oleh

Kolaborasi Jurnalis Independen Bersatu dalam Upaya Edukasi Kesehatan Masyarakat

Penulis: Dwi Arifin (Kepala Pusat Pengembangan Relasi Media Massa Organisasi Profesi Jurnalis Independen Bersatu)

Sebagai organisasi yang memiliki jaringan publikasi media massa berbasis media cetak, radio, televisi dan media online, perwakilan media massa dari organisasi profesi Jurnalis Independen Bersatu sering menerima undangan untuk kerja sama publikasi kegiatan produk makanan atau minuman yang lebih sehat dalam upaya edukasi kesehatan masyarakat.

Kegiatan yang dihadiri ribuan peserta tersebut, jika melibatkan publikasi media massa. Maka masyarakat yang tidak ikut dalam kegiatan itu, akan tergerak untuk ikut membiasakan hidup sehat, sesuai dengan pesan dari kegiatan yang dilaksanakan dengan sumber informasi yang dipublikasikan melalui media massa.

Setidaknya ada 5 peran jurnalis dalam edukasi kesehatan masyarakat, karena jurnalis jadi jembatan antara data medis yang rumit dengan bahasa yang dimengerti orang awam.

  1. Penerjemah informasi medis

Dokter, peneliti, dan Kemenkes punya data. Tapi isinya penuh istilah teknis.

Tugas jurnalis: menerjemahkan jadi bahasa sederhana, contohnya “hipertensi” → “tekanan darah tinggi”, “vaksin mRNA” → “vaksin yang ngajarin sel tubuh bikin pertahanan”.

Tanpa ini, banyak info kesehatan yang numpuk di jurnal tapi tidak sampai ke warga.

  1. Deteksi dini & pengawasan

Sebagai pencari informasi, Jurnalis sering menjadi bagian dari garda terdepan untuk menemukan sinyal masalah: wabah di desa, obat palsu beredar, atau puskesmas kekurangan nakes hingga layanan terbaru di rumah sakit.

Dengan liputan investigasi, mereka bisa memaksa respons cepat dari pemerintah dan bikin masyarakat waspada lebih awal. Ini fungsi “watchdog” di bidang kesehatan atau bagian utama penyampai informasi layanan kesehatan yang terbaru atau penemuan terbaru dibidang kesehatan.

  1. Melawan hoaks dan misinformasi

Di media sosial sering tersebar info kesehatan yang kurang tepat atau belum terverifikasi, sehingga dapat berdampak kurang baik kepada masyarakat. Maka Jurnalis bertugas melakukan cek fakta, wawancara ahli, dan meluruskan dengan bukti. Peran ini makin penting di masa pandemi atau saat ada tren pengobatan alternatif.

  1. Mengubah perilaku lewat cerita manusia

Data “30% warga Bandung kurang minum air putih” itu abstrak. Tapi cerita “Ibu Rina di Cicendo terkena dehidrasi karena kerja 12 jam” itu nempel atau mudah dipahami.

Jurnalis sering memakai storytelling supaya edukasi tidak menggurui. Dari situ masyarakat lebih mudah mengerti, misalnya kenapa harus terbiasa makanan sehat, berolahraga, cuci tangan, skrining kanker, atau ikut posyandu.

  1. Mendorong kebijakan publik

Liputan tentang antrian BPJS, stunting, atau polusi udara bisa jadi tekanan publik. Setelah beritanya naik, biasanya ada respon: program baru, anggaran ditambah, regulasi diperbaiki. Sehingga jurnalis tidak hanya mengedukasi warga, tapi juga memberikan referensi kepada pengambil kebijakan.

Singkatnya, jurnalis itu bukan dokter. Tapi mereka yang ikut berperan menyampaikan ilmu dari para dokter, agar mudah dipahami dan dipakai jutaan orang dalam mengambil keputusan sehari-hari atau membangun hidup sehat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *