Penulis: Endro Widodo, M.Pd., Gr (SMA Negeri 1 Bandung)
*Abstrak*
Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) menghadirkan peluang besar untuk mentransformasi pembelajaran Biologi dari sekadar aktivitas menghafal menjadi pengalaman belajar yang bermakna. Berangkat dari pengalaman mengajar di SMA Negeri 1 Bandung, sebagai guru berupaya mengembangkan pembelajaran keanekaragaman hayati melalui *media Kartu Bergambar Berbantuan AI*, sebagai solusi atas kesenjangan antara penguasaan konsep dan kemampuan peserta didik dalam mengenali objek nyata di lingkungan sekitar. Media ini menghadirkan beragam contoh spesimen tumbuhan dan hewan yang lebih variatif, kontekstual, dan autentik sehingga peserta didik tidak lagi hanya mengingat ciri-ciri klasifikasi, tetapi terlatih mengamati, membandingkan, menganalisis, serta mengklasifikasikan makhluk hidup berdasarkan bukti ilmiah yang mereka temukan sendiri.
Implementasi pembelajaran tersebut menunjukkan perubahan yang signifikan. Peserta didik menjadi lebih teliti dalam mengamati karakteristik morfologi, lebih percaya diri dalam menyampaikan hasil identifikasi, serta lebih aktif berdiskusi dan mengemukakan alasan ilmiah di balik setiap keputusan klasifikasi. AI tidak diposisikan sebagai pengganti guru, melainkan sebagai mitra yang memperkaya sumber belajar, sementara guru tetap berperan sebagai fasilitator yang membimbing proses berpikir ilmiah, menanamkan nilai-nilai karakter, membangun sikap kritis, kejujuran akademik, serta menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap kehidupan dan keanekaragaman hayati di sekeliling mereka.
Lebih dari sekadar meningkatkan hasil belajar di kelas, pendekatan ini mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan masa depan. Kemampuan mengamati secara cermat, mengidentifikasi, dan mengklasifikasikan makhluk hidup merupakan fondasi lahirnya generasi peneliti, taksonom, ahli konservasi, serta inovator di bidang hayati. Ketika keterampilan tersebut dipadukan dengan literasi kecerdasan artifisial, terbuka peluang besar bagi lahirnya sumber daya manusia yang mampu berkontribusi pada pemantauan keanekaragaman hayati, mitigasi perubahan iklim, pengembangan pertanian presisi, ketahanan pangan, hingga berbagai sektor strategis berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, pembelajaran keanekaragaman hayati tidak lagi dipandang sebagai upaya mengejar nilai akademik semata, melainkan sebagai investasi jangka panjang dalam membentuk generasi yang berkarakter, berdaya saing global, serta memiliki kepedulian dan tanggung jawab untuk menjaga kekayaan hayati Indonesia menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045.
PEMBAHASAN

Ketika Ciri di Buku Tidak Sama dengan Ciri di Alam
Bertahun-tahun mengajar keanekaragaman hayati, saya melihat satu pola yang terus berulang: murid sangat mahir menghafal ciri-ciri klasifikasi, tapi kesulitan besar begitu ciri itu harus diterapkan pada objek nyata yang variasinya jauh lebih kaya daripada contoh di buku teks. Buku hanya menampilkan satu-dua contoh ideal untuk monokotil (biasanya jagung atau padi) dan dikotil (biasanya mangga), padahal di lapangan murid bertemu ratusan jenis daun dengan variasi bentuk yang beragam, misalnya daun pisang tulang daunnya menyirip melengkung meski batangnya sendiri tidak berkambium.
Pola serupa muncul pada materi keanekaragaman hewan, terutama invertebrata. Murid hafal urutan filum: Porifera, Coelenterata, Platyhelminthes, Nemathelminthes, Annelida, Mollusca, Arthropoda, sampai Echinodermata. Tapi begitu dihadapkan pada foto atau spesimen asli terutama hewan berbentuk asing seperti cacing pipih, sotong, atau bintang ular laut banyak yang kembali menebak berdasarkan kemiripan sepintas, bukan ciri struktural yang sesungguhnya membedakan tiap filum. Ketika saya mulai memakai AI membuat kumpulan gambar pembanding misalnya lima jenis daun monokotil dan dikotil ditampilkan berurutan, atau sepuluh hewan invertebrata dari filum berbeda lengkap penanda ciri kuncinya responsnya jauh berbeda dibanding sekadar membaca definisi di buku. Murid mulai terbiasa melatih mata mengenali pola, bukan sekadar mengingat kata, karena AI bisa dengan cepat menghasilkan variasi contoh sesuai kebutuhan kelas, termasuk contoh “jebakan” yang sengaja dibuat mirip agar murid belajar lebih teliti.
Duran dan Dikmenli (2025), menunjukkan hasil yang konsisten: integrasi AI berkaitan erat dengan meningkatnya pemahaman konsep, motivasi, dan keterlibatan murid, terutama saat digunakan mendukung pembelajaran berpusat pada murid, bukan sekadar menggantikan metode ceramah.
Saya melihat hal serupa di kelas sendiri bukan gambarnya yang membuat anak-anak antusias, melainkan proses membandingkan dan berdebat begitu mereka mulai mengamati sendiri perbedaannya.

AI sebagai Mitra, Bukan Pengganti Guru
Ada satu kekeliruan yang perlu diluruskan sejak awal: AI bukan pengganti guru, melainkan mitra. Guru tetap memegang kendali atas tujuan pembelajaran, sementara AI membantu mempercepat proses dan memperkaya sumber belajar. Dalam praktik seharihari, saya memakai AI untuk menyusun kunci determinasi sederhana dan lembar kerja identifikasi bergambar. Waktu yang tersisa saya gunakan untuk mendampingi murid langsung, sambil membangun kebiasaan mereka bertanya “mengapa”, bukan sekadar “apa namanya”.
Usman (2025) menemukan hal senada dalam tinjauan literaturnya AI berkontribusi nyata terhadap kemampuan berpikir kritis dan efektivitas pembelajaran, tapi manfaat itu baru optimal jika diposisikan sebagai pendukung strategi pembelajaran, bukan pengganti interaksi guru dan murid.
Sejalan dengan itu, Zahren, Yogica, dan Fitri (2025) menemukan bahwa pembelajaran berbasis kecerdasan buatan dapat meningkatkan motivasi belajar murid dalam Biologi, terutama bila dipadukan dengan pendampingan guru yang konsisten. UNESCO menegaskan hal serupa: teknologi ini punya potensi besar meningkatkan kualitas pendidikan, tapi hanya jika diterapkan dengan prinsip human-centered menempatkan manusia, bukan mesin, sebagai pusat proses belajar (Miao & Holmes, 2023).
Dalam konteks pengenalan keanekaragaman hayati, kepekaan mengamati alam dan ketelitian membandingkan spesimen tetap harus ditanamkan guru secara langsung; AI hanya membantu menghadirkan lebih banyak contoh untuk dilatih.

Dari Menghafal Menuju Mengamati dan Mengklasifikasi
Perubahan paling terasa dari pemanfaatan AI bukan pada teknologinya, melainkan pada cara saya merancang pembelajaran keanekaragaman hayati. Dulu, target saya sekadar memastikan murid hafal tabel klasifikasi; sekarang saya lebih banyak merancang tugas yang mendorong mereka mengamati langsung dan membangun alasan di balik tiap keputusan klasifikasi. Sebagai contoh, dalam proyek pengamatan keanekaragaman hayati di lingkungan sekolah, saya meminta murid mengumpulkan sampel daun dan mendokumentasikan hewan-hewan kecil di taman sekolah. Setelah itu mereka memakai AI menyusun tabel perbandingan ciri, sekaligus memverifikasi hasil identifikasi awal yang sudah mereka buat sendiri AI berperan sebagai asisten yang mempercepat penyusunan bahan pembanding, sementara kemampuan mengamati dan bernalar tetap dibangun lewat pengamatan langsung, diskusi kelompok, dan verifikasi bersama yang saya pandu. Pendekatan berbasis proyek dan inkuiri seperti ini selaras dengan arah kebijakan pembelajaran mendalam (deep learning) yang mulai diterapkan dalam pendidikan nasional, yang menekankan penerapan pengetahuan dalam situasi nyata, bukan sekadar menghafal fakta (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, 2024).
Data yang Tidak Bisa Diabaikan
Urgensi transformasi ini semakin jelas kalau kita melihat data literasi sains murid Indonesia. Hasil PISA 2022 mencatat skor literasi sains murid Indonesia berada di angka 383, jauh di bawah rata-rata negara-negara OECD yang mencapai 485 (OECD, 2023). Skor ini mencerminkan betapa banyak murid yang masih kesulitan menjelaskan fenomena ilmiah dan menerapkan sains untuk memecahkan persoalan sehari-hari, termasuk mengamati dan mengklasifikasikan makhluk hidup secara akurat. Bagi saya, angka ini adalah cermin cara kita mengajarkan sains terlalu berorientasi pada hafalan, bukan pengamatan langsung. Di sisi lain, infrastruktur untuk transformasi itu sebenarnya sudah cukup tersedia. Penetrasi internet nasional sudah menembus lebih dari 79 persen penduduk pada 2024 (APJII, 2024), artinya akses teknologi bukan lagi hambatan utama di banyak wilayah. Tantangan yang tersisa justru terletak pada kompetensi guru memanfaatkan teknologi itu secara tepat, serta pemerataan akses di wilayah yang masih tertinggal.
Peluang bagi Masa Depan Indonesia
Dampak transformasi pembelajaran keanekaragaman hayati berbasis AI sesungguhnya melampaui ruang kelas. Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati terbesar di dunia, rumah bagi ribuan jenis tumbuhan berbunga dan hewan endemik yang sebagian besar belum sepenuhnya terpetakan. Generasi muda yang sejak sekolah menengah terlatih mengamati dan mengklasifikasikan makhluk hidup secara teliti adalah modal awal bagi lahirnya peneliti, taksonom, dan praktisi konservasi masa depan. Keterampilan ini, dipadukan literasi AI, membuka peluang di berbagai sektor strategis dari pemantauan keanekaragaman hayati dan mitigasi perubahan iklim, sampai pertanian presisi untuk ketahanan pangan. Pembelajaran keanekaragaman hayati hari ini bukan lagi sekadar soal nilai rapor, melainkan fondasi lahirnya sumber daya manusia yang mampu menjaga kekayaan hayati bangsanya sendiri. Zawacki-Richter dkk (2019), menemukan bahwa perspektif pedagogis dan etis para pendidik masih minim dilibatkan, sehingga potensi manfaatnya belum tergarap secara bermakna. Ini pengingat bahwa antusiasme terhadap teknologi baru perlu diimbangi kehati-hatian dalam merancangnya di kelas.

Tantangan yang Tidak Boleh Diabaikan
Sejujurnya, penerapan AI di kelas saya tidak berjalan mulus. Tidak semua murid punya gawai memadai, dan tidak sedikit rekan guru yang masih canggung memakai teknologi ini. Ada pula risiko yang terus saya waspadai: sebagian murid terlalu percaya pada hasil identifikasi otomatis tanpa mau memverifikasinya, sementara AI sesekali keliru mengklasifikasikan sesuatu namun disampaikan dengan nada begitu meyakinkan hingga mudah membuat murid terkecoh. Dari situ saya belajar bahwa AI tidak bisa dilepas begitu saja ke tangan murid; ia perlu selalu diiringi bimbingan guru, agar tidak menggeser kebiasaan berpikir kritis yang ingin kita tumbuhkan. Karena itu, literasi AI menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar.
Saya membiasakan murid untuk tidak menelan mentah-mentah hasil identifikasi dari AI, melainkan memverifikasinya dengan ciri morfologi yang mereka amati sendiri, mendiskusikannya di kelas, dan mempertanggungjawabkan alasan klasifikasinya. Keberhasilan integrasi AI di sekolah bergantung pada kesiapan guru memahami cara kerja teknologi itu, bukan sekadar memakainya secara instan (Luckin dkk., 2022).
