Pewarta : Anis.
Koran SINAR PAGI, MALUKU,- Kabar duka mendalam menyelimuti keluarga Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Dusun Liaela, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku. Dua kakak beradik, Edi dan Salman, dilaporkan meninggal dunia secara beruntun saat bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK) kapal ikan asing di perairan Uruguay.
Ironisnya, hingga Sabtu (19/9/2026), jenazah kedua Warga Negara Indonesia (WNI) tersebut belum juga dipulangkan ke tanah air.
Keduanya diketahui berangkat bekerja sebagai ABK sejak Januari 2026. Selama bekerja, keduanya masih rutin berkabar dalam kondisi sehat.
Namun petaka datang akhir Agustus. Sang adik, Salman, dilaporkan meninggal pertama pada Senin (31/8/2026) sekitar pukul 05.00 waktu Uruguay karena sakit demam.
“Awalnya kami mendapatkan kabar dari Edi pak, bahwa Salman meninggal dunia karena sakit demam,” ujar sepupu korban, Sabda Wahab (32), saat ditemui , Sabtu (19/9/2026).
Belum hilang duka, keluarga kembali diguncang kabar kedua. Sang kakak, Edi, menyusul meninggal dunia pada Jumat (18/9/2026) setelah kondisinya drop.
“Tidak lama setelah Salman meninggal dunia, kami dikabarkan oleh ABK lainnya, Edi juga meninggal dunia karena ngedrop diduga sakit,” kata Sabda.
Keluarga kini diliputi keresahan dan amarah. Selain duka mendalam, mereka mempertanyakan kejelasan penyebab kematian, status gaji, asuransi, hingga hak-hak finansial korban yang belum ada kejelasan.
Keluarga telah melapor ke Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), namun hingga kini belum ada kepastian kapan jenazah dipulangkan.
Melalui media ini, keluarga memohon dengan sangat kepada Pemerintah Pusat, kepada Presiden RI Prabowo Subianto, untuk turun tangan langsung.
Keluarga mendesak Kementerian Luar Negeri RI dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Uruguay dan sekitarnya agar segera bertindak cepat memulangkan kedua jenazah WNI tersebut ke kampung halaman di Maluku.
“Kami mohon kepada Bapak Presiden Prabowo, Bapak Menteri Luar Negeri, dan KBRI di sana. Tolong, dua anak kami, dua WNI, dua kakak beradik ini dipulangkan. Mereka berangkat sehat untuk menghidupi keluarga, pulang harusnya sebagai pahlawan devisa, bukan hilang kabar jenazahnya di negeri orang,” isak Sabda mewakili keluarga.
Keluarga juga meminta negara tidak tutup mata dan mengusut tuntas penyebab kematian yang janggal dalam waktu berdekatan tersebut. Apakah ada kelalaian perusahaan, apakah ada standar kesehatan dan kerja yang dilanggar di kapal asing tersebut.
“Kepada para pejabat dan petinggi di Republik ini, jangan biarkan nyawa rakyat kecil seperti Edi dan Salman seolah tidak berharga. Mereka adalah WNI. Negara wajib hadir. Jangan hanya bicara pelindungan PMI saat seremonial, tapi buktikan sekarang. Pulangkan jenazah mereka, bayarkan hak-hak mereka, dan usut majikan kapalnya,” tegas keluarga.
Keluarga berharap, tragedi yang menimpa Edi dan Salman menjadi alarm keras bagi pemerintah untuk memperketat pengawasan penempatan ABK kapal ikan asing yang selama ini rentan eksploitasi dan minim pelindungan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Kemenlu RI dan P2MI diharapkan segera memberikan keterangan resmi terkait langkah pemulangan dan investigasi kematian dua ABK asal Maluku tersebut.








Komentar