Pewarta: Jeky Epsa
Koran Sinar Pagi, Sumedang,- Kekayaan sejarah dan budaya Kabupaten Sumedang kembali mendapat sorotan nasional. Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, mengaku terpukau setelah meninjau langsung sejumlah situs cagar budaya di Sumedang, mulai dari Gunung Kunci, Benteng Palasari, makam Pahlawan Nasional Cut Nyak Dien, hingga kompleks Keraton Sumedang Larang yang menyimpan sejarah para tokoh penting kerajaan, termasuk Pangeran Sugih.
Sejak pagi hari, Fadli Zon bersama Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, menyusuri jejak-jejak sejarah yang dinilainya memiliki potensi besar sebagai warisan budaya bangsa sekaligus kekuatan masa depan daerah.
“Selain ke makam Cut Nyak Dien, kami juga tadi ziarah ke makam Pangeran Sugih, salah satu tokoh besar Kerajaan Sumedang Larang,” ujar Fadli Zon dalam sambutannya, di keraton Sumedang Larang, Sabtu,(17/01/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Fadli Zon menegaskan bahwa sejak menerima amanah langsung dari Presiden Prabowo Subianto sekitar satu tahun tiga bulan lalu, Kementerian Kebudayaan terus bekerja tanpa henti untuk menjawab besarnya tantangan pemajuan kebudayaan nasional.
Menurutnya, Indonesia tidak sekadar kaya budaya, tetapi memiliki tingkat keberagaman yang luar biasa dan nyaris tak tertandingi di dunia.
“Kekayaan budaya kita tidak bisa lagi disebut biasa. Ini mega diversity. Dari hari pertama saya menjadi menteri, hal itu selalu saya sampaikan,” tegasnya.
Ia memaparkan, Indonesia memiliki sedikitnya 718-an bahasa daerah, lebih dari 1.340-an suku bangsa, serta ribuan ekspresi budaya yang membentang dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.
”Kekayaan itu mencakup tradisi lisan, manuskrip, situs bersejarah, permainan dan olahraga tradisional, adat istiadat, hingga warisan kerajaan, kesultanan, dan keraton yang telah ada jauh sebelum Republik Indonesia berdiri,” ucap nya.
Fadli Zon juga menekankan bahwa kebudayaan tidak boleh dipersempit hanya pada seni semata. Seni hanyalah satu dari sepuluh objek pemajuan kebudayaan, meski memiliki peran penting melalui berbagai cabang seperti seni pertunjukan, tari, musik, sastra, film, hingga seni modern dan populer.
“Keberagaman ini adalah modal besar bangsa. Ke depan, kebudayaan harus kita dorong menjadi ekonomi budaya dan industri budaya yang kuat,” ujarnya.
Dalam sambutannya, ia turut mengungkapkan amanah Presiden Prabowo Subianto untuk merevitalisasi keraton dan kesultanan di seluruh Indonesia. Namun, ia mengingatkan pentingnya inisiatif daerah.
“Kementerian Kebudayaan ini alat negara. Alat itu harus diperalat. Kalau tidak ada permintaan resmi, tidak ada surat, tentu kami sulit bergerak,” katanya lugas.
Meski demikian, kunjungan langsung ke Sumedang justru membuka pandangan baru baginya. Ia menyebut Jawa Barat sebagai salah satu provinsi dengan jumlah Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) terbanyak secara nasional pada 2025, berada di posisi kedua setelah Jawa Tengah.
“Kekayaan budaya itu bukan hanya yang terlihat secara fisik, tapi juga yang tak benda. Sumedang ini lengkap—sejarahnya, tradisinya, bahkan kulinernya,” ucapnya sambil tersenyum.
Selain program revitalisasi keraton, Kementerian Kebudayaan juga menggulirkan revitalisasi museum serta Dana Indonesiana bagi komunitas budaya. Pada 2025, dana tersebut disalurkan kepada sekitar 2.800 penerima, melonjak tajam dibandingkan sebelum berdirinya Kementerian Kebudayaan yang hanya menjangkau sekitar 300 penerima.
Seluruh langkah tersebut, tegas Fadli Zon, merupakan pelaksanaan amanat Pasal 32 Ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 yang mewajibkan negara memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia.
“Selama ini kalau ke Sumedang, saya sering hanya ke Jatinangor. Hari ini saya benar-benar menyadari betapa luar biasanya Sumedang dari sisi sejarah dan kebudayaannya,” pungkasnya.****
Menteri Kebudayaan RI Terpukau Warisan Sumedang: Dari Gunung Kunci hingga Keraton Sumedang Larang, Jejak Besar Sejarah Bangsa








Komentar