oleh

Marakayangan Asbab Lepas Budaya

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Manusia adalah makhluk budaya, maka Ia menciptakan kebudayaan. Para sosiolog dan antropolog menyatakan manusia tak dapat hidup tanpa mengembangkan kebudayaan. Manusia bisa hidup tanpa agama dan ajaran apa pun, namun tak dapat hidup tanpa kebudayaan.

Kebudayaan menjadi variabel primer dalam kehidupan manusia. Tanpa kebudayaan dan berkebudayaan, manusia bisa punah. Kebudayaan adalah sebuah upaya manusia untuk menyelamatkan keberlangusungan entitasnya dari tantangan realitas alam yang tak selamannya ramah.

Dalam sebuah orasi yang disampaikan, Herman Suryatman menegaskan betapa faktor kebudayaan menjadi hal penting. Kebudayaan adalah realitas yang tak bisa lepas dan diabaikan oleh umat manusia. Terutama budaya unggul yang didapat dari leluhur sebuah entitas bangsa.

Herman Suryatman mengatakan “Jangan pernah berhapa kita akan maju, bahagia dan sejahtera tanpa berkebudayaan”. Meninggalkan kebudayaan bagi Herman Suryatman adalah sebuah kecelakaan, sebuah kegagalan umat manusia.

Ia pun memetik spirit orang Sunda yang mengatakan bahwa siapa saja yang tidak mengembangkan kebudayaan dan menghormati kebudayaan leluhurnnya, akan ada masalah. Bagaikan pohon, ke atas tak berdaun, ke bawah tak berakar.

Bagi Herman Suryatman, sebagaimana KDM, sangat menghormati budaya leluhur dan nilai nilai istimewanya. Tidaklah heran Herman Suryatman dan KDM sebagai gubernur harmoni dan kompak. Mengapa? Diantaranya karena sama sama sangat menghargai dan mengambil keistimewaan budaya leluhur Sunda.

Bila kebudayaan baik suatu masyarakat diabaikan dan bahkan lebih mengadopsi budaya luar yang belum tentu lebih baik. Bahkan bisa jadi kebudayaan luar adalah kebudayaan yang tidak sesuai dengan kebudayaan internal sebuah masyarakat. Maka akan ada masalah dalam berkehidupan.

Herman Suryatman mengatakan, bila kita gagal budaya dalam artian tidak menggunakan kebudayaan baik leluhur, bisa jadi marakayangan. Marakayangan adalah bahasa Sunda yang artinya gentayangan. Gentayangan artinya tidak membumi dan gagal hidup sekali pun sudah mati.

Mati pun orang masih gentayangan karena gagal saat hidup. Ini kepercayaan orang Sunda. Ibarat orang yang bunuh diri dalam kepercayaan orang Sunda, arwahnya gentayangan, tidak diterima bumi. Ia berdosa pada kehidupan yang Allah berikan. Begitu pun pada kebudayaan, bila Ia berdosa pada kebudayaan bisa gentanyangan.

Herman Suryatman mengatakan, “Insyaallah tahun 2029 Jawa Barat menjadi provinsi paling maju di Indonesia”. Baginya ini bisa diraih, diantaranya dengan kebudayaan sebagai bekal, fondasi, strategi. Bukankah agama pun masuk di semua bangsa dengan strategi kebudayaan? Tanpa kanal kebudayaan agama apa pun tidak bisa diterima.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *