Ali bin Abi Thalib, sahabat nabi Muhammad sempat menasihati generasi muda yang mulai berjuang dengan kisah asmaranya:
“Jika kamu mencintai seseorang, biarkan dia pergi. Jika ia kembali, maka ia milikmu. Namun jika tidak kembali, ketahuilah maka dia bukan milikmu. Sebab apa yang menjadi milikmu, akan menemukanmu atau apapun yang ditakdirkan untukmu, akan mencari jalannya untuk menemukanmu”.
Kisah asmara seseorang berbeda-beda, namun sering terjadi kisah segitiga. “Dia mencintai orang lain, orang lain tersebut tidak seutuhnya mencintainya, namun kepada yang benar-benar mencintai Dia, justru setengah hati menerimanya”
Sehingga kisah putus nyambung dalam proses asmara itu, dengan berbagai momen terjalani. Kadang tetesan air mata dari keduanya menjadi bukti adanya tali kesetiaan. Bayang-bayang kedua orang yang mencintai dan dicintainya, secara berkala muncul dikala dini hari, waktu pagi, siang, sore dan malam. Seperti rindu yang datang tidak tau waktu.
Kadang kekurangan dan kelebihan di antara mereka yang mencintai atau dicintai oleh kita, sering menjadi pertimbangan. Tapi jika berbagai penilaian hal itu sama kesimpulan atau hasilnya, maka perlu ada keputusan yang bersumber dari proses lain. Misalnya keberpihakan orang tua atau hasil istikharahnya / meminta petunjuk langsung kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala.
Semua hal itu adalah bagian dari proses berasmara. Namun kesetiaan dan takdirlah yang akan menentukan lamanya asmara atau batas akhir kisahnya.
Penulis: Dwi Arifin (Jurnalis Media Cetak dan Online)








Komentar