oleh

Tiga Tahun Thufan al-Aqsha: 20.748 Pelajar Palestina Tewas, Pendidikan di Ambang Kehancuran

Oleh: Miska ( Aktivis Muslimah)

Pada 7 Oktober 2026, genap tiga tahun sejak dimulainya operasi Thufan al-Aqsha pada 7 Oktober 2023. Selama periode tersebut, sektor pendidikan Palestina, baik di Jalur Gaza maupun Tepi Barat yang diduduki, mengalami kehancuran akibat serangan militer Israel. Berdasarkan laporan statistik Kementerian Pendidikan Palestina yang dilansir Anadolu Agency, sebanyak 20.748 pelajar Palestina tewas dalam kurun waktu Oktober 2023 hingga Oktober 2026. Jumlah tersebut mencakup pelajar tingkat sekolah hingga mahasiswa di perguruan tinggi.

Di Jalur Gaza, korban tewas terdiri atas 19.189 pelajar sekolah dan 1.386 mahasiswa. Sementara itu, di Tepi Barat, sebanyak 134 pelajar sekolah dan 39 mahasiswa dilaporkan tewas. Korban luka-luka juga terus bertambah. Di Jalur Gaza, sebanyak 28.586 pelajar sekolah dan 3.082 mahasiswa mengalami luka-luka. Adapun di Tepi Barat, jumlah korban luka mencapai 871 pelajar sekolah dan 283 mahasiswa.

Selain itu, pasukan Israel menahan 416 pelajar sekolah dan 481 mahasiswa di Tepi Barat. Angka-angka tersebut menunjukkan betapa besar dampak agresi terhadap keselamatan dan masa depan generasi Palestina. Kekejaman yang terjadi tidak hanya merenggut nyawa para pelajar, tetapi juga tenaga pendidik yang memiliki peran penting dalam mencerdaskan generasi.

Laporan tersebut mencatat 1.058 tenaga pendidikan dan administrasi tewas. Di Jalur Gaza, sebanyak 805 tenaga pendidikan sekolah dan 246 tenaga universitas dilaporkan meninggal dunia. Sementara itu, di Tepi Barat, tujuh tenaga pendidikan sekolah tewas. Jumlah tenaga pendidikan yang terluka juga sangat besar. Di Gaza, sebanyak 3.298 tenaga pendidikan sekolah dan 1.493 tenaga universitas mengalami luka-luka. Di Tepi Barat, 26 tenaga pendidikan dilaporkan terluka.

Pasukan Israel juga menahan lebih dari 176 guru dan pekerja sekolah serta 21 tenaga universitas di Tepi Barat. Kehancuran Fasilitas Pendidikan Agresi militer Israel turut menyebabkan kerusakan parah pada berbagai fasilitas pendidikan. Puluhan institusi pendidikan menjadi sasaran serangan, mengalami kerusakan berat, bahkan hancur. Akibatnya, ribuan pelajar kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan secara layak. Sekolah dan universitas yang semestinya menjadi tempat menuntut ilmu justru berubah menjadi bagian dari tragedi kemanusiaan yang berkepanjangan.

Dampak kehancuran ini tidak hanya dirasakan oleh generasi Palestina saat ini, tetapi juga mengancam masa depan mereka. Pendidikan yang terputus, tenaga pendidik yang gugur, serta fasilitas yang hancur menjadi pukulan berat bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat Palestina. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa sejak Oktober 2023, lebih dari 74.000 warga Palestina tewas dan lebih dari 175.000 lainnya terluka akibat serangan Israel di Gaza. Sekitar 90 persen infrastruktur di wilayah tersebut dilaporkan mengalami kerusakan atau kehancuran. Tragedi tersebut menuntut kepedulian dan tindakan nyata dari umat Islam serta masyarakat dunia untuk menghentikan penderitaan yang terus berlangsung.Langkah- langkah membela palestina:

Pertama, penerapan syariat Islam secara kaffah. Syariat Islam harus menjadi landasan kehidupan umat sekaligus pijakan dalam menentukan arah kebijakan politik, ekonomi, pendidikan, dan hubungan luar negeri. Penerapan Islam secara menyeluruh diharapkan mampu membangun persatuan umat berdasarkan akidah Islam serta menempatkan perlindungan terhadap jiwa, kehormatan, dan hak-hak rakyat sebagai tanggung jawab yang harus ditunaikan.

Kedua, jihad fi sabilillah. Dalam ajaran Islam, jihad memiliki cakupan makna yang luas, termasuk perjuangan dengan harta, lisan, dan berbagai bentuk pengorbanan di jalan Allah. Dalam konteks pembelaan terhadap Palestina, perlawanan bersenjata terhadap pendudukan dibahas dalam kerangka ketentuan syariat mengenai pembelaan diri dan perlawanan terhadap agresi. Pelaksanaannya harus memperhatikan hukum-hukum Islam, termasuk larangan menyerang warga sipil dan kewajiban melindungi orang-orang yang tidak terlibat dalam pertempuran.

Ketiga, mobilisasi kekuatan umat Islam melalui nushrah. Nushrah berarti pertolongan atau dukungan nyata untuk menolong pihak yang tertindas. Negeri-negeri Muslim diharapkan tidak berhenti pada kecaman diplomatik, tetapi mengerahkan kemampuan politik, ekonomi, kemanusiaan, dan pertahanan melalui langkah-langkah yang sah untuk melindungi rakyat Palestina dan menghentikan agresi.

Keempat, membangun persatuan umat di bawah kepemimpinan politik yang menyatukan. Berbagai kalangan Islam memandang bahwa perpecahan negeri-negeri Muslim menjadi salah satu hambatan dalam menghadapi persoalan Palestina. Dalam perspektif politik Islam, Khilafah dipandang sebagai bentuk kepemimpinan yang menyatukan umat Islam di bawah satu otoritas politik. Gagasan ini menekankan pentingnya melampaui kepentingan nasional yang sempit demi membangun kekuatan kolektif untuk membela umat yang tertindas.

Kelima, boikot ekonomi dan tekanan politik. Boikot terhadap produk atau entitas yang terlibat dalam mendukung pendudukan dapat menjadi salah satu bentuk tekanan ekonomi. Langkah ini perlu dilakukan secara terarah berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, tekanan politik dan diplomatik terhadap lembaga internasional perlu terus diperkuat agar pelanggaran hukum internasional ditindak dan perlindungan terhadap rakyat Palestina benar-benar diwujudkan.

Keenam, doa, solidaritas, dan dukungan materi. Umat Islam dapat memberikan dukungan melalui bantuan finansial, pangan, obat-obatan, layanan medis, dan bantuan kemanusiaan lainnya melalui lembaga yang tepercaya. Di samping itu, edukasi mengenai sejarah Palestina, kedudukan Masjid Al-Aqsa, serta penderitaan rakyat Palestina perlu terus disampaikan kepada generasi muda. Dengan demikian, kepedulian terhadap Palestina tidak berhenti sebagai luapan emosi sesaat, tetapi tumbuh menjadi kesadaran yang berkelanjutan dan diwujudkan melalui tindakan nyata.Semoga Allah memberikan pertolongan kepada rakyat Palestina, melindungi mereka yang tertindas, serta mengaruniakan kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi ujian ini.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *