oleh

SEKOLAH UNGGUL: Membangun Mutu atau Menjual Prestise?

Oleh: Asep Tapip Yani

(Dosen Pascasarjana Universitas Mitra Bangsa Jakarta)

Setiap daerah kini ingin memiliki sekolah unggul. Nama-nama baru bermunculan. Ada yang mengusung identitas lokal, ada yang menonjolkan pengembangan talenta, ada pula yang menawarkan kekhasan tertentu sebagai ciri pembeda. Di Jawa Barat, misalnya, lahir Sekolah Maung. Di berbagai daerah lain, muncul beragam nomenklatur sekolah unggulan dengan semangat yang relatif sama: menghadirkan pendidikan yang lebih bermutu, kompetitif, dan relevan dengan tantangan masa depan.

Fenomena ini menunjukkan satu hal yang menggembirakan: pendidikan kembali menjadi arena inovasi. Namun di balik semangat tersebut, terdapat pertanyaan yang layak diajukan. Apakah kita sedang membangun sekolah-sekolah unggul, atau sedang membangun sistem pendidikan yang unggul? Pertanyaan ini penting karena keduanya tidak selalu berjalan searah.

Suatu daerah mungkin mampu menghadirkan beberapa sekolah yang sangat baik. Namun keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari kehebatan sekolah terbaiknya, melainkan juga dari kualitas sekolah rata-ratanya. Pendidikan yang maju bukan sekadar memiliki menara-menara keunggulan, tetapi mampu mengangkat seluruh fondasi sistemnya. Di sinilah diskusi tentang sekolah unggul menjadi menarik sekaligus penting.

Ketika Keunggulan Menjadi Merek

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan mulai memperlihatkan gejala yang lazim ditemukan dalam dunia bisnis: pentingnya merek. Nama sekolah tidak lagi sekadar identitas administratif. Ia menjadi simbol kualitas, pembeda institusional, sekaligus alat membangun persepsi publik.

Pada satu sisi, hal ini dapat dipahami. Sekolah memang memerlukan kepercayaan masyarakat. Pemerintah daerah juga membutuhkan simbol-simbol yang mampu menggerakkan optimisme dan dukungan publik terhadap agenda pendidikan. Namun persoalan muncul ketika energi yang besar dicurahkan untuk membangun citra keunggulan, sementara perhatian terhadap substansi keunggulan tidak tumbuh sekuat yang diharapkan.

Gedung diperbarui. Logo diperindah. Program diluncurkan. Publikasi diperluas. Tetapi pertanyaan yang paling mendasar sering kali luput diajukan: apakah kualitas pembelajaran di ruang kelas benar-benar berubah? Karena pada akhirnya pendidikan tidak ditentukan oleh nama yang melekat pada sekolah, melainkan oleh pengalaman belajar yang dialami peserta didik setiap hari.

Mutu dan Prestise Tidak Selalu Sama

Dalam praktik pendidikan, mutu dan prestise sering diperlakukan sebagai sesuatu yang identik. Padahal keduanya memiliki makna yang berbeda. Mutu adalah kualitas yang nyata. Prestise adalah persepsi yang terbentuk. Mutu lahir dari proses yang panjang dan konsisten. Prestise dapat muncul melalui pencitraan yang efektif. Mutu bertumpu pada substansi. Prestise sering bertumpu pada simbol.

Karena itu, sekolah yang bermutu layak memperoleh prestise. Namun sekolah yang memiliki prestise belum tentu memiliki mutu yang sepadan. Pendidikan yang terlalu sibuk membangun citra berisiko melahirkan ilusi keunggulan. Yang terlihat hebat di permukaan belum tentu menghasilkan perubahan yang mendalam di dalam proses pembelajaran.

Ketika Keunggulan Menjadi Eksklusivitas

Ada satu risiko lain yang perlu diwaspadai dalam pengembangan sekolah unggulan, yaitu munculnya eksklusivitas pendidikan. Ketika sebagian sekolah memperoleh label unggulan, fasilitas unggulan, guru unggulan, dan perhatian unggulan, publik secara tidak langsung akan membangun kategorisasi baru: sekolah unggulan dan sekolah nonunggulan. Jika tidak dikelola secara hati-hati, kondisi ini dapat melahirkan apa yang oleh sebagian pengamat pendidikan disebut sebagai kastanisasi sekolah.

Sekolah tertentu menjadi magnet bagi siswa terbaik. Prestasi siswa memperkuat reputasi sekolah. Reputasi menarik lebih banyak sumber daya. Sumber daya menghasilkan prestasi yang lebih tinggi. Lingkaran itu terus berputar. Sebaliknya, sekolah yang tidak memperoleh privilese serupa berisiko semakin tertinggal.

