Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Kalau kita mau jujur, saat ini warga Jawa Barat mendapatkan rezeki di atas “Durian Runtuh”. Rezeki apa? Rezeki hadirnya pemimpin politik sebagai gubernur yakni Kang Dedi Mulyadi (KDM) dan pemimpin birokratik sebagai Sekda, yakni Kang Herman Suryatman (KHS).
Ungkapan Bapak Aing dan Sekda Aing cukup populer dikalangan masyarakat Jawa Barat. Tokoh politik puncak Jawa Barat ada di KDM, tokoh birokrat puncak Jawa Barat ada di KHS. Kemana pun KDM bergerak pasti ada jejak pesona dan semangat bagi masyarakat Jawa Barat. Begitu pun KHS, dimana pun Ia berbicara pasti ada nyala dan getar semangat.
KDM dan KHS duo istimewa yang telah menjadi model pemimpin istimewa. KDM dan KHS bagaikan “durian jatohan” dari pohon langit semesta Jawa Barat. Sampai saat ini KDM dianggap gubernur terbaik di Indonesia. Bukankah KHS pun adalah Sekda terbaik di Indonesia. Sama sama terbaik, sama sama istimewa?
Sebagai warga Jawa Barat, mayoritas mendoakan keduanya agar terus berkhidmat untuk Jawa Barat dan selalu dalam lindungan Ilahi di setiap harinya. Pepatah bijak mengatakan “Setiap zaman ada orangnya, dan setiap orang ada zamannya”. Bisa jadi zaman ini adalah zamannya KDM dan KHS.
Ada satu hal identik dan dilihat publik saat KDM sering meneteskan air mata karena batinnya tersentuh realitas masyarakat dan keadaan lingkungan. Begitu pun KHS sempat dilihat publik dalam sebuah giat meneteskan air mata, tak kuasa menahan haru saat membawakan syair “Karatagan Pahlawan”. “Cadu mundur pantrang mulang mun maksud tacan laksana,” pesan leluhur yang mulia menguasai batin KHS dan KDM.
KHS mengatakan “Kehormatan sejati, bukan pada posisi yang dimiliki, tetapi pada manfaat yang ditinggalkan.” KDM pun pernah mengatakan “Masyarakat kini lebih percaya karya nyata dibanding narasi dan ceramah yang menistakan dirinya”. KDM dan KHS menyadari apa yang bisa dirasakan masyarakat dan apa yang diwariskan/legasi untuk masyarakat, itulah hal terpenting.








Komentar