Bagi saya, proses membangun kebiasaan berpikir kritis semacam ini justru jadi manfaat tak terduga dari kehadiran AI di kelas: murid belajar tidak mudah percaya pada satu jawaban, sekaligus memahami cara memverifikasi kebenaran lewat pengamatan langsung.
PENUTUP
Dari ruang kelas Biologi di SMA Negeri 1 Bandung, khususnya saat mengajarkan klasifikasi tumbuhan monokotil-dikotil dan pengenalan hewan invertebrata, saya belajar satu hal penting: teknologi dan kecerdasan artifisial bukan ancaman bagi profesi guru, melainkan peluang menjembatani jarak antara pengetahuan yang dihafal dan kemampuan mengenali langsung keanekaragaman hayati di sekitar murid. AI dapat membantu menyusun media pembanding, mempercepat pekerjaan administratif, dan menyediakan lebih banyak contoh untuk dilatih, tapi tidak pernah bisa menggantikan peran guru dalam melatih ketelitian mengamati, membangun karakter, dan menumbuhkan rasa ingin tahu murid terhadap kehidupan di sekelilingnya. Justru di era AI inilah peran guru semakin penting, bukan semakin tergantikan. Guru dibutuhkan sebagai pembimbing yang mengajarkan cara mengamati secara ilmiah, memverifikasi informasi, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
AI mungkin bisa menampilkan gambar pembanding dalam hitungan detik, tapi hanya guru yang mampu menuntun murid dari sekadar menghafal nama menuju benar-benar memahami dan peduli pada makhluk hidup yang mereka pelajari. Indonesia sebenarnya tidak kekurangan kekayaan hayati, dan tidak pula kekurangan murid yang cerdas. Tantangannya ada pada bagaimana kita, para pendidik, menjadikan teknologi sebagai sarana melatih ketelitian mengenali kehidupan, bukan sekadar mempercepat proses menghafal. Ketika pembelajaran keanekaragaman hayati mampu memanfaatkan kecerdasan artifisial secara bijaksana, murid tidak hanya mampu membedakan daun monokotil dari dikotil atau mengenali filum seekor hewan invertebrata, tetapi tumbuh menjadi generasi yang benar-benar mengenal dan menjaga kekayaan hayati bangsanya siap membawa Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur.
DAFTAR PUSTAKA
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). (2024). Survei penetrasi internet Indonesia 2024. Duran, T., & Dikmenli, M. (2025). Use of artificial intelligence in biology education: A systematic review of literature. Journal of Education in Science, Environment and Health, 11(4), 254–279. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. (2024). Naskah akademik pembelajaran mendalam (deep learning). Luckin, R., Cukurova, M., Kent, C., & du Boulay, B. (2022). Empowering educators to be AI-ready. Computers and Education: Artificial Intelligence, 3, Article 100076. https://doi.org/10.1016/j.caeai.2022.100076 Miao, F., & Holmes, W. (2023). Guidance for generative AI in education and research. UNESCO. OECD. (2023). PISA 2022 results (Volume I): The state of learning and equity in education. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/53f23881-en Usman, A. (2025). Artificial intelligence research in biology learning: A systematic review. Jurnal Penelitian dan Pembelajaran IPA, 11(1), 1–18. Zahren, R., Yogica, R., & Fitri, R. (2025). Pembelajaran berbasis kecerdasan buatan terhadap motivasi belajar murid dalam pembelajaran biologi. Cahaya: Journal of Research on Science Education, 3(1), 45–57. Zawacki-Richter, O., Marín, V. I., Bond, M., & Gouverneur, F. (2019). Systematic review of research on artificial intelligence applications in higher education—Where are the educators? International Journal of Educational Technology in Higher Education, 16, Article 39. https://doi.org/10.1186/s41239-019-0171-0








Komentar