Fenomena ini pernah menjadi perhatian sosiolog pendidikan Pierre Bourdieu. Menurutnya, lembaga pendidikan dapat secara tidak sadar mereproduksi ketimpangan sosial yang sudah ada apabila akses terhadap sumber daya dan peluang tidak tersebar secara merata. Tentu tidak berarti sekolah unggulan harus ditolak. Yang perlu dijaga adalah agar keunggulan tidak berubah menjadi eksklusivitas.

Membangun Pulau Keunggulan atau Meninggikan Permukaan Laut?

Pertanyaan mendasar yang perlu diajukan adalah: untuk apa sekolah unggulan dibangun? Jika tujuannya hanya menghasilkan beberapa sekolah terbaik, maka yang tercipta adalah pulau-pulau keunggulan. Namun jika tujuannya menjadi pusat inovasi yang menyebarkan praktik baik ke seluruh sekolah, maka yang tercipta adalah peningkatan mutu sistemik.

Pakar perubahan pendidikan, Michael Fullan berulang kali menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak ditentukan oleh kehebatan satuan pendidikan tertentu, melainkan oleh kemampuan sistem untuk belajar dan berkembang secara kolektif. Pandangan serupa disampaikan Andy Hargreaves yang mengingatkan bahwa pendidikan yang berkelanjutan bukanlah pendidikan yang menghasilkan sedikit sekolah hebat di tengah banyak sekolah biasa, melainkan pendidikan yang mampu mengurangi kesenjangan mutu dan memperluas akses terhadap praktik-praktik terbaik. Dengan kata lain, ukuran keberhasilan sekolah unggulan bukan hanya terletak pada prestasinya sendiri, tetapi juga pada kemampuannya mengangkat sekolah-sekolah lain.

Jangan Berhenti pada Nama

Dalam teori perubahan organisasi terdapat ungkapan terkenal: “Culture eats strategy for breakfast.” Budaya akan mengalahkan strategi ketika strategi gagal diwujudkan dalam praktik sehari-hari. Pelajaran ini sangat relevan bagi dunia pendidikan.

Membuat nama baru relatif mudah. Meluncurkan program baru relatif mudah. Membangun citra baru relatif mudah. Yang jauh lebih sulit adalah membangun budaya belajar yang kuat. Meningkatkan kualitas guru. Menguatkan kepemimpinan kepala sekolah. Membangun karakter peserta didik. Mengembangkan literasi. Menumbuhkan kreativitas. Menciptakan pembelajaran yang bermakna. Semua itu membutuhkan kerja panjang yang sering kali tidak tampak di panggung publik. Padahal justru di situlah keunggulan pendidikan dibangun.

Menjaga Semangat Kemajuan

Kemunculan berbagai sekolah unggulan daerah patut diapresiasi sebagai wujud semangat untuk bergerak maju. Pendidikan memang membutuhkan inovasi. Pendidikan membutuhkan keberanian mencoba hal-hal baru. Namun semangat kemajuan tersebut tidak boleh berhenti pada merek. Ia harus menjelma menjadi mutu. Ia harus hadir dalam kualitas pembelajaran yang semakin baik. Dalam guru-guru yang semakin profesional. Dalam budaya sekolah yang semakin sehat. Dalam peserta didik yang semakin kritis, kreatif, berkarakter, dan berdaya saing. Sebab dalam pendidikan, merek dapat menarik perhatian, tetapi hanya mutu yang mampu mempertahankan kepercayaan.

Nama boleh Maung, Garuda, Rajawali, Cendekia, atau apa pun. Namun ukuran keberhasilannya bukan terletak pada seberapa gagah nama yang disandang, melainkan pada seberapa besar perubahan mutu yang benar-benar dirasakan peserta didik.

Pada akhirnya, sejarah pendidikan tidak akan mengingat nama programnya. Sejarah akan mengingat apakah program itu berhasil melahirkan generasi yang lebih cerdas daripada generasi sebelumnya, lebih berkarakter daripada zamannya, dan lebih siap menghadapi masa depan daripada yang pernah dibayangkan oleh para perancang kebijakannya.

Karena itu, tugas terbesar kita bukan sekadar menciptakan sekolah unggul. Tugas terbesar kita adalah memastikan keunggulan itu menular. Bukan hanya meninggikan beberapa menara, tetapi menaikkan seluruh permukaan. Sebab pendidikan yang hebat tidak lahir ketika segelintir sekolah menjadi luar biasa, melainkan ketika setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh menjadi luar biasa, di sekolah mana pun ia belajar.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *