(Koran SINAR PAGI)-, Startup pengelolaan minyak jelantah asal Bandung, Better Life Indonesia, terus memperkuat model bisnis ekonomi hijau setelah terpilih sebagai peserta program inkubasi nasional Entrepreneur Development for Youth (Envoy) Batch 17 yang diselenggarakan oleh Mien R Uno Foundation. Program inkubasi yang berlangsung selama satu tahun sejak Agustus 2025 hingga Mei 2026 di Jl. Pulombangkeng No.3A, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan yang diikuti oleh 14 startup dari berbagai daerah di Indonesia.
Better Life Indonesia merupakan startup yang berfokus pada pengelolaan used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah melalui pendekatan ekonomi sirkular, yakni mengolah limbah rumah tangga menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus mengurangi dampak pencemaran lingkungan.
Didirikan oleh mahasiswa perikanan, Fajar Amali Kurniawan, Better Life Indonesia lahir dari keresahan terhadap persoalan limbah rumah tangga, khususnya minyak jelantah yang kerap dibuang sembarangan dan berpotensi mempengaruhi kualitas perairan serta ekosistem perikanan.
“Sebagai mahasiswa perikanan, saya melihat bahwa isu lingkungan tidak berhenti di laut atau sungai saja, tetapi dimulai dari kebiasaan rumah tangga. Minyak jelantah yang dianggap limbah biasa ternyata menyimpan persoalan besar sekaligus peluang yang belum banyak dimanfaatkan,” jelasnya Fajar, pemuda yang menetap di Blok Minggu, RT : 05, RW : 03, Desa Patuanan, Kecamatan Leuwimunding, Kabupaten Majalengka.
Saat ini Better Life Indonesia mengembangkan beberapa lini usaha, mulai dari produksi sabun cair berbahan minyak jelantah, lilin aromaterapi berbasis daur ulang, hingga program pelatihan pengolahan minyak jelantah yang telah diikuti berbagai komunitas, institusi pendidikan, dan masyarakat umum.
Dalam proses produksinya, setiap 1 liter minyak jelantah mampu diolah menjadi sekitar 8 botol sabun cair atau hingga 40 unit lilin aromaterapi, menciptakan nilai tambah dari limbah rumah tangga yang sebelumnya tidak termanfaatkan. Produk sabun cair dipasarkan dengan harga Rp45.000 per botol, sementara lilin aromaterapi dipasarkan mulai Rp25.000 per unit.

Selain penjualan produk, Better Life juga mengembangkan model bisnis berbasis edukasi melalui workshop pengolahan minyak jelantah. Saat ini workshop pembuatan sabun dipasarkan dengan biaya Rp80.000 per peserta dan workshop pembuatan lilin sebesar Rp50.000 per peserta.
Hingga saat ini, Better Life Indonesia telah melaksanakan lebih dari 10 workshop, melibatkan lebih dari 100 peserta, serta mencatatkan penjualan lebih dari 300 unit produk, dengan omzet bisnis yang kini berada pada kisaran Rp5 juta hingga Rp10 juta per bulan.
Menurut Fajar, program inkubasi Envoy menjadi momentum penting untuk memperkuat pondasi bisnis yang selama ini dibangun.
“Melalui inkubasi ini, kami belajar membangun bisnis secara lebih terstruktur, mulai dari penguatan internal tim, keberlanjutan penjualan, hingga memetakan arah bisnis jangka panjang. Ini bukan hanya soal membangun produk, tetapi membangun sistem yang mampu bertahan dan berkembang,” jelasnya.
Ke depan, Better Life Indonesia tengah menyiapkan program percontohan pengumpulan minyak jelantah berbasis masyarakat dengan menggandeng kader PKK desa sebagai mitra utama. Program ini dirancang untuk membangun sistem pengumpulan minyak jelantah di tingkat rumah tangga dengan target pengembangan awal di 50 titik pada setiap desa mitra.
Minyak jelantah yang terkumpul nantinya tidak hanya diolah kembali menjadi produk ramah lingkungan, tetapi juga diharapkan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui produksi berbasis komunitas.
Melalui langkah tersebut, Better Life Indonesia menargetkan terciptanya sistem pengelolaan minyak jelantah yang lebih terintegrasi, mulai dari pengumpulan, pengolahan, hingga pemberdayaan masyarakat.
“Visi kami sederhana, yaitu Life Better Together. Kami percaya solusi lingkungan harus berjalan beriringan dengan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Jika limbah rumah tangga dapat dikelola dengan baik, maka kita tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga menciptakan peluang baru bagi banyak orang,” tutup Fajar.
Dengan model bisnis yang terus berkembang dan dukungan inkubasi nasional, Better Life Indonesia kini menargetkan diri menjadi salah satu pionir startup pengelolaan minyak jelantah dan ekonomi sirkular di Indonesia.

Informasi yang dihimpun koransinarpagionline.com, Fajar Amali Kurniawan adalah mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) asli Majalengka yang menempuh pendidikan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK). Ia aktif dalam bidang konservasi laut serta dikenal sebagai penulis buku dan kreator dampak sosial.
Dirinya sempat meraih peringkat lima besar dalam ajang Pemilihan Duta Santri Nasional 2023. Telah menerbitkan beberapa karya buku solo dan antologi. Serta memiliki kefokusan dalam kegiatan lingkungan & sosial, seperti konservasi lingkungan perairan dan aktif dalam gerakan Ocean Young Guards.
Komunitas yang bertujuan mewadahi pemuda dalam aksi konservasi laut dan mitigasi perubahan iklim, sekaligus mengajak generasi muda dalam meningkatkan kepedulian terhadap degradasi ekosistem dan ancaman akibat perubahan iklim.








Komentar