oleh

Percobaan Bunuh Diri Bukti Rapuhnya Mental Generasi

Oleh : Sri M Awaliyah ( Guru SD di Kabupaten Bandung)

Pada Kamis, 10 September 2026, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB) berinisial RR (19), mahasiswa angkatan 2025, mengalami insiden jatuh dari gedung kampus dan kemudian mendapat perawatan intensif di RS dr. Saiful Anwar (RSSA) Malang. Pihak kepolisian pada 19 September menyatakan hasil penyelidikan mengarah pada percobaan bunuh diri dan tidak menemukan keterlibatan pihak lain. Pihak FK UB juga menyampaikan bahwa dari sisi akademik, prestasi, kehadiran, dan perjalanan perkuliahan RR berada dalam kondisi baik; sehingga penyebab atau latar belakang personal peristiwa tersebut perlu dibedakan dari spekulasi yang beredar. (detik.com)

Kasus percobaan bunuh diri di kalangan generasi muda menjadi alarm bahwa pembangunan manusia tidak cukup diukur dari prestasi akademik, produktivitas, dan keberhasilan ekonomi. Dalam negara sekarang ini yang menganut sistem sekuler-kapitalis, dimana negara memisahkan pengelolaan kehidupan dari agama, sementara keberhasilan sering dikaitkan dengan pencapaian material, kompetisi, dan produktivitas. Ketika aspek spiritual, pembentukan makna hidup, solidaritas sosial, dan perlindungan manusia tidak memperoleh perhatian dari negara, generasi muda saat ini menghadapi tekanan kehidupan tanpa fondasi yang kuat.

Paradigma pembangunan yang digunakan negara ini hari menjadikan manusia diperlakukan hanya sebagai sumber daya ekonomi tidak dijaga akal, jiwa, kehormatan, dan kehidupannya, padahal negara memiliki tanggung jawab memenuhi kebutuhan dasar seperti menyediakan pendidikan yang membentuk kepribadian, layanan kesehatan termasuk kesehatan jiwa yang mudah diakses, lingkungan sosial yang aman, serta sistem perlindungan yang memungkinkan masyarakat memperoleh pertolongan ketika menghadapi masalah berat. Dengan demikian, rapuhnya sebagian generasi yang terlahir dari negara sistem sekuler kapitalis itu adalah salah satu konsekuensi yang harus dihadapi oleh rakyat.

Dalam Islam, manusia tidak dipandang sekadar sebagai individu yang mengejar prestasi, karier, dan kesenangan dunia, tetapi sebagai hamba Allah yang memiliki tujuan hidup untuk beribadah kepada-Nya. Ketika ukuran keberhasilan terlalu bertumpu pada aspek duniawi, sementara pembinaan akidah, makna hidup, hubungan dengan Allah, keluarga, dan lingkungan sosial tidak mendapatkan perhatian yang memadai, seseorang dapat kehilangan pegangan ketika menghadapi persoalan berat. Pencegahan persoalan semacam ini tidak cukup hanya dengan penanganan ketika krisis sudah terjadi, tetapi membutuhkan pembinaan manusia secara menyeluruh: akidah yang kuat, pemahaman tujuan hidup, pendidikan akhlak, keluarga yang menjadi tempat aman untuk bercerita, lingkungan pendidikan yang memperhatikan kondisi siswa, serta layanan kesehatan dan pendampingan psikologis yang mudah diakses. Islam mengajarkan bahwa kehidupan manusia memiliki kemuliaan dan tidak boleh dirusak, sekaligus mendorong sikap saling menolong dan menjaga sesama. Karena itu, keluarga, kampus, masyarakat, dan lembaga negara perlu membangun lingkungan yang memungkinkan seseorang mendapatkan pertolongan ketika menghadapi tekanan, bukan menghakimi atau menyebarkan spekulasi. Dan itu semua hanya dapat terwujud Ketika aturan yang dipakai dalam kehidupan bernegara adalah aturan Sang Pencipta, dalam bingkai khilafah bukan aturan yang lahir dari pemikiran manusia yang lemah dan terbatas.

Wallahu ‘alam bishowwab
Oleh : Sri M Awaliyah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *