Pewarta : Tim Liputan
Koran SINAR PAGI,Jakarta,- Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengungkapkan rencana pembangunan industri daur ulang (recycle industry) sampah elektronik di Indonesia. Brian mengatakan rencana ini merespons isu sampah elektronik di Indonesia, termasuk sampah smartphone.
Berdasarkan laporan The Global Waste Monitor 2024 dari United Nations Institute for Training and Research (UNITAR), produksi sampah elektronik Indonesia menjadi yang terbanyak di Asia Tenggara pada 2022. Dengan total e-waste ASEAN 4,4 juta ton, sebanyak 1,9 juta ton di antaranya dari Indonesia.
Sedangkan e-waste global 2022 mencapai 62 juta ton (Mt). Angka ini diproyeksi naik sekitar 32 persen menjadi 82 juta ton pada 2030.
Industri Daur Ulang Sampah Elektronik Berbasis Riset
Brian mengatakan program ini akan didukung penelitian agar jumlah sampah elektronik RI yang sangat besar tidak membahayakan masyarakat dan justru bisa menghasilkan nilai tinggi. Ia berharap penelitian ini bisa turut dikerjasamakan dengan peneliti, lembaga, dan pendanaan Uni Eropa melalui platform Euraxess.
“Jadi, recycle industry elektronik kita, kita sedang menjadikan satu pilot–kita sedang menyiapkan satu pilot, dan saya sangat menyambut baik. Bahkan jika memungkinkan, salah satu riset Euraxess mungkin dapat menyoal tentang pembangunan industri daur ulang sampah elektronik,” kata Brian di sela rangkaian RI-EU Science & Technology Collaboration Forum di Grha Diktisaintek, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (22/4/2026).
Ia menambahkan, pihaknya juga berharap dapat mengatasi limbah pemrosesan mineral dari industri pemrosesan. Isu ini rencananya akan menjadi tipe penelitian bersama, di samping isu daur ulang hasil limbah industri, daur ulang baterai, dan lainnya.
“Limbah pemrosesan mineral dari industri pemrosesan itu juga sangat banyak. Kita targetkan dalam waktu yang dekat, didukung oleh riset, kita ingin pembangunan industri yang recycle yang sangat memadai,” sambungnya.
Libatkan Karya Periset RI
Sementara itu, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Ditjen Saintek Kemdiktisaintek, Yudi Darma, mengatakan karya riset dari perguruan tinggi dan peneliti RI juga akan ditarik untuk merespons isu daur ulang sampah elektronik.
“Jadi pada prinsipnya, karya-karya penelitian yang sudah dihasilkan oleh kampus, peneliti kita, yang terkait dengan lingkungan tadi, itu akan kita kumpulkan, kita tarik,” ucapnya.
“Terkait dengan, misalkan, limbah-limbah, itu akan dikelola oleh pihak-pihak tertentu,” imbuh Yudi.
Penguatan Rekayasa Hijau
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, mengatakan pihak Uni Eropa juga bekerja sama dengan Indonesia untuk penguatan riset dan sumber daya manusia dalam bidang keberlanjutan. Termasuk di antaranya yakni green engineering.
Diketahui, melalui program 1.000 Green Engineers, RI-Uni Eropa bekerja sama melahirkan insinyur berwawasan lingkungan untuk mendukung transisi hijau, khususnya di sektor energi dan teknologi rendah karbon.
Program tersebut juga termasuk peluncuran platform informasi lowongan kerja, pendidikan tinggi, dan beasiswa bernama EU Green Engineering Hub untuk kuliah, pelatihan, dan kerja di bidang rekayasa hijau di Eropa.
“Jadi kami juga menantikan untuk berkolaborasi dengan Indonesia, sehingga kita bisa mendorong 1.000 insinyur hijau dan memastikan mereka berkontribusi untuk masa depan, tidak hanya di Eropa dan Indonesia, tetapi juga untuk seisi Bumi.








Komentar