak. Kebebasan berekspresi dipahami tanpa tanggung jawab moral, sehingga prilaku merendahkan guru dapat dianggap sekedar candaan atau konten hiburan. Media sosial menjadi ruang yang mempercepat penyebaran budaya, dimana penghormatan terhadap ilmu semakin terkikis karena kerusakan yang bersumber dari asas kehidupan yang salah.

Islam menawarkan solusi mendasar dengan menjadikan akidah Islam sebagai asas seluruh sistem pendidikan dan kehidupan. Negara dalam sistem Islam memiliki kewajiban untuk menyelenggarakan pendidikan yang bertujuan membentuk kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah) pada setiap individu. Kepribadian Islam terbentuk dari perpaduan antara pola pikir (aqliyah) yang berlandaskan akidah Islam dan pola sikap ( nafsiah) yang tunduk pada hukum syara. Pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu, tetapi pada pembentukan manusia yang memiliki kesadaran bahwa setiap perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Dengan kesadaran ini, seorang siswa tidak akan berani merendahkan gurunya, karena ia memahami bahwa guru merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah.

Negara dalam sistem Islam juga memiliki tanggungjawab besar dalam menjaga kemuliaan profesi guru. Guru dipandang sebagai penjaga ilmu dan pembentuk generasi, sehingga negara wajib menjamin kesejahteraan mereka secara layak, menyediakan lingkungan pendidikan yang kondusif, serta menetapkan aturan tegas terhadap setiap bentuk penghinaan terhadap guru. Perlindungan ini merupakan bagian dari tanggungjawab negara dalam menjaga kemulian ilmu.

Selain itu, pendidikan Islam menempatkan adab sebagai bagian dari kurikulum. Anak-anak diajarkan sejak dini tentang kewajiban menghormati guru, menjaga lisan, serta memuliakan ilmu. Media massa dalam Islam juga diatur agar tidak menyebarkan konten yang merusak moral generasi, tetapi menjadi sarana edukasi yang memperkuat nilai- nilai kebaikan. Dengan penerapan sistem pendidikan Islam secara menyeluruh, generasi tidak hanya tumbuh cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara moral dan spritual. Guru kembali di tempatkan pada posisi yang mulia, ilmu dihormati,dan masyarakat terbentuk atas dasar adab dan ketakwaan. Islam solusi yang tidak sekadar mengatasi gejala, tetapi menyentuh akar persoalan yang melahirkan krisis penghormatan terhadap guru saat ini. Wallahu’alam bishawab.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *