Nur Fadilah (Anggota Fatayat NU Desa Sambirata)
Pada umumnya anak pernah mengalami GTM (Gerakan Tutup Mulut). Ada masa ketika anak sulit makan, memilih-milih makanan, atau bahkan menolak makan sama sekali. Fase ini cukup umum terjadi dalam proses tumbuh kembang anak dan sering kali membuat orang tua khawatir. Namun, GTM tidak selalu menandakan adanya masalah kesehatan yang serius. Dalam banyak kasus, kondisi ini merupakan bagian dari proses perkembangan anak yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), GTM dapat dipicu oleh tumbuh gigi, kondisi kesehatan tertentu, perubahan suasana hati, kelelahan, fase perkembangan, hingga pengalaman makan yang kurang menyenangkan (IDAI, 2015). Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan bahwa pemberian makan pada anak tidak hanya berfokus pada jumlah makanan yang masuk, tetapi juga pada kualitas pengalaman makan yang membantu anak membangun hubungan yang sehat dengan makanan dalam jangka panjang (WHO, 2021).
Dari sudut pandang psikologi anak, suasana makan yang penuh tekanan, paksaan, ancaman, atau hukuman justru dapat meningkatkan penolakan anak terhadap makanan. Karena itu, banyak ahli merekomendasikan pendekatan “responsive feeding”, yaitu orang tua menyediakan makanan yang bergizi dan lingkungan makan yang nyaman, sementara anak diberikan kesempatan mengenali rasa lapar dan kenyangnya sendiri. Pendekatan ini bertujuan membantu anak merasa aman, dihargai, dan lebih nyaman saat makan.
Ada beberapa langkah yang dapat membantu mengurangi risiko GTM maupun mendampingi anak yang sedang mengalaminya. Di antaranya adalah menyediakan variasi menu yang beragam, memperkenalkan berbagai rasa dan tekstur makanan, menggunakan peralatan makan yang menarik dan sesuai usia, serta menciptakan suasana makan yang tenang dan menyenangkan. Kehadiran orang tua atau pengasuh yang membersamai anak saat makan juga memiliki peran penting karena anak banyak belajar melalui interaksi dan keteladanan yang ia lihat setiap hari.
Jadwal makan yang teratur juga menjadi salah satu faktor yang sering dianjurkan oleh para ahli. Secara umum, anak dapat dibiasakan memiliki tiga kali makan utama dan dua hingga tiga kali camilan sehat setiap hari dengan jeda sekitar dua hingga tiga jam (IDAI, 2015). Jadwal yang konsisten membantu anak mengenali pola lapar dan kenyangnya secara alami. Selain itu, membatasi kebiasaan makan sambil bermain, berjalan-jalan, atau menonton gawai dapat membantu anak lebih fokus terhadap makanan dan sinyal tubuhnya sendiri.
Dalam parenting Islam, makan bukan sekadar memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga menjadi sarana menanamkan adab dan rasa syukur. Anak diperkenalkan secara bertahap untuk membaca doa sebelum makan, makan sambil duduk, tidak berlebihan, menjaga kebersihan, serta menghargai makanan yang tersedia. Nilai-nilai tersebut diajarkan melalui pembiasaan dan keteladanan, bukan melalui paksaan, sehingga anak dapat membangun hubungan yang positif dengan makanan sekaligus memahami adab yang menyertainya.
Dalam praktik pemberian makan, terdapat beberapa pendekatan yang umum digunakan oleh orang tua. Ada yang memilih metode makan dengan disuapi penuh oleh orang tua, ada yang menggabungkan suapan dengan kesempatan anak makan sendiri (combination feeding), dan ada pula yang menerapkan Baby-Led Weaning (BLW) atau self-feeding, yaitu memberi kesempatan anak mengambil dan memasukkan makanan ke mulutnya sendiri sesuai kemampuan perkembangan motoriknya. Masing-masing metode memiliki kelebihan dan tantangan tersendiri. Tidak ada satu metode yang mutlak paling tepat untuk semua anak karena kebutuhan, karakter, dan kondisi setiap keluarga berbeda-beda.
Dalam pengalamanku pribadi, pendekatan yang digunakan lebih mengarah pada pembelajaran makan dan minum mandiri sejak dini dengan tetap memberikan pendampingan sesuai tahap perkembangan anak. Sejak awal MPASI, Syifa selalu dilibatkan dalam proses makan. Ia diberikan kesempatan memegang makanan, mengenali berbagai tekstur, serta mencoba menggunakan sendok khusus bayi. Pengalaman ini dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kemampuan anak pada setiap fase perkembangannya. Tujuannya bukan semata-mata agar anak cepat mandiri, melainkan agar ia merasa nyaman, mengenal makanan dengan baik, dan menikmati proses makan sebagai pengalaman yang menyenangkan.
Secara umum, WHO, UNICEF, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI), dan IDAI merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, kemudian dilanjutkan dengan MPASI yang sesuai usia (Kemenkes RI, 2020; WHO & UNICEF, 2021). Tanda-tanda kesiapan bayi menerima MPASI antara lain mampu menopang kepala dengan baik, menunjukkan ketertarikan terhadap makanan, koordinasi mulut dan lidah yang semakin matang, serta kemampuan duduk dengan bantuan sesuai tahap perkembangannya (IDAI, 2018). Pada praktiknya, pemberian MPASI perlu dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan tekstur makanan, jumlah yang diberikan, kondisi pencernaan, serta respons kesehatan anak setelah menerima makanan baru.
Seiring bertambahnya usia, kemampuan mandiri anak berkembang secara alami melalui proses yang panjang. Ketika kemampuan duduknya semakin baik, ia mulai terbiasa makan di kursi dan meja makan. Awalnya tentu tidak selalu rapi. Ada makanan yang tumpah, tercecer, bahkan dimainkan. Namun, hal tersebut merupakan bagian dari proses belajar yang wajar. Setelah usia satu tahun, ia mulai mampu menggunakan sendok dengan lebih baik, mengelap mulutnya sendiri, serta membantu membereskan sisa makanan yang jatuh. Memasuki usia dua tahun, ia terbiasa mengambil minum sendiri, mencuci tangan setelah makan, dan meletakkan alat makan di tempat yang telah ditentukan. Bahkan sekitar usia dua setengah tahun, ia mulai terampil menggunakan sumpit untuk mengambil makanan. Selain membantu melatih motorik dan kemandirian, proses ini juga menjadi sarana untuk mengenalkan kedisiplinan, kerapian, tanggung jawab, serta penghargaan terhadap makanan yang disajikan.
Meski demikian, pengalaman mendampingi anak tentu bukan rumus yang berlaku untuk semua anak. Setiap anak memiliki karakter, kondisi kesehatan, dan tahapan perkembangan yang berbeda-beda. Ada anak yang relatif mudah menerima makanan, ada pula yang tetap mengalami fase GTM meskipun orang tua telah berupaya menerapkan berbagai strategi dan membangun kebiasaan makan yang baik sejak dini. Karena itu, orang tua tidak perlu merasa berkecil hati atau menyalahkan diri sendiri ketika menghadapi masa-masa sulit terkait makan anak. Yang terpenting adalah terus memperhatikan kondisi kesehatan anak secara menyeluruh, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bila diperlukan, serta memberikan pendampingan yang hangat dan penuh kesabaran. Menjaga kesehatan fisik dan mental orang tua juga merupakan bagian penting dari pengasuhan. Suasana yang tenang, nyaman, dan penuh kasih sayang sering kali membantu anak merasa lebih aman dalam menjalani proses belajar, termasuk saat makan. Ketika orang tua dapat menghadapi tantangan dengan lebih tenang, anak pun cenderung merasakan ketenangan yang sama. Setiap anak memiliki waktu dan jalannya masing-masing untuk tumbuh dan berkembang, dan proses tersebut layak menjalani dengan kesabaran, harapan, serta rasa syukur atas setiap kemajuan yang berhasil dicapai.







Komentar