oleh

‎Doa, Nada, dan Empati Kemanusiaan Berpadu di Festival Cut Nyak Dien 2025

-Ragam-183 Dilihat

Pewarta : Jeky Epsa

‎Koran Sinar Pagi, Sumedang – Nada yang mengalun lembut, doa yang dipanjatkan khusyuk, serta empati kemanusiaan yang mengalir hangat menyatu dalam Festival Cut Nyak Dien 2025. Bertempat di Geotheater Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Sabtu (13/12/2025) malam, kegiatan ini menjelma bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan ruang batin tempat solidaritas lintas daerah dipererat.

‎Festival yang digelar untuk mengenang perjuangan Pahlawan Nasional Cut Nyak Dien itu terasa istimewa. Sejak awal acara, ratusan hadirin larut dalam suasana hening dan khidmat saat doa bersama dipanjatkan bagi para korban bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat. Malam itu, jarak geografis seolah lenyap, digantikan oleh ikatan rasa dan kepedulian kemanusiaan.

‎Bupati Sumedang H. Dony Ahmad Munir dalam sambutannya menegaskan bahwa Festival Cut Nyak Dien adalah momentum menyatukan sejarah dengan nilai-nilai kemanusiaan yang hidup hingga kini.

‎“Kita berkumpul bukan hanya untuk mengenang sejarah, tetapi untuk menguatkan rasa kemanusiaan. Apa yang dirasakan masyarakat Aceh, itulah yang dirasakan masyarakat Sumedang. Kita satu tubuh dalam rasa, satu tubuh dalam sejarah, dan satu tubuh dalam nilai-nilai kemanusiaan,” tutur Dony.

‎Ia pun mengajak seluruh hadirin mendoakan para korban bencana agar yang wafat mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT, yang terluka segera disembuhkan, serta masyarakat terdampak diberi ketabahan dan kekuatan menghadapi ujian.

‎Pesan itu menjadi napas utama festival, bahwa warisan perjuangan Cut Nyak Dien tidak hanya tercatat dalam buku sejarah, tetapi juga hidup dalam sikap peduli, empati, dan keberpihakan pada sesama yang sedang tertimpa musibah.

‎Ketua Pelaksana Festival, Dian Sukmara, menjelaskan bahwa konsep “nada dan doa” sengaja dipilih sebagai simbol keseimbangan antara getaran batin dan kekuatan spiritual.

‎“Doa adalah energi sunyi yang menguatkan jiwa, sementara nada menggugah hati. Dari keduanya lahir solidaritas dan empati, sebagaimana keteladanan Cut Nyak Dien dalam hidup dan perjuangannya,” ujarnya.

‎Sementara itu, perwakilan masyarakat Aceh, Cut Marlina, tak mampu menyembunyikan rasa haru saat menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Sumedang. Ia menilai kegiatan tersebut sebagai bukti bahwa Aceh dan Sumedang telah menyatu, bukan hanya dalam sejarah, tetapi juga dalam kepedulian kemanusiaan.

‎“Malam ini membuktikan bahwa duka Aceh bukan duka kami sendiri. Doa dan kepedulian dari Sumedang menjadi kekuatan bagi kami,” ucapnya.

‎Festival Cut Nyak Dien 2025 juga diwarnai pertunjukan seni kolaboratif serta penggalangan solidaritas sosial. Melalui musik, puisi, dan lantunan doa, hadirin diajak merenungi bahwa setiap bencana adalah panggilan nurani untuk saling menguatkan, meneguhkan persaudaraan, dan merawat kemanusiaan—nilai luhur yang diwariskan oleh seorang Cut Nyak Dien kepada bangsa ini.